Perhatikan! Penggunaan Toa Masjid Ada Aturan Waktu dan Syaratnya - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Perhatikan! Penggunaan Toa Masjid Ada Aturan Waktu dan Syaratnya
BERITA HIGHLIGHT

Perhatikan! Penggunaan Toa Masjid Ada Aturan Waktu dan Syaratnya

SATUKANAL.com, NASIONAL– Penggunaan toa masjid untuk membangunkan sahur menjadi sorotan beberapa hari terakhir ini. Publik ramai memperbincangkan hal ini setelah adanya postingan salah satu artis yang vira di media sosial instagram.

Artis tersebut menuliskan kritikannya di media sosial terkait cara membangunkan sahur dengan cara berteriak melalui pengeras suara. Kritikan itu menimbukan banyak komentar dari para netizen. Ada  yang sepemahaman atau menolak mentah-mentah kritik tersebut.

Padahal, penggunaan toa Masjid atau pengeras suara ini sebenarnya telah diatur oleh Kementerian Agama (Kemenag). Aturan tersebut dituangkan dalam Surat Edaran Noor B.3940/DJ.III/Hk.00.7/08/2018 tentang Pelaksanaan Instruksi Dirjen Bimas Islam Nomor: KEP/D/101/1978 tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras suara di Masjid, Langgar dan Musholla.

Untuk lebih lengkapnya, ada syarat, waktu dan hal yang harus dihindari pada penggunaan toa di masjid. Berikut ulasannya:

Syarat Penggunaan Toa Masjid

Penggunaan toa Masjid ternyata tidak sembarangan. Ada persyaratan yang harus dipenuhi. Adapun syaratnya yakni:

  1. Perawatan pengeras suara dilakukan oleh seorang yang terampil, sehingga tidak ada suara-suara bising, berdengung, yang dapat menimbulkan anti-pati atau anggapan tidak teraturnya suatu masjid, langgar atau mushalla.
  2. Pengeras suara hendaknya digunakan oleh orang (muadzin, pembaca Qur’an, imam sholat, dan lain-lain) yang mempunyai suara fasih, merdu, enak, tidak cemplang, sumbang atau terlalu kecil. Hal ini untuk menghindarkan anggapan orang luar tentang tidak tertibnya suatu masjid dan bahkan jauh dari pada menimbulkan rasa cinta dan simpati yang mendengar selain menjengkelkan.
  3. Tidak boleh terlalu menggikan suara dooa, dzikir dan sholat.
  4. Orang yang mendengar berada dalam keadaan siap untuk mendengarnya, bukan dalam waktu tidur, istirahat, sedang beribadah, atau melakukan upacara. Dalam keadaan demikian, kecuali panggilan adzan, tidak akan menimbulkan kecintaan orang, bahkan sebaliknya. Berbeda dengan di kampung-kampung yang kesibukan masyarakat masih terbatas, maka suara-suara keagamaan dari dalam masjid, langgar dan mushalla selain berarti seruan taqwa, juga dapat dianggap hiburan mengisi kesepian sekitar.
  5. Sesuai tuntunan Nabi, suara adzan sebagai tanda masuknya salah memang harus ditinggikan, sehingga penggunaan pengeras suara tidak dapat diperdebatkan. Namun, perlu diperhatikan agar suara muadzin tidak sumbang, melainkan enak, merdu, dan syahdu.
Baca Juga :  Makin Ketat! Satgas Covid-19 Kembali Terbitkan Syarat Berpergian Pada 22 April-24 Mei 2021

Waktu Penggunaan Toa Masjid

Secara umum, suara yang disalurkan keluar Masjid hanya adzan sebagai tanda telah tiba waktu shalat. Ini ketentuannya:

1. Waktu Subuh

Pertama, sebelum waktu subuh, dapat dilakukan kegiatan-kegiatan menggunakan pengeras suara paling awal 15 menit sebelum waktunya, seperti pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dimaksudkan untuk membangunkan kaum Muslimin yang masih tidur, guna persiapan shalat, membersihkan diri, dan lain-lain. Kedua, kegiatan pembacaan Al-Qur’an dan adzan waktu subuh dapat menggunakan pengeras suara keluar. Sementara sholat subuh, kuliah subuh, dan semacamnya, jika perlu menggunakan pengeras suara, hanya ditujukan ke dalam saja.

Baca Juga :  Polri Tetapkan Jozeph Paul Zhang Sebagai Tersangka

2. Waktu Dzuhur dan Jum’at

Lima menit menjelang dzuhur dan 15 menit menjelang waktu dzuhur dan Jum’at supaya diisi dengan bacaan Al Qur’an yang ditujukan keluar. Ini juga berlaku bagi suara adzan jika telah tiba waktunya. Bacaan sholat, do’a, pengumuman, khutbah, dan lain-lain menggunkaan speaker dalam.

3.Asar, Magrib dan Isya

Lima menit sebelum adzan pada waktunya, dianjurkan membaca Al Qur’an. Saat datang waktu shalat, dilakukan adzan dengen pengeras suara keluar dan ke dalam.

4.Takbir, Tahrim dan Ramadhan

Takbir Idul Fitri, Idul Adha dilakukan dengan pengeras suara keluar. Pada Idul Fitri, dilakukan malam 1 syawal dan hari 1 syawal. Sedangkan pada Idul Adha, dilakukan empat hari berturut-turut sejak malam 10 Dzulhijjah. Tarhim yang berupa doa menggunakan pengeras suara dalam, dan tarhim berupa dzikir tak menggunakan pengeras suara. Pada bulan Ramadhan, bacaan Qur’an dapat ditujukan ke dalam seperti tadarrusan dan lain-lain.

5.Upacara Hari Besar Islam dan Pengajian

Tabligh pada hari besar Islam atau pengajian harus disampaikan muballigh dengan memperhatikan kondisi dari jamaah. Tabligh atau pengajian hanya menggunakan pengeras suara ke dalam dan tidak untuk keluar, dikecualikan apabila pengunjung tabligh atau hari besar Islam memang melimpah keluar.

 

 

 

Pewarta : Adinda
Editor : Redaksi Satukanal

 

Kanal Terkait