Pandakwah dan Penulis Cilik yang Gabungkan Tiga Bakat Kakaknya - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Pandakwah dan Penulis Cilik yang Gabungkan Tiga Bakat Kakaknya
M. Zaidan Al-Ghozi Fillah bersama sejumlah piala dan medalinya (Foto: Chosa Setya/ Satukanal.com)
BERITA Kanal Figur Kanal Highlight

Pandakwah dan Penulis Cilik yang Gabungkan Tiga Bakat Kakaknya

Zaidan Al-Ghozi Fillah adalah sosok penulis cilik yang produktif dan berprestasi. Dia sudah menghasilkan 21 karya: essai, cerpen hingga novel anak-anak. Pada usia 12 tahun, Zaidan mempunyai penghasilan sendiri dari buku-buku yang telah diterbitkannya. Rutinitas pagi menjadi modal raih segudang prestasi.

Satukanal.com, Malang Chosa Setya Ayu Widodo

Pintu Exit Tol Madyopuro tampak lengang. Sedikit menepi dari hingar bingar Kota Malang. Memasuki kawasan perumahan Oma View, wartawan Satukanal.com disambut senyum ramah Ny Yuyus Robentien.

“Monggo naik aja mbak, enak ngobrol di atas,” sambut Yuyus di pintu kediamannya Jl Band. Palmerah Raya XX, Blok U Nomor 6-A, Kelurahan Cemorokandang, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang.

Seorang anak lelaki yang beranjak dewasa mengiringi sambutan hangat sang ibunda. Anak laki-laki itu, M. Zaidan Al-Ghozi Fillah, terus mengumbar senyum tatkala Yuyus menceritakan perjalanan karirnya.

Zaidan sendiri merupakan putra bungsu dari empat bersaudara dari pasangan Bambang Waluyo dan Yuyus Robentien. Menariknya, kelebihan yang dimiliki Zaidan ini merupakan gabungan bakat dan prestasi yang dimiliki ketiga kakaknya.

Yuyus menceritakan, Hanina Nufikriyah Hierofani anak pertamanya seorang sarjana psikologi yang cukup mahir dalam public speaking. Inilah yang menjadi bekal bagi Zaidan untuk menjadi seorang pendakwah cilik.

Lantas, segudang prestasi dalam Olimpiade Science hingga tingkat internasional Zaidan, merupakan bakat turunan dari sang kakak kedua Muhammad Jundy Ashari.

Kemudian, menjadi seorang penghafal Al-Qur’an di usianya yang masih belia menurun dari sang kakak ketiga; Rizky Khansa Najibah yang merupakan Hafidzah dan kini tengah menempuh pendidikan di sebuah Pondok Pesantren di Klaten, Jawa Tengah.

Sedangkan, sebagai penulis Zaidan mengambil bakat dari kedua kakaknya; Jundy dan Khansa yang tak pelit membagi bakat menulisnya kepada sang adik.

Zaidan menceritakan, kerap kali belajar besama dengan ketiga kakaknya, meski kini memiliki kesibukannya masing-masing. ”Sering sharing belajar bareng, apalagi kalau mau ada lomba. Biasanya ikut mengoreksi materi atau ngasih cara-caranya,” ceritanya, sembari tersipu malu.

Baca Juga :  Kuatkan Ekonomi Kerakyatan, Walikota Sutiaji Launching Gerakan Sobo Pasar

Sudah 21 karya ditulis siswa yang hobi membaca buku ini. Mulai dari karya rubrik dalam majalah, essai, cerpen hingga novel anak-anak. Bahkan, kini pada usianya yang masih 12 tahun, Zaidan mempunyai penghasilan sendiri dari buku-buku yang telah diterbitkannya.

Dia mengaku, menulis sudah menjadi bagian dalam hidupnya. Baginya setiap ide akan cepat hilang digerus waktu, jika tidak dituangkan dalam tulisan. Zaidan menceritakan, tiap kali ide itu datang, dia selalu menyempatkan untuk menuliskannnya dalam selembar sticky notes agar tidak lupa.

”Kalau dulu sebelum bisa ngetik di laptop, ditulis tangan dulu. Baru ummi yang ngetikkan,” ujarnya.

Aktivitas Zaidan sudah dimulai sejak dini hari. Yuyus memang membiasakan putra-putrinya untuk bangun di sepertiga malam guna menunaikan Ibadan sholat tahajud berjamaah.

Selain untuk mendekatkan diri kepada sang empunya hidup dalam ajaran agama islam, menurutnya rutinitas ini dapat memupuk kedekatan anak bersama kedua orangtuanya.

”Biasanya setelah sholat tahajud hafalan Qur’an dulu sampai Subuh, karena suasanannya tenang jadi bisa cepat hafal. Baru setelah sholat setor ke pembimbing Qur’an terus belajar,” terang Yuyus.

Saat ini, Zaidan sudah menghafal sebanya 12 Juz yakni Juz 1 hingga 7, serta Juz 26 hingga 30. Hal ini merupakan buah manis dari ketelatenan Yuyus dan suami untuk memberikan pembiasaan Qur’an kepada anak-anaknya sejak usia dini.

Tanpa ada unsur paksaan sejak balita, Zaidan sudah mampu membaca ayat suci Al-Qur’an. Meski punya aktifitas yang cukup padat, bukan berarti Zaidan tak bisa menikmati masa kecilnya. Dia pun mempunyai cukup banyak teman dari berbagai lingkungan.

Dari Sekolah, lingkungan rumah, hingga rekan seperjuangannya ketika berkompetisipun kini bersahabat baik dengannya. Diceritakan Yuyus, Zaidan memang sosok yang mudah akrab dengan orang lain. Dia sangat suka dengan suasana dan mengenal orang-orang baru.

Baca Juga :  Pokdarwis Koeboeran Londo Selenggarakan Ritual Hana O Maku di Tugu Jepang

Sudah berkompetisi sejak duduk di bangku taman kanak-kanak (TK) membuat Zaidan punya banyak pengalaman dari berbagai kompetisi. Dia menceritakan pernah ada satu momen yang tak bisa telupakan baginya.

Saat itu, Zaidan mengikuti kompetisi menulis dalam Festival Literasi Nasional ketika dia duduk dibangku kelas 4 SD. ”Waktu itu disuruh nulis dadakan dengan tema milih antara permainan tradisional atau makanan tradisional. Akhinya milih makanan tradisional karena ingat Nogosari buatan nenek pas waktu kecil,” jelasnya.

Karya tulis yang merceritakan tentang seorang anak yang malu dengan pekerjaan orangtuanya ini mampu mengantarkan Zaidan menjadi Juara 3 Lomba Menulis Cerpen pada Festival dan Lomba Literasi Nasional (FL2N) Kemendikbud tahun 2018 silam.

Yuyus menuturkan dalam setiap perlombaan, Zaidan selalu didampingi oleh sang ayah. Bukan tanpa alasan profesinya sebagai seorang pendidik membuat Yuyus tak bisa sering mendampingi putranya.

Namun karena kedekatannya dengan umminya, Zaidan selalu menyempatkan untuk melakukan panggilan video dengannya tiap akan berjuang dalam setiap kompetisi.

Hobinya yang gemar membaca, membuat Zaidan mampu menemukan berbagai ide dalam setiap tulisannya. Terkadang Yuyus mengungkapkan ada ketakutan tersendiri ketika Zaidan lebih dahulu mengerti tentang isu-isu yang global dibanding dirinya.

”Kadang saya komentar, lho dek itu kan isunya biasanya orang dewasa yang faham, kalau salah berkomentar dampaknya tidak main-main. Tapi dia selalu mampu menenangkan saya,” ujar Yuyus.

Zaidan pun mampu memberi alasan logis atas isu yang dia pahami. Dengan kemampuan daya tangkapnya yang cepat, Zaidan dapat memilah dengan baik isu yang perlu bagi anak seusianya dan tak patut bagi anak seusianya. Tentunya dengan pengawasan penuh dari Yuyus dan Bambang.

 

 


Editor : Danu Sukendro

    Kanal Terkait