Pelaku Usaha, Siasati Lonjakan Harga Bahan Baku Kedelai | SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Pelaku Usaha, Siasati Lonjakan Harga Bahan Baku Kedelai
BERITA COVID-19 HIGHLIGHT STRAIGHT NEWS

Pelaku Usaha, Siasati Lonjakan Harga Bahan Baku Kedelai

Satukanal.com, Kediri – Para pelaku usaha industri, produksi tahu dan tempe di wilayah Kediri, ikut merasakan dampak kenaikan harga bahan baku kedelai impor, yang ramai dibicarakan pada beberapa pekan terakhir.

Sebagian besar, mereka (pengusaha tahu) harus memotong angka produksi, ukuran produk dan mengurangi jumlah pekerja. Selain itu, dampak pandemi yang juga masih belum berakhir menjadi permasalahan lanjutan terkait pemasaran produk.

“Dulu saat keadaan normal untuk memproduksi, kami bisa mengolah sekitar 2,5 ton dalam sepekan, sekarang hanya 1,5 ton saja. Kami memasok kedelai sesuai dengan pendapatan yang diterima dan permintaan pasar. Sekarang hanya memproduksi sekitar separuh dari hari biasa,” kata pemilik industri tahu populer di Kampung Tahu Kelurahan Tinalan, Kota Kediri, Jawa Timur, Slamet Widodo (30).

Dirinya mengaku, peningkatan harga dirasakan sejak beberapa bulan di akhir tahun 2020. Saat libur Hari Raya Natal dimulai harga sudah melonjak mencapai Rp 8.300 dan akhirnya mencapai Rp 9.100 pada libur Pergantian Tahun 2021.

Baca Juga :  Kelurahan di Kota Kediri Siap Tampung Pemudik Yang Tak Bawa Hasil Rapid Antigen

Untuk mensiasati potensi kerugian, dirinya mengurangi takaran bahan baku kedelai dalam industri produksi tahu. Peningkatan harga kedelai ini menurutnya sudah menurunkan pendapatan sekitar 50 persen lebih jika dilihat dari kapasitas produksi yang berkurang dalam beberapa pekan terakhir.

Selain industri produksi tahu, kenaikan bahan baku kedelai juga dirasakan para industri produsen Tempe di wilayah Kediri. Ropingi (48), dari Kelurahan Tempurejo Kota Kediri, menjelaskan kenaikan harga kedelai terjadi secara bertahap mulai bulan Oktober 2020.

Menurut Ropingi, kenaikan terjadi sedikit demi sedikit hingga mengalami lonjakan secara spontan pada akhir tahun 2020. “Kalau normal dulu Rp 6.800 sampai Rp 6.900, lalu meningkat perlahan dan akhir Desember 2020 melonjak sampai Rp 9.100 sampai Rp 9.200 perkilogram,” ungkapnya.

Baca Juga :  Awas!! Kasus Penipuan Online, Terus Meningkat di Masa Pandemi

Kenaikan terjadi karena pasokan yang semakin menipis, dikatakan pasokan sempat terhenti karena distribusi dari pelabuhan terganggu. Akibat kenaikan dan dampak pandemi Covid-19, dirinya harus mengurangi karyawan agar beban produksi tidak terlalu besar.

“Ketika tidak ada pandemi kami bisa mempekerjakan 4 orang, lalu kami kurangi 1 pada saat awal pandemi lalu. Sekarang tinggal 2 pekerja saja, 1 orang harus berhenti untuk menekan pengeluaran,” tambahnya.

Pada awal tahun ini Ropingi bersama istrinya harus turun tangan pada produksi untuk menyiasati kenaikan harga kedelai. Dia juga harus mengurangi sekitar 50 persen produksinya untuk meminimalisir kerugian.

 

 

 

Pewarta : Anis Firmansah
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait