Merekam Kembali Gerakan Perlawanan Merjosari - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Pedagang Pasar Hadang Aparat (Aris)
BERITA

Merekam Kembali Gerakan Perlawanan Merjosari

Kita diingatkan lagi dengan keinginan Pemerintah Kota Malang yang mempunyai wacana untuk merevitalisasi pasar Dinoyo menjadi pasar modern, dimana yang kita ketahui di lantai bawah tetap dihuni para pedagang pasar tradisional sedangkan bagian lantai atas digunakan kegiatan ekonomi yang dianggap lebih modern seperti mal. Wacana yang dicanangkan pemerintah beruwujud fakta, perhatian pemerintah Kota Malang terhadap pasar Dinoyo semakin menjadi-jadi, dan akhirnya pasar Dinoyo dapat direvitalisasi dengan diikuti proses perpindahan para pedagang pasar menuju daerah Merjosari.

Pro dan kontra selalu mengawali dalam relokasi pasar tersebut, dan pada kesepakatan akhir antara pemerintah dengan para pedagang pasar telah terjadi kata sepakat untuk relokasi ke daerah Merjosari, kesepakatan ini berbentuk surat Perjanjian Kerjasama (PKS). Pasar penampungan Merjosari adalah hasil relokasi pemerintah yang bersifat sementara, artinya pasar ini akan dikembalikan ke lokasi semula apabila proses revitalisasi pasar Dinoyo telah selesai, yang sampai hari ini kita kenal sebagai pasar Terpadu Dinoyo (PTD).

Seiring berjalannya waktu, proses revitalisasi yang dilakukan pemerintah terhadap Pasar Terpadu Dinoyo telah mencapai puncaknya, ketika proses revitalisasi telah selesai maka sesuai dengan isi PKS pemerintah selanjutnya mengembalikan tempat beraktivitasnya kegiatan ekonomi ke tempat semula. Namun masyarakat sekitar pasar penampungan Merjosari dan para pedagang pasar menyatakan tidak sepakat untuk pindah kembali ke lokasi semula, karena merasa keadaan pasar penampungan Merjosari cukup strategis dan mampu menunjang kegiatan ekonomi pedagang dan masyarakat sekitar, maksud dari menunjang dikarenakan lokasi pasar penampungan ini berada tepat di jantung pemukiman warga Merjosari.

Gerakan Tolak Relokasi Pasar Merjosari.

Keadaan penolakan relokasi tersebut semakin memanas ketika pemerintah menetapkan pengosongan dan pembongkaran pasar penampungan Merjosari pada tanggal 5 April 2017. Sejumlah spanduk perihal pemindahan pasar penampungan Merjosari ke pasar Terpadu Dinoyo sudah ada di beberapa titik sekitar lokasi kedua pasar tersebut. Dalam spanduk dijelaskan bahwa, pedagang dan pembeli agar mulai bersiap dan beraktivitas jual-beli di pasar Terpadu Dinoyo baru.

Disisi lain, isu utama yang diangkat oleh para pedagang untuk menjadikan sebuah tekanan terhadap Pemerintah dalam aksi penolakan relokasi tersebut soal kelayakan pasar Terpadu Dinoyo (PTD). Sekertaris Perwakilan Pedagang Pasar Merjosari (P3D), Alfan menjelaskan bahwa PTD terlalu sempit untuk ditempati. Begitu juga dengan Koordinator Pedagang Merjosari, Sabil El-Achsan, mengatakan bahwa pemindahan pasar penampungan Merjosari menuju pasar Terpadu Dinoyo tidak sesuai dengan isi Perjanjian Kerjasama (PKS), menurutnya, Pasar Terpadu Dinoyo masih belum layak untuk ditempati serta belum memiliki Sertifikat Layak Fungsi (SLF) dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dan Lalu Lintas (AMDAL – LALIN).

Aksi demonstrasi pun kian mencuat dan dijadikan senjata perlawan gerakan para pedangang, aksi demonstrasi ada apabila terjadi ketidakadilan yang mana tak dapat ditoleransi lagi. Aksi demo ini merupakan hasil akumulasi kekecewaan pedagang selama ini. Serentetan kekecewaan pedagang selama ini dimulai sejak sosialisasi pertama dari Pemkot Malang tentang revitalisasi pasar Dinoyo, dari sosialisasi pertama pedagang mengalami apa yang disebut “kejutan kolektif”. Pedagang terkejut dengan tiba-tiba adanya pembangunan pasar beserta site plannya yang tanpa pernah sekalipun mengajak pedagang untuk membicarakannya terlebih dahulu.

Tidak hanya bertumpu pada aksi demonstrasi saja, gerakan ini perlu beraliansi untuk membangun sebuah kekuatan politik nantinya, langkah yang diambil oleh gerakan ini adalah beraliansi dengan gerakan atau organisasi serupa yakni gerakan pedagang pasar Blimbing. Alasan beraliansi dengan gerakan tersebut, karena pasar Blimbing mempunyai nasib yang serupa dengan pasar Merjosari ini. Pasar Blimbing dirasa memiliki kekuatan yang kuat, karena pasar Blimbing tetap bisa bertahan melawan intimidasi maupun intervensi pemerintah. Walikota Malang, Peni Suparto, dalam kebijakannya yang bertujuan untuk merelokasi pasar Blimbing, dengan dalih untuk membentuk tata ruang kota yang lebih efektif. Karena dirasa pengalaman yang dialami Pasar Blimbing juga sama halnya dengan Pasar Merjosari, maka gerakan pedagang Merjosari menjalin hubungan politik dengan Pasar Blimbing.

Masih ditingkat lokal, dengan bantuan Pasar Blimbing, gerakan Pasar Merjosari turut mendapatkan bantuan dari Malang Corruption Watch (MCW), salah satu anggota MCW juga berkenanan memberikan bantuan berupa jaringan organisasi lainnya, yakni dengan lembaga PP Otoda UB. Dari jaringan politik ini, maka pedagang pasar Merjosari memiliki sumberdaya yang signifikan, MCW merupakan organisasi daerah yang bersifat nasional yang fokusnya terhadap kasus-kasus korupsi khususnya daerah Malang. Dengan bantuan MCW maka para pedagang dapat menelusuri hingga detail proses anggaran-anggaran kebijakan khususnya di ranah pasar dan dijadikan sebagai argumentasi menolak kebijakan Pemkot Malang.

Tak luput pula dari peran PP Otoda UB, jaringan organisasi ini berupa akademisi di lingkup Universitas Brawijaya. Bantuan ini berupa fokus fenomena masalah ditinjau dalam bentuk akademik-akademik yang itu cukup membantu bagi berjalannya perlawanan terhadap kebijakan relokasi pasar Merjosari.

Gerakan Semakin Memudar

Sampai saat ini yang kita ketahui bahwa gerakan para pedagang perlahan-lahan mulai luntur, terlihat sangat jelas ketika pasar penampungan Merjosari sudah tidak terhuni lagi oleh seluruh pedagang. Bahkan, aktivitas ekonomi masyarakat sekitar pun tak dapat dijumpai lagi, proses relokasi yang dilakukan Pemerintah bisa dikatakan sukses meskipun cukup alot menghadapi gerakan para pedagang. Bisa dikatakan, gerakan para pedagang telah kalah telak oleh Pemkot Malang, para pedagang pun pasrah dengan kebijakan Pemkot yang itu semua tidak begitu menguntungkan baginya.

Gerakan ini memudar setelah intimidasi dan intervensi Pemkot Malang yang cukup kuat, terlihat saat para pedagang melakukan aksi demonstrasi, para pedagang dipukul mundur oleh aparatur Negara seperti TNI, Polri, dan Satpol PP. Aksi pemaksaan berupa fisik yang dilakukan oleh Pemkot menimbulkan trauma tersendiri bagi para pedagang. Pedagang merasa gerakan yang dilakukan jauh hari hanyalah sia-sia ketika berhadapan dengan aparatur Negara. Kejadian ini selalu mengingatkan kepada kekejaman rezim represif orde baru, dimana aktivis masyarakat yang menentang Pemerintah akan dihabisi secara langsung. Hal yang dilakukan aparatur negara tersebut adalah memukul mundur aksi para pedagang, dan juga diiringi dengan melakukan pembongkaran massal terhadap kios, bedak yang masih beroperasi.

Tak hanya pada intervensi, Pemkot Malang juga memukul mundur para pedagang, namun usut demi usut terlihat adanya perpecahan di kubu internal para pedagang itu sendiri. Perpecahan ini terlihat saat proses penolakan relokasi pasar tetap berlangsung, beberapa pedagang Merjosari menyatakan untuk sepakat dan mengikuti kemauan Pemkot Malang untuk pindah ke Pasar Terpadu Dinoyo. Ini membuktikan bahwa gerakan para pedagang tidak mampu menciptakan sinergitas antar pedagang. Gerakannya semata-mata hanya bersifat reaksioner saja, tetapi kurangnya pendalaman baik berupa materi maupun non-materi. Sehingga tujuan bersama yang dibangun pun tidak bisa dikonsolidasikan, dan menimbulkan perpecahan di dalamnya. Ketika tujuan bersama tidak bisa terkonsolidasi, maka akan memudahkan orang lain, dalam hal ini Pemkot Malang untuk mengaburkan tujuan semula dari gerakan ini, apabila telah terjadi perpecahan, maka yang akan dihadapi para pedagang adalah hadirnya hambatan-hambatan baru. Akibatnya, fokus tujuan dari para pedagang Merjosari perlahan-lahan akan memudar, seperti yang kita ketahui saat ini.

 

*)Nabil Pamungkas
   Mahasiswa Aktif Ilmu Politik Brawijaya, Pengkaji Isu Politik Kota Malang
   E-mail: [email protected]
   

 

 

Kanal Terkait