OTG Virus Korona Yang Berbicara di Ruang Tertutup Disebut Sangat Berisiko. Begini Ulasannya - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
OTG Virus Korona Yang Berbicara di Ruang Tertutup Disebut Sangat Berisiko. Begini Ulasannya
BERITA HIGHLIGHT STRAIGHT NEWS

OTG Virus Korona Yang Berbicara di Ruang Tertutup Disebut Sangat Berisiko. Begini Ulasannya

SATUKANAL.com, NASIONAL– Ada riset yang menyebut jika berbicara dengan orang yang terinfeksi virus korona tanpa gejala (OTG) berisiko tertular. Efek yang ditimbulkan pun sama berbahayanya ketika mereka batuk.

Pernyataan tersebut dibenarkan oleh Dicky Budiman selaku Peneliti Global Health Security & Pandemic Griffith University Australia. Ia menyebut, seseorang yang berbicara dengan orang yang terpapar covid-19 namun tanpa gejala (OTG) memiliki risiko tertular yang besar. Apalagi, kata nya, jika aktivitas tersebut dilakukan dengan tidak menjaga jarak dan berada di ruangan tertutup.

Sebelumnya ada temuan riset sejumlah peneliti di Universitas Cambridge, Inggris yang menyatakan jika seseorang yang terinfeksi virus korona bisa sama berbahayanya dengan saat mereka batuk.

Dalam riset tersebut disebutkan, risiko penularan penularan virus korona muncul saat OTG tersebut berbicara dan mengeluarkan droplet atau cairan. Droplet ini kemudian menjadi partikel kecil yang mengering, menyebar atau tertahan di udara, dan dapat bergerak sejauh dua meter dalam hitungan detik.

“Anda perlu masker, jaga jarak, dan ventilasi yang baik sehingga partikel-partikel ini tidak menumpuk di dalam ruangan dan mereka bisa dihilangkan secara aman,” kata Pedro Magalhães de Oliveira, ahli mekanika fluida di Universitas Cambrige, seperti dikutip dari The Guardian.

Baca Juga :  4 Tips Olahraga Agar Tubuh Tetap Bugar Saat Puasa

Lebih lanjut, Tim riset melakukan pemodelan terkait dengan risiko infeksi virus korona di dalam ruangan. Mereka melakukan simulasi yang menghabiskan satu jam di toko seluas 250 meter persegi dengan kapasitas maksimum 50 orang dan ventilasi setara perkantoran, maka seseorang memiliki risiko sekitar delapan persen tertular. Asumsinya, ada lima orang yang terinfeksi di toko dan tidak ada yang memakai masker.

Sementara itu jika ventilasi  ruangan ditambah dan sirkulasi udara dapat terjadi sebanyak lima kali dari sebelumnya, maka risiko penularan covid-19 bisa berkurang menjadi di bawah tiga persen. Penurunan yang sama juga dapat terjadi apabila semua orang memakai masker tiga lapis.

Senada dengan temuan itu, menurut Dicky meknisme penularan virus ini terdiri dari tiga hal yaitu: tempat atau venue, ventilasi, dan suara atau voice. Adapun pada sisi tempat contohnya, tempat yang padat atau ada kerumunan berisiko terhadap penyebaran virus. Selanjutnya, ventilasi udara yang buruk di indoor juga dapat menciptakan penularan. Sedangkan pada suara, yakni ketika orang yang terpapar virus berbicara dengan keras, berteriak, atau bahkan bernyanyi.

Pakar biologi molekuler, Ahmad Rusdan Handoyo Utomo juga menambahkan bahwa OTG covid-19 yang berbicara memang tidak mengeluarkan partikel sebanyak ketika batuk. Namun, jika OTG tersebut terus berbicata dalam kurun waktu tertentu, secara akumulatif jumlah partikel virus yang dihasilkan bisa saja sama dengan saat batuk.

Baca Juga :  Waspadai Gejala Baru Covid-19, Xerostomia

“Apalagi kalau orang itu tidak menggunakan masker dan itu terjadi di ruangan tertutup, ber-AC lagi. Itu makin sempurna (untuk risiko penularan). Karena AC sendiri kan membuat udara kering. Pada udara kering, droplet itu dia nggak bisa turun ke bawah dan lebih mudah ke atas . Jadi tinggal menunggu waktu (untuk terjadi penyebaran),” kata Ahmad.

Menurut Ahmad, temuan riset tersebut dapat menjadi petunjuk untuk menjelaskan banyaknya klaster penularan di ruangan tertutup, seperti: klaster perkantoran dan keluarga. Belakangan, dua klaster ini dianggap sebagai penyebab terjadinya penambahan kasus baru.

Ia menduga, penularan virus korona di perkantoran terjadi pada saat kegiatan rapat di ruangan. Selain itu, kegiatan makan bersama di kantin kantor juga disinyalir menjadi medium penularan Covid-19 karena masing-masing orang melepas masker serta tidak jaga jarak.

Sedangkan pada klaster keluarga, lanjut Ahmad, transmisi virus korona diduga terjadi pada saat anggota keluarga ada yang tak disiplin menjalani isolasi mandiri, dengan masih sering berbicara kepada anggota keluarga lain.

 

 

 

Pewarta: Adinda
Editor: Redaksi Satukanal

Kanal Terkait