Menyelami Sosok Yudit, ASN Kolektor Wayang Khas Malangan - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Menyelami Sosok Yudit, ASN Kolektor Wayang Khas Malangan
Yudit bersama wayang Malangan koleksinya (Foto : Chosa Setya/satukanal.com)
BERITA Kanal Figur

Menyelami Sosok Yudit, ASN Kolektor Wayang Khas Malangan

Pekerjaan sebagai aparatur sipil negara (ASN) identik dengan hal yang bersifat sistematis dan formal. Namun, ASN Pemerintah Provinsi Jawa Timur ini punya sisi berbeda: kegemaran mengoleksi ratusan wayang Malangan.

Satukanal.com, Malang – Chosa Setya Ayu Widodo

TIDAK nyasar tadi?” Seorang pria berbadan gempal muncul di balik pintu sebuah rumah yang terletak di Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang. Dengan senyum mengembang, Yudit Perdananto mempersilakan jurnalis Satukanal.com masuk rumahnya.

Suasana rumah yang khas. Interior perpaduan gaya modern dan ciri khas Jawa Timur-an. Dipenuhi ornamen-ornamen pewayangan.

Sejak kecil, Yudit tertarik pada mitologi Jawa. Utamanya cerita pewayangan. Kegemaran yang berlanjut hingga dewasa. Ketertarikan yang berwujud dengan mengoleksi wayang.

Pada tahun 1997, pria 44 tahun ini bergerilya mencari wayang Jawa Timur-an.  Pekerjaannya di Bidang Pelayanan Pajak Dinas Pendapatan Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendukung upaya perburuannya itu. Yudit kerap turun ke daerah. Di sela tugas,dia mencari wayang. Berbagai kawasan dijelajah. Seperti Mojokerto, Jember dan Blitar.

Kini, ratusan wayang dengan berbagai karakter dimiliki. Mulai dari wayang berbahan dasar kulit hingga wayang kayu. Yudit memang tak secara khusus mengategorikan bahan dasar wayangnya. Dia hanya berkeinginan mengumpulkan wayang yang dibuat oleh orang Malang asli.

Baca Juga :  Ombak Tinggi, Pantai Watu Leter Jarang Dikunjungi

”Dulu, saya punya sampai beberapa peti. Terus dijual. Sekarang tinggal yang usianya ratusan tahun. Memang khas dan tidak ingin saya jual,” jelasnya.

Wayang khas Malangan, menurut Yudit, memang khas. Setiap desa di Malang Raya pasti memiliki pengrajin dengan kekhasannya. Mayoritas dari mereka mengadopsi penggambaran karakter Solo-an atau Mataraman-an. Karena Jawa Timur yang tidak memiliki pakem. Itulah ciri khas wayang yang tak dimiliki oleh daerah lain.

Berangkat dari hal tersebut, ayah dua orang anak ini berkolaborasi dengan seniman wayang di Kota Malang, untuk mengembangkan wayang dengan penggambaran ikon daerah. Seperti singa, tugu, candi dan lain-lain. Tujuannya menjadikan wayang khas Malang eksis di kalangan masyarakat umum.

”Saya memang punya mimpi, kesenian tradisional Malang dikenal oleh semua orang. Apalagi kota ini sangat kaya akan seni tradisional,” ujarnya.

Tidak berhenti di situ saja. Melalui kolaborasi ke depannya, Yudit ingin mengembangkan bisnis ekonomi kreatif. Harapannya, selain dapat membantu seniman. Wayang khas Malangan yang akan dibuat dengan media simple sehingga dapat dijadikan oleh-oleh bagi para pelancong.

”Biar bervariasi oleh-oleh dari Malang. Nanti dibuat dalam media spons atau diaplikasikan di kaos. Pokoknya wisatawan punya ciri khas yang dibawa dari sini,” imbuh pria berkaca mata itu.

Baca Juga :  Sabar, Kayutangan Heritage Baru Dibuka 2022

baca juga : Cek ASN Bolos, Bupati Sanusi Sidak Sejumlah Instansi 

Pria ini juga dikenal sebagai penemu makam Mbah Reni, sang pengrajin Topeng legendaris asal Malang. Kemudian, Yudit menjadi kolektor Topeng dari berbagai penjuru Kota Pelajar. Bahkan koleksi topeng yang dikumpulkannya sejak 2015 silam ini sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Inilah yang membuat pria ini dijuluki Yudit Topeng.

Sempat mengalihkan fokusnya sejenak di dunia topeng. Baru pada tahun lalu, ia kembali ke hobi lamanya sebagai kolektor wayang. ”Seperti ada panggilan gitu untuk kembali mengoleksi wayang. Saya juga punya keinginan untuk membukukan perjalanan sejarah dari wayang khas Malangan ini,” terangnya.

Pria yang lahir dan besar di Malang ini berharap, pemerintah lebih perhatian terhadap kesenian khas Nusantara. Terutama terhadap pencatatan sejarah. Hal ini dapat berguna bagi generasi muda yang akan datang.

“Mimpi saya adalah mencatat segala peninggalan seni tradisional. Malang sangat kaya, tapi karena tak ada rekam jejak, semua hanya dipandang sebelah mata. Semoga mimpi bisa segera tercapai,” tutup berkepala plontos tersebut.

 

 

Editor : Danu Sukendro

Kanal Terkait