SATUKANAL.COM
Padi Gajah
Foto Padi Gajah di Lokasi Riset Ponpes Pari Ulu
BERITA HIGHLIGHT RISET STRAIGHT NEWS

Padi Gajah Hasil Riset Ponpes di Kediri Ini Memiliki Tinggi 180 cm

SATUKANAL, KEDIRI – Padi Gajah Hasil Riset Ponpes di Kediri. Di Kabupaten Kediri ada Sebuah Pondok Pesantren pembudidaya tanaman padi varietas yang sangat berbeda dengan padi biasa yang ditanam para petani pada umumnya.

Bagaimana tidak, tanaman padi yang di kembangkan KH Mustain Anshori, pengasuh Pondok Pesantren Pari Ulu Desa Sumber Cangkring, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri ini memiliki ukuran tiga kali lipat dari padi pada umumnya.

Tidak hanya batangnya saja yang besar, sepenuturan Kyai Mustain, bulir padinya pun juga lebih banyak dari padi konvensional.

“Hasilnya, beberapa kali saya panen itu bisa tiga kali lipat dari padi pada umumnya,” jelas Kyai Mustain saat ditemui Satukanal.com di Laboratorium risetnya yang ada di Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri, Kamis (19/3/2020).

Padi tersebut oleh Kyai Mustain diberi nama Padi Gajah.

Nama itu ia ambil dari pengelihatan kasat mata padi tersebut yang memang sangat besar dan setinggi badan orang dewasa.

Bahkan, saat diukur padi tersebut memiliki tinggi 180 cm.

“Dikembangkan sejak 2011, sampai sekarang sudah 10 tahun, sudah stabil sebenarnya, namun saat ini masih dalam pengembangan,” katanya.

Tak sampai di situ, Kyai Mustain menyebut, padi gajah itu selama proses riset tidak diserang hama apapun kecuali tikus dan burung pipit.

Baca Juga :  Pasien Positif Corona Rujukan Kabupaten Blitar Kondisinya Membaik

“Keunggulan lainnya padi ini tak diserang virus dan hama. Hanya saja ada hama pengganggu tikus dan burung pipit yang sampai sekarang masih menjadi persoalan dalam pengembangan kami,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan, untuk penanaman, padi ini agak lebih rumit dari tanaman padi yang umum dipakai petani.

Perbedaan tersebut ada pada pengondisian tanah yang harus benar-benar dihitung kadar kandungan tanahnya.

“Tanah harus kita kondisikan, mulai dari berat jenis tanah itu disesuaikan dengan volume sawah. Kemudian berat isi kita hitung disesuaikan. Kadar air tanah kita hitung disesuaikan juga, PH tanah juga kita hitung. Saya ibaratkan tanah itu seperti lambung. Oleh karenanya, dikondisikan seperti itu dipupuk dengan kompos kotoran Ayam, Sapi, Kambing biar stabil,” tuturnya.

Yang berat dari penanaman tersebut ada pada pembiaran tanah selama 1 bulan lebih, tidak ditanami hanya dibajak dan dipupuk kompos saja.

“Kemudian terhadap penyediaan kita biarkan selama sebulan, hanya dibajak dan diairi serta dibiarkan dulu kosong baru ditanami,” ungkapnya.

Kyai Mustain juga bercerita latar belakang ia membuat riset hingga menemukan padi tersebut.

Berawal dari keresahannya akan lahan sawah yang semikin sempit serta para petani yang meninggalkan budaya tanam leluhur, lebih memilih berpaling menggunakan pupuk kimia yang berbahaya untuk kesehatan.

Baca Juga :  Tenaga Medis di Kabupaten Kediri Kekurangan APD

“Tujuan saya ini untuk kerakyatan, karena seperti diketahui, lahan semakin berkurang jumlah penduduk semakin bertambah, jika kita tetap mempertahankan padi pada umumnya itu maka pasti akan impor terus.” katanya.

“Biar tidak impor tujuan saya ini bisa dipakai petani dan bisa mendapati hasil yang berlipat?” lanjutnya.

Ia juga mengklaim, dari sisi penanaman, padinya itu juga sangat sehat untuk dikonsumsi. Karena memang 100 persen tak menggunakan bahan kimia setetes pun.

“Dari sisi pola penanaman juga lebih sehat, ini pure organik dalam metode penanamannya, Cuma memang tidak 200 persen karena masih mengambil air dari aliran sawah lainnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menambahkan seharusnya penyebab penyakit bukan dari apa yang dimakan manusia melainkan dari pola penanaman yanng dilakukan manusia itu sendiri yang menggunakan bahan kimia berlebihan.

“Kata orang memakan nasi itu menyebabkan gula, diabet lah atau yang lainnya, saya kira tidak dari nasinya tetapi dari sintetis atau senyawa kimia dari proses penanamannya itu yang menyebabkan sakit,” tuturnya.

“Makanya ini saya buat organik dengan harapan ini lho makanan manusia yang sebenarnya, yang benar-benar sehat dan aman. Makanya dengan kondisi ini petani bisa mendapat hasil berlipat dan tidak berbahaya bagi kesehatan,“ pungkasnya.

Pewarta : Muchlis Ubaidhillah

Editor : Heryanto

    Kanal Terkait