Ngaku lepat, Filosofi di Balik Ketupat dan Opor Ayam Identik Disantap Saat Lebaran - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Ngaku lepat, Filosofi di Balik Ketupat dan Opor Ayam yang Identik Disantap Saat Lebaran
istimewa
Kanal Artikel Kanal Highlight

Ngaku lepat, Filosofi di Balik Ketupat dan Opor Ayam Identik Disantap Saat Lebaran

Satukanal.com, Nasional Lebaran selalu identik dengan makanan dan minuman yang beragam, seperti kue serta hidangan ketupat dan opor ayam. Meski sering dihidangkan, masih banyak yang belum tahu kalau ketupat dan opor ayam mempunyai filosofi di baliknya.

Kedua pasangan hidangan ini nyatanya bukan hanya sekadar karena keocokan rasanya. Selain rasanya saling melengkapi, ketupat dan opor ayam selalu ada dalam sajian Lebaran. Penasaran ulasan lengkapnya? Simak berikut ini.

1. Bentuk ketupat

Bentuk ketupat menurut masyarakat Jawa, mewujudkan kiblat papat limo pancer. Makna dari bentuk ketupat tersebut adalah empat arah mata angin utama yaitu utara, timur, selatan, dan barat. Tetapi, hanya ada satu kiblat atau pusat.

Keempat sisi ketupat juga diartikan sebagai empat macam nafsu yang dimiliki manusia dan dikalahkan dengan berpuasa. Jadi kalau makan ketupat, bisa dibilang kita mampu mengalahkan nafsu-nafsu tersebut.

Baca Juga :  Aturan Penyembelihan Hewan Kurban Saat Pandemi Covid-19

Bentuk ketupat yang begitu sempurna melambangkan kemenangan umat Islam di hari Lebaran. Kemenangan itu dicapai setelah berpuasa selama sebulan dan mengalahkan segala hawa nafsu.

Sedangkan bungkusan ketupat yang rumit mencerminkan berbagai kesalahan manusia. Isiannya yang berupa beras dianggap sebagai sebuah lambang kemakmuran. Namun ada juga yang mengungkapkan bahwa beras putih melambangkan kebersihan serta kesucian hati.

2. Bahan pembuatan ketupat

Sedangkan kulit ketupat yang terbuat dari anyaman daun kelapa muda atau janur ini melambangkan simbol kesalahan atau dosa manusia. Anyaman kulit ketupat ini juga dianggap sebagai gambaran jalan hidup manusia yang rumit dan berliku.

3. Filosofi penamaan ketupat

Penamaaan ketupat sendiri pun juga memiliki artian yang sejalan dengan Idul Fitri. Ketupat yang pertama kali diperkenalkan oleh salah satu Walisongo, Sunan Bonang pada abad 15 ini dalam bahasa Jawa dikenal juga sebagai kupat. Kupat sendiri dianggap sebagai sebuah singkatan ngaku lepat atau mengakui kesalahan. Memberikan ketupat dianggap sebagai sebuah pengakuan kesalahan dan permohonan maaf.

Baca Juga :  Stok Menipis, Beberapa Daerah Hentikan Vaksinasi

4. Makna sajian opor ayam

Sajian ketupat tidak lengkap rasanya tanpa opor ayam. Kedua hidangan ini mempunyai rasa yang lezat dan memang pantas menjadi primadona saat Lebaran. Opor ayam menggunakan santan sebagai bahan utama kuahnya. Dalam bahasa Jawa, santan disebut sebagai santen yang berarti pangapunten alias memohon maaf.

Kalau disajikan bersama, ketupat dan opor ayam melambangkan permintaan maaf yang tulus serta niat untuk memperbaiki diri dengan hati yang putih dan suci. Wah, komplet ya! Maknanya sesuai banget dengan budaya dan tradisi Lebaran. Setelah memahami filosofi ini, semoga kita semakin bersemangat dan bersyukur saat merayakan Idul Fitri.

 

 

 

 

Pewarta : Naviska
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait