Pameran UMKM, Produk Kerajinan Tangan Masih Kalah Saing dengan Kuliner | SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
WhatsApp Image 2019-12-16 at 21.32.25 (2)
Salah satu stan kerajinan tangan di Pameran UMKM Kabupaten Kediri. Foto: Isna
BERITA STRAIGHT NEWS

Pameran UMKM, Produk Kerajinan Tangan Masih Kalah Saing dengan Kuliner

SATUKANAL, KEDIRI – Puluhan stan Usaha Kecil Menengah (UKM) memenuhi lapangan Desa Karangtalun, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri sejak Sabtu hingga Senin (14-16/12/2019).

UKM binaan Dinas Perdagangan maupun Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Diskopusmik) tersebut tengah memamerkan karyanya pada gelaran Pameran Produk UMKM.

Setidaknya ada 50 unit stan yang memenuhi area lapangan di jalan menuju arah Tulungagung tersebut. Mulai dari stan kuliner, agrobisnis, hingga kerajinan tangan seperti kain batik dan karya dari bambu dan kayu.

Staff Bidang Pembiayaan dan Pemasaran Diskopusmik Kabupaten Kediri Toni Saptono menyebut gelaran pameran ini merupakan bentuk perhatian terhadap pelaku UKM.

“Kami menyadari UKM itu jarang tersentuh, apalagi yang usaha mikro. Rata-rata kurang untuk biaya promosi. Pameran ini menjadi langkah Diskopusmik untuk menjembatani memperkenalkan produknya,” jelas Toni saat ditemui Satukanal.com di area  pameran.

Diskopusmik menyadari, kesadaran masyarakat akan nilai seni belum tinggi. Hal tersebut juga tampak dari pengunjung yang lebih memadati stan kuliner atau minuman kemasan ketimbang stan kerajinan tangan.

“Sebetulnya ini tidak hanya tanggung jawab kami, tapi juga semua sektor masyarakat, baik dinas, pemerintah, maupun masyarakat agar menyadari bahwa produk UKM bukan hanya kuliner,” tegasnya.

Hal tersebut diamini oleh salah satu perajin bambu, Imam Suhadi. Pada pameran tersebut, Imam memamerkan produk unggulannya, yaitu kopiah dari bambu. Namun, ia menyebut antusias masyarakat terhadap produk seni belum tinggi.

“Masyarakat masih sulit memberi nilai terhadap barang seni. Apalagi kalau sampai untuk menjual lagi, masyarakat masih ragu, takut apakah bakal laku,” ujar pensiunan guru seni budaya di SMP Terbuka di Kabupaten Probolinggo ini.

Bahkan, Imam kerapkali menawarkan pelatihan membuat kerajinan bambu secara gratis pada warga di sekitar rumahnya. Namun, mereka menolak. “Justru yang datang dari jauh, dari Pasuruan, Probolinggo, datang ke sini untuk belajar,” imbuh Imam.

Imam mulai menekuni produk kopiah bambu sejak enam bulan lalu. Namun, terhitung sejak 2007, ia rutin mengikuti pameran produk seni di Jakarta. Dalam setahun, ia dua kali hadir ke ibukota untuk mengikuti pameran seni mewakili Dinas Pendidikan tempatnya bekerja sebagai guru.

Kini, sejak pensiun, ia menghabiskan waktunya untuk berkreasi dengan bambu. Idenya membuat kopiah lantaran merasa produk bambu berupa peralatan rumah tangga sudah banyak ditemui. Dalam sehari ia bisa memproduksi hingga 7 kopiah.

“Yang lama menganyamnya. Butuh waktu tiga hari untuk membuat anyaman dasar ukuran 50cm x 60 cm. Lembaran ini nanti yang akan dibentuk menjadi kopiah,” tutur pria asal Desa Kanigoro, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri ini.

Produk-produk kreatif kerajinan tangan sangat potensial untuk bersaing dengan produk UKM lain. Sejauh ini, pendampingan terhadap pelaku UKM sudah dilakukan, baik  oleh Diskopusmik maupun dinas terkait lain.

“Karena instruksi bupati agar memberdayakan semua pihak, terutama kalangan menengah ke bawah,  jadi pelatihan dan pendampingan terhadap UKM terus kami jalankan,” imbuh Toni.

Pameran UMKM seperti ini sudah dirintis Diskopusmik sejak 2016. Dalam setahun, setidaknya ada empat agenda rutin, yakni saat peringatan hari jadi Kabupaten Kediri, pekan budaya tahunan, even satu Syuro, dan Festival Kelud tahunan.

Meski demikian, tidak menutup kemungkinan desa mengajukan proposal kepada Diskopusmik untuk mengajukan pameran UMKM di desanya. Toni berharap, melalui pameran ini, pelaku UKM bisa lebih meningkatkan daya saing. “Karena di pameran ini ada produk sejenis, misalnya perajin bambu ada lebih dari satu, istilahnya tukar kaweruh untuk meningkatkan kreativitas antarpelaku UKM,” harapnya.

Ia juga berharap, masyarakat dapat lebih mengenal produk masyarakat Kabupaten Kediri. “Kalau masyarakat tidak mengenal, bagaimana mau ke pasar yang lebih luas lagi?” pungkasnya. (adv)

Kopiah dari bambu karya Imam Suhadi warga Desa Kanigoro, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri. Foto: Isna

Pewarta: Isnatul Chasanah

Redaktur: N Ratri

    Kanal Terkait