Pertumbuhan Ekonomi ASEAN Lebih Lambat dari Prediksi ADB | SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Ilustrasi. (Foto: Dokumen Satukanal)
BERITA HIGHLIGHT ISU PILIHAN

Pertumbuhan Ekonomi ASEAN Lebih Lambat dari Prediksi ADB

SATUKANAL – Meski dinilai masih kuat, pertumbuhan ekonomi di Asia Tenggara lebih lambat dari dari yang diperkirakan. Dugaan ini terindikasi dari data paro pertama 2019.

Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) dalam laporan ASEAN GDP Growth 2019 menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai Kamboja (7 persen), disusul Laos (6,8 persen), Vietnam (6,5 persen), Filipina (6,2 persen), Indonesia (5,2 persen), Myanmar dan Malaysia (4,5 persen), Thailand (3,5 persen), Singapura (2,4 persen), dan Brunei (1persen).

Data terbaru ADB menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara kurang dari target. Sehingga, ada revisi penurunan perkiraan pertumbuhan.

Prediksi terbaru, pertumbuhan tersebut di angka 4,8 persen (2019) dan 4,9 persen (2020). Angka tersebut turun dari 4,9 persen dan 5,0 persen.

Sementara itu, inflasi regional untuk 2019 sekarang diperkirakan turun menjadi 2,4 persen dari perkiraan sebelumnya 2,6 persen.

Ekonomi di kawasan Asia Tenggara menghadapi dampak gabungan dari ketegangan perdagangan China dan Amerika Serikat, serta penurunan pasar elektronik. Meskipun, penurunan pasar ini sebagian diimbangi oleh permintaan domestik yang kuat.

Berdasarkan data Asian Development Outlook yang disusun ADB, Singapura, Thailand dan Filipina telah menyadari adanya penurunan produk domestik bruto (PDB) mereka dari tingkat pertumbuhan yang diperkirakan untuk 2019.

Sementara prospek untuk tiga Negara di ASEAN lainnya dalam laporan ini, tetap tidak berubah dari bulan April. Yakni Indonesia (5,2 persen), Malaysia (4,5 persen) dan Vietnam (6,8 persen).

“Bahkan ketika konflik perdagangan berlanjut, kawasan ini diatur untuk mempertahankan pertumbuhan yang kuat tetapi moderat,” kata Chief Economist ADB Yasuyuki Sawada.

“Namun, sampai dua negara ekonomi terbesar di dunia mencapai (sebuah) kesepakatan, ketidakpastian akan terus membebani prospek regional,” lanjutnya.

Konflik perdagangan berlarut-larut antara AS dan Cina dapat sangat merusak investasi dan mengganggu stabilitas pertumbuhan di kawasan Asia Tenggara. Selain itu, faktor-faktor lain seperti kenaikan harga minyak, depresiasi mata uang dan ketidakpastian seputar Brexit juga merupakan masalah penting seputar pertumbuhan ekonomi di ASEAN.

Ancaman lain terhadap kemajuan dan kemakmuran ASEAN mencakup masalah perubahan iklim dan risiko bencana alam. Kedua hal itu memiliki konsekuensi atau berpengaruh langsung pada orang miskin dan terpinggirkan di negara-negara berkembang secara tidak proporsional.

Meskipun ekonomi ASEAN tetap tangguh dalam menghadapi tantangan saat ini, kawasan ini harus tetap waspada jika ingin berhasil beroperasi dalam sistem perdagangan dan keuangan yang semakin terhubung.

Secara keseluruhan, memperkuat permintaan domestik akan mengimbangi pertumbuhan ekspor yang lebih lemah dan konsumsi yang kuat akan mendorong aktivitas ekonomi di ASEAN. Terutama, jika didorong oleh kenaikan pendapatan, inflasi yang lemah, dan pengiriman uang yang kuat.

Pewarta: (Mg) Amalia Nurin Nisa’
Redaktur: N Ratri
Sumber: theaseanpost

Kanal Terkait