Novart'21, Wadah Luapan Emosi Jiwa Para Pemuda yang Membuncah - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Karya berjudul “Terasa Berat Menggapai Cintanya” oleh Wisnu, terinspirasi sastra Jawa Kuno Panji. (foto: Lutfia Indah)
BERITA Kanal Feature

Novart’21, Wadah Luapan Emosi Jiwa Para Pemuda yang Membuncah

satukanal.com, MalangBudaya, kehidupan, dan perasaan pemuda merupakan suatu hal yang sangat kompleks dan dipenuhi dengan lika-liku perjalanan yang dinamis. Tak jarang diperlukan sebuah wadah untuk menampung luapan emosi yang membuncah dalam jiwa para pemuda.

Himpunan Mahasiswa Jurusan Seni dan Desain Universitas Negeri Malang mempunyai jalan keluar bagi gelora romantisme muda-mudi melalui pameran seni bertajuk Novart’21. Diselenggarakan di Gedung Dewan Kesenian Mahasiswa selama tiga hari mulai tanggal 19-21 November 2021, Novart mengusung tema Muda -Mudi yang bisa relate dengan banyak orang.

“Kita menampung sebuah ide tentang budaya muda-mudi ini sebagai sebuah karya yang ditampilin ke Novart. Daripada kita melulu tentang Covid-19 kenapa nggak bikin sesuatu yang bisa relate banyak orang,” ujar Nuzhan, Ketua Pelaksana ketika ditemui di Gedung DKM pada Jumat (19/11/2021).

Wisnu, salah satu perupa yang memiliki karya berjudul “Terasa Berat Menggapai Cintanya” mengungkapkan terinspirasi kebiasaan muda-mudi yang mencurahkan perasaannya melalui cuitan di media sosial.

“Saya pas scroll twitter menemukan kata-kata kegalauan dari anak mudakan kalau misalkan putus cinta, galau langsung bikin Twitter. Nah untuk menyamarkan nama si pembuat caption saya pakai icon Wadal Werdi,” ungkap Wisnu si empunya karya.

Baca Juga :  Bambang Irianto dan Ambisinya Bangun Negeri dari Lorong Kampung

Karya yang ia ciptakan diambil dari kisah cinta Wadal Werdi tokoh dari cerita sastra Panji Kuno, Wadal Werdi mencintai sosok Panji yang ternyata lebih memilih Sekartaji sebagai tambatan hatinya. Wisnu menggunakan Wadal Werdi sebagai ikon dari nasib gagalnya cinta yang dialami pemuda dalam karyanya.

Selain mengutip cuitan kegalauan anak muda, Wisnu juga menambahkan patung Wadal Werdi yang ia ciptakan menggunakan clay dengan ornamen yang diambil dari Wayang Topeng Malangan.

“Kalau kawat itu tajam-tajam menggambarkan kerumitan cinta, dan warna hitam itu ketika kita galau dalam menggapai cinta maka dunia akan terasa gelap,” lanjut Wisnu.

Sama halnya dengan Wisnu, terdapat salah satu karya seni dengan media patung yang banyak menarik perhatian pengunjung. Fifi, salah satu pengunjung mengungkapkan ketertarikannya dengan karya kolaborasi milik Adi Kurniawan dan Dinda Ayu Tauriska.

Baca Juga :  Peringatan Hari Pangan Sedunia, Wawali Malang Ajak Masyarakat Gemar Menanam

“Tertarik sama yang patung ini karna unik aja, dan katanya patung yang di sini sama ruang satunya saling terhubung,” ujar perempuan yang datang bersama teman-temannya tersebut.

Patung yang bertajuk “Gimana, Udah?” tersebut menceritakan tentang ego dan kesombongan pemuda yang dengan keinginannya berpenampilan menarik, justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Patung yang terletak di masing-masing ruang di DKM ini ternyata merupakan sebuah kritik dari perilaku konsumtif. Berikut adalah deskripsi dari karya seni yang menjadi salah satu karya yang menarik perhatian pengunjung:

“Sekarang agaknya belum terasa, namun ketakutan ini: Rasa sesak ketika terbayang seseorang hanyut di tengah sampah sandangannya. Lihat, ini penting. Terlebih remaja dengan segala harga diri, kesombongan, dan keinginannya, selalu berusaha berpenampilan lebih menarik dari orang lain dengan itu mengkonsumsi makin banyak lebih banyak tekstil. Memuakkan, makhluk yang selalu merasa kurang; lebih mementingkan penampilan luar tanpa titik akhir.”

Pewarta: Lutfia Indah

Editor : Danu S

Kanal Terkait