Pengaruh Media Sosial Disebut Buruk pada Mental Orang Indonesia, Mengapa? - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Pengaruh Media Sosial Disebut Buruk pada Mental Orang Indonesia, Mengapa?
ilustrasi media sosial (Foto: Pixabay.com)
BERITA Kanal Artikel

Pengaruh Media Sosial Disebut Buruk pada Mental Orang Indonesia, Mengapa?

Satukanal.com, Nasional– Pengaruh media sosial pada mental seseorang menjadi topik yang sering dibahas banyak orang akhir-akhir ini. Apalagi dengan banyak kasus yang terjadi karena media sosial.

Media sosial seakan menjadi hal yang tak bisa dipisahkan dari keseharian setiap orang saat ini. Semua kegiatan, seperti memasak, jalan-jalan dan kegiatan lainnya kerapkali diposting di media sosial. Mereka pun akan saling menanggapi satu sama lain, memberikan komentar ataupun sekedar menekan tombol suka pada postingan tersebut.

Kebiasaan berselancar di media sosial ini secara tidak langsung berpengaruh pada kesehatan mental seseorang. Hal ini dijelaskan dalam sebuah penelitian dari University of Manchester yang dipublikasikan di International Journal of Mental health and Addiction dengan judul “A Tool to Help or Harm? Online Social Media Use and Adult Mental Health in Indonesia”.

Dalam penelitian itu disebutkan bahwa penggunaan media sosial berkontribusi terhadap kesehatan mental yang buruk di Indonesia. Pernyataan ini pun diketahui dari penelitian mereka mengenai efek spesifik media sosial pada kesehatan mental di negara berkembang.

Para peneliti mengkaji pengaruh media sosial daring (Facebook, Twitter dan Chat) terhadap kesehatan mental orag dewasa di Indonesia. Kemudian, mereka menganalisis data yang berasal dari Indonesia Family Life Survey (IFLS) 2014 yang menyurvei 22.423 individu berusia 20 tahun ke atas di 9.987 rumah tangga dan 297 kabupaten di Indonesia.

Baca Juga :  Sebelum Meninggal, Vanessa Angel Sempat Unggah IG Story Bersama Sang Anak

Hasilnya bahwa penggunaan media sosial membahayakan kesehatan mental orang dewasa. Peningkatan satu standar deviasi dalam penggunaan media sosial oleh orang dewasa dikaitkan dengan peningkatan 9 persen dalam skor CES-D (Center for Epidemiologic Studies Depression Scale) yang merupakan alat ukur untuk gejala depresi.

Peneliti menjelaskan, bahwa efeknya kuat sehubungan dengan serangkaian luas kovariat individu, rumah tangga, komunitas, dan distrik. Dari hasil temuan, muncul saran bahwa penggunaan media sosial secara bijaksana diperlukan untuk melindungi orang dewasa dari efek berbahaya media sosial daring pada kesehatan mental mereka.Apalagi, media sosial sangat populer di Indonesia.

Facebook melaporkan total 54 juta pengguna individu di Indonesia, menjadikannya negara pengguna Facebook terbesar keempat di dunia. Sementara Twitter melaporkan 22 juta pengguna Indonesia, menempatkan negara ini di tempat kelima di seluruh dunia. Twitter juga melaporkan bahwa rata-rata pengguna Indonesia mempublikasikan total 385 ‘Cuitan’ per detik.

Angka tersebut menunjukkan seberapa besarnya warga Indonesia berhubungan erat dnegan media sosial di kesehariannya. Hal ini bisa memberikan dampak buruk bagi kesehatan mental seseorang. Seseorang akan cenderung untuk membanding-bandingkan dirinya dengan apa yang ditampilkan orang lain di media sosial.

Beban psikis pun bisa timbul kapan saja. Akibatnya, banyak ketidakpuasaan dalam diri yang bisa menyebabkan terjadinya gangguan mental ataupun gangguan jiwa.

Baca Juga :  Tidur Sambil Duduk Berbahayakah Bagi Kesehatan? Simak Faktanya

Padahal, gangguan jiwa menjadi beban utama di negara berkembang ini. Menurut survei Riset Kesehatan Dasar Indonesia terbaru 2018, prevalensi individu dengan gangguan jiwa di tanah air diperkirakan 11,8 juta orang, dilansir dari National Geographic Indonesia. 

Para peneliti mengatakan bahwa tingkat ketidaksetaraan yang tinggi di Indonesia yang disorot di media sosial telah menyebabkan kecemburuan dan kebencian. Hal itu terjadi saat orang lain melihat gambar yang diunggah ke media sosial dan menunjukkan kesan bahagia dan positif tentang bagaimana orang lain hidup.

Ketimpangan di Indonesia telah meningkat pesat sejak tahun 2000 dan negara ini memiliki pertumbuhan ekonomi tercepat ketiga di antara negara ekonomi G20. Hal itu membuat kelas konsumen yang meningkat yang sangat kontras dengan mereka yang berpendidikan lebih rendah atau tidak bisa mendapatkan pekerjaan.

Alih-alih hanya untuk bersenang-senang, transisi Indonesia menuju demokrasi juga dimainkan di media sosial dengan hasil negatif. Hiruk-pikuk berita tentang kegagalan pemerintah, korupsi, kejahatan, konflik, dan kemiskinan diperkuat di media sosial setiap hari, memberikan sedikit pelarian bagi masyarakat Indonesia.

“Kami ingin melihat pejabat kesehatan masyarakat berpikir kreatif tentang bagaimana kami dapat mendorong warga untuk beristirahat dari media sosial atau menyadari konsekuensi negatif yang dapat ditimbulkannya pada kesehatan mental,” kata Tampubolon dalam rilis University of Manchester.

 

 

 

Pewarta : Adinda

Kanal Terkait