Nelayan Kabupaten Malang Berharap Budidaya Lobster, Dukungan Pemerintah Belum Ada | SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
BERITA STRAIGHT NEWS

Nelayan Kabupaten Malang Berharap Budidaya Lobster, Dukungan Pemerintah Belum Ada

Sempat ramai jadi perbincangan nasional, persoalan ekspor benih lobster yang digagas oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo dan ditentang Susi Pudjiastuti berimbas juga ke para nelayan  di Kabupaten Malang.

Seperti diketahui, wilayah selatan Malang merupakan daerah pesisir laut yang menyimpan kekayaan bahari terbilang kaya. Sehingga banyak masyarakat di Malang Selatan berprofesi sebagai nelayan yang hidupnya tergantung pada kekayaan laut pantai selatan.

Kondisi itu yang juga membuat para nelayan Kabupaten Malang  memantau perkembangan terbaru terkait mata pencaharian mereka, terutama terkait ramainya isu ekspor benih lobster yang banyak berkembang biak di wilayah pantai selatan. Pantai Malang Selatan adalah salah satu habitat lobster yang terbilang potensial di antara pantai di daerah lainnya, seperti Pacitan, Tulungagung, Trenggalek, dan Banyuwangi. Sehingga pantai-pantai itu pun jadi incaran para pemburu lobster selama ini.

Walau ada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 56 Tahun 2016 tentang larangan penangkapan dan/atau pengeluaran lobster (Panulirus), kepiting (Scylla), dan rajungan (Portunus) dari wilayah Indonesia, harga tinggi lobster di pasaran bisa menutup mata para pemburu batas aturan itu.

Pencurian lobster sampai benihnya di berbagai pantai pun marak sepanjang tahun. Sebut saja dari 2015 sampai Maret 2019 lalu, penyelundupan benih lobster yang bisa ditangani aparat mencapai 6,99 juta ekor dengan perkiraan nilai Rp 949,48 miliar. Belum kasus-kasus yang tak terungkap dan tertangkap petugas dalam pencurian benih lobster dan lobster dewasa di lautan.

Kondisi itu juga terjadi di Kabupaten Malang. Sebut saja tahun 2017 lalu, Polres Malang berhasil menggulung sindikat penjualan benih lobster di wilayah Tirtoyudo. Dari sana diketahui, perburuan benih lobster oleh para sindikat yang memiliki peran berbeda. Setiap harinya bisa mendapatkan 50 ekor.

Mundur ke tahun 2015, Pantai Sendang Biru pun jadi tempat perburuan lobster. Waktu itu setiap hari nelayan bisa menangkap 50-100 kilogram (kg) lobster bila cuaca sedang bagus.

Kondisi ini yang membuat para nelayan Kabupaten Malang pun mencoba mencari jalan keluar. Satu sisi berupaya tertib regulasi terkait penangkapan lobster serta lainnya mencegah pencurian dan penjualan benih lobster dan lobster yang tak sesuai dengan aturan yang ada.

“Mereka akhirnya mengusulkan untuk budidaya lobster secara mandiri. Usulan ini sempat disampaikan, tapi belum ada tindak lanjut dari pemerintah,” ucap Endang Retnowati, kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang yang akrab disapa Atik.

Belum adanya dukungan pemerintah inilah yang membuat Pemerintah Kabupaten Malang melalui Dinas Perikanan  tak bisa berbuat banyak untuk merealisasikan harapan besar para nelayan di Malang Selatan itu.

Padahal, menurut Atik, potensi untuk budidaya lobster di wilayahnya cukup tinggi. “Potensinya ada. Baik di Sendang Biru, Kondang Merak, dan beberapa wilayah pantai lainnya. Kami sendiri tak memiliki wewenang untuk itu karena itu kewenangan tingkat provinsi,” ujarnya.

Belum adanya dukungan itulah yang membuat niat para nelayan dalam rangka menjaga keberadaan lobster, yang persentase hidupnya di laut lepas hanya sekitar 1 persen, melalui budidaya belum bisa diwujudkan.

“Pemkab Malang sendiri hanya diinstruksikan untuk melakukan pembinaan serta pengawasan budi daya lobster di Malang. Jadi, tak bisa berbuat banyak. Tapi kami mencoba memastikan komitmen nelayan yang siap membudidayakan lobster,” ujar Atik.

“Jangan sampai setelah nanti ada bantuan dari pemerintah, tak jalan. Karena itu, kami coba pastikan. Jangan sampai juga nanti salah sasaran bantuan,” imbuhnya.

Terpisah, pakar perikanan dan kelautan Universitas Muhamamdiyah Malang (UMM) David Hermawan, dikutip medcom.id (22 Desember 2019) menyampaikan bahwa budidaya lobster sangat mungkin dilakukan di Indonesia.  “Semua itu bergantung pada kemauan para nelayan dan pemerintah. Budidaya lobster bukannya sulit, tapi lama,” ucapnya.

Dia menyebut waktu yang dibutuhkan dari benih menjadi lobster dewasa sekitar 3-7 tahun. “Terpenting ada teknologi dan modal,” tegas David.

Dia juga mengatakan, riset tentang lobster di Indonesia masih terbilang minim. Bahkan, dikatakan dekan Fakultas Peternakan dan Perikanan UMM ini, teknologi budidaya lobster di Indonesia belum ada. “Teknologi budi daya lobster di Indonesia itu belum ada, belum dikembangkan. Makanya yang berkembang kan di Vietnam,” tandasnya.

Kanal Terkait