SATUKANAL.COM
kota wisata
BERITA HIGHLIGHT RISET

Ekonomi Tumbuh, Sektor Pariwisata Belum Banyak Andil di Kota Malang

SATUKANAL, MALANG – Mengaku sebagai kota wisata, Kota Malang mengalami pertumbuhan ekonomi 5,73 persen sepanjang 2019 lalu. Meski demikian, sektor pariwisata justru belum masuk daftar penyumbang utama penggerak roda ekonomi di wilayah tersebut.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mencatat Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Malang pada 2019 mencapai Rp 72,77 triliun atas dasar harga berlaku (ADHb) dan Rp 52,34 triliun atas dasar harga konstan (ADHk).

Dari angka itu, distribusi untuk kategori penyedia akomodasi dan makan minum mencapai 5,17 persen atau Rp 3,76 triliun. Sementara jasa wisata selain penginapan dan restoran masih belum masuk daftar.

Kontribusi tertinggi yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Malang pada 2019 justru berasal dari sektor perdagangan sebesar 29,46 persen, industri 25,73 persen, dan konstruksi sebesar 12,61 persen.

Sementara untuk pertumbuhan tertinggi terhadap PDRB Kota Malang pada 2019, tercatat berasal dari sektor jasa kesehatan yang tumbuh sebesar 9,62 persen, diikuti sektor akomodasi dan makan minum sebesar 8,70 persen, dan sektor konstruksi 8,40 persen.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang, Ida Ayu Made Wahyuni mengungkapkan bahwa pihaknya masih terus melakukan peningkatan kualitas.

Disporapar saat ini tengah mendorong para pelaku usaha di Kota Malang untuk mendapatkan sertifikasi usaha jasa wisata. Adanya sertifikasi tersebut, dinilai bakal meningkatkan kualitas pariwisata di kota bunga ini.

Ida Ayu juga menyebut bahwa sertifikasi diyakini mampu meningkatkan jumlah pengunjung atau wisatawan. Terutama dalam meningkatkan keamanan dan kenyamanan wisatawan itu sendiri.

“Pelayanan industri wisata saat ini terus dibenahi. Pemerintah pusat pun menargetkan, lima tahun ke depan layanan wisata di seluruh daerah Indonesia semakin berkualitas,” ujar Dayu, sapaan akrabnya.

Dia menekankan, bukan hanya jumlah kunjungan wisatawan saja yang menjadi konsentrasi dinas. “Kualitas saat ini lebih diutamakan,” katanya.

Dayu menjelaskan, ketika wisatawan bertahan lebih lama, maka jumlah perputaran uangnya pun akan lebih banyak. Kondisi itu akan berpengaruh besar dalam penambahan devisa. Ujungnya, akan turut menyumbang pembangunan setiap daerah.

Dengan standar yang ditetapkan, dia pun mendorong agar seluruh usaha pariwisata melakukan sertifikasi. Karena itu akan menambah kepercayaan konsumen juga wisatawan.

Di Kota Malang sendiri, saat ini memang belum banyak perusahaan yang memegang sertifikasi usaha jasa wisata. Disporapar pun saat ini kembali melakukan pendataan ulang untuk mengetahui mana saja industri yang belum memiliki sertifikasi.

“Mungkin juga ada beberapa kesulitan. Nanti akan kami dorong supaya bisa menghubungi dinas terkait. Karena saat ini semuanya bisa diurus online melalui Online Single Submission,” terang Dayu.

Redaktur: N Ratri

Kanal Terkait