Permintaan Sangkar Berbanding Terbalik Dengan Penjualan Burung - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Permintaan Sangkar Berbanding Terbalik Dengan Penjualan Burung
BERITA HIGHLIGHT

Permintaan Sangkar Berbanding Terbalik Dengan Penjualan Burung

SATUKANAL.com, MALANG- Sebuah toko sangkar burung yang didominasi dengan cat putih nampak sepi. Beberapa rumah burung tertata rapi, dikelompokan setiap ukurannya. Tidak ada sama sekali pembeli yang datang menghampiri. Hal tersebutlah yang dirasakan penjual sangkar burung saat ini.

Salah satu penjual sangkar, Desvin Renata yang berada di Desa Wajak, Kecamatan Wajak. Dia menerangkan jika penjualan masih stabil tanpa ada perubahan. Pandemi dikiranya tidak begitu mempengaruhi jumlah permintaan kreasi tangan ini. Jumlah barang yang berhasil dijual tetap sama.

“Permintaan sama saja dengan sebelum pandemi. Tidak ada bedanya,” ucapnya hari ini (26/4). Dalam seminggu, dia bisa menjual kurang lebih 4 sampai 5 saja. Jumlah itu normal jika dibandingkan sebelum masa pandemi datang.

Baca Juga :  Saat Pandemi, Ekspor Ikan di Jatim Kembali Meningkat

Dalam musim hujan seperti ini. Banyak kesulitan yang ditemui oleh pengrajin sangkar. Penjemuran yang memakan waktu lebih lama menyebabkan kurangnya effisiensi kerja. Penjemuran kandang untuk pengeringan yang biasanya dilakukan 2 hingga 3 hari. Bisa meningkat jadi seminggu lamanya.

Meski pembuatan semakin susah, harga yang dipatok terbilang tetap. Rata-rata barang yang ada bekisar dari Rp 75 ribu sampai 1,250 juta. Kualitas bahan dan ukuran menjadi pengaruh di dalamnya.

Baca Juga :  Resmi Dilantik Jadi Ketua DPRD Kabupaten 2019-2024, Darmadi : Tugas sudah menanti

“Saya harap sepinya pembeli bisa tertolong dengan penjualan online. Saya mau coba, sebelumnya tidak pernah karena belum sempat,” katanya.

Permintaan sangkar yang masih stabil, berbanding terbalik dengan peningkatan penjualan burung belakangan ini. Waktu yang banyak dihabiskan di rumah, berdampak pada meluasnya penghobi burung.

Meski begitu, mereka lebih memilih untuk merakit sendiri sangkar. Biaya yang lebih hemat dan bahan pilihan ditengarai sebagai alasan. Ia berharap agar penjualan sangkar bisa kembali ramai, sehingga berdampak pada kesejahteraan pengrajinnya.

 

 

 

Pewarta : Wildan Agta Affirdausy
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait