Mengurangi Konsumsi Daging Bisa Melawan Perubahan Iklim | SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Ilustrasi konsumsi daging. (Foto: Dokumen Satukanal)
BERITA HIGHLIGHT RISET

Mengurangi Konsumsi Daging Bisa Melawan Perubahan Iklim

SATUKANAL – Pola konsumsi masyarakat turut memberikan dampak pada lingkungan, salah satunya konsumsi daging. Hasil penelitian yang diterbitkan University of Oxford mengungkapkan bahwa produksi makanan bertanggung jawab atas 26 persen dari semua emisi gas rumah kaca (greenhouse gas/GHG) dan berkontribusi terhadap pemanasan global.

Studi yang dipublikasi pada 2018 tersebut berjudul Reducing Food’s Environmental Impacts Through Producers and Consumers yang disusun oleh J. Poore dan T. Nemecek. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa produk hewani menyumbang 58 persen dari gas rumah kaca yang terkait makanan.

Dampak lingkungan ini kemungkinan akan memburuk karena meningkatnya konsumsi daging. Peningkatan konsumsi tersebut juga didorong oleh peningkatan ekonomi masyarakat dan urbanisasi.

Konsumsi makanan laut dan daging di Asia diprediksi akan meningkat sebesar 78 persen pada tahun 2050. Angka tersebut dilansir dari laporan Asia Research and Engagement’s (ARE) berjudul ‘Charting Asia’s Protein Journey’ pada 2018.

Studi ini mengungkapkan bahwa permintaan daging dan ikan tertinggi di wilayah Filipina, Vietnam dan Thailand. Sementara konsumsi daging Indonesia akan melampaui India pada tahun 2036 sekitar 7,5 juta ton.

Kontribusi Sektor Peternakan

Sektor peternakan berkontribusi terhadap pemanasan global atas produksi gas rumah kaca yang cukup besar. Seperti dilaporkan oleh Food and Agriculture Organization (FAO), 30 persen dari daratan bumi digunakan untuk peternakan hewan konsumsi.

Pasalnya, pembukaan lahan untuk padang rumput melepaskan karbon dioksida (CO2) pada tingkat yang mengejutkan. Di sisi lain, besarnya luasan lahan yang digunakan untuk menanam tanaman pakan juga memberikan andil signifikan.

Bukan hanya faktor produksi CO2, peternakan juga mengancam persediaan air karena menggunakan 70 persen air yang tersedia untuk manusia. Karena permintaan daging meningkat, akan ada lebih sedikit air yang tersedia untuk tanaman, dan minum.

Pupuk dan pestisida yang digunakan untuk tanaman juga mencemari saluran air dan menyebabkan ‘zona mati’ di laut. Sementara kotoran hewan, akhirnya mencemari saluran air dan air tanah.

Sapi dan domba juga melepaskan volume besar metana, yang 30 kali lebih kuat sebagai gas penangkap panas.

Opsi Tanpa Daging

Indonesia mendapat nilai 280 dalam Global Vegetarian Index Score pada 2017. Angka tersebut lebih rendah dari beberapa negara di Asia Tenggara lainnya. Misalnya, Thailand dengan nilai 326, Malaysia 311, Singapura 305, serta 301 untuk negara Kamboja.

Meski demikian, tekanan pada lingkungan memaksa konsumen untuk memikirkan kembali kebiasaan konsumsi mereka. Mereka sekarang lebih teredukasi tentang sistem makanan dan lebih sadar tentang apa yang dimakan dan asal makanan.

Pemahaman bahwa pola makan yang lebih sehat dapat mengurangi dampak lingkungan dari sistem makanan, memicu gerakan vegetarian dan vegan. Di seluruh Asia Tenggara, ada peningkatan jumlah vegetarian dan vegan, terbukti dari meningkatnya jumlah restoran dan produk vegan di pasar.

Meski demikian, sebuah studi 2018 di Nature Journal oleh Springmann et al., menyebutkan bahwa orang perlu mengurangi konsumsi daging sedikitnya 75 persen dari rata-rata global untuk mencegah kerusakan iklim.

Tetapi untuk membantu menyelamatkan planet ini, seseorang tidak harus melupakan daging sama sekali. Flexitarianisme atau diet “vegetarian biasa” menyoroti peningkatan asupan makanan nabati tanpa menghilangkan daging. Makan makanan yang mengurangi konsumsi daging merah juga bisa menurunkan risiko penyakit jantung.

Perkembangan teknologi pangan mendorong konsumen untuk mengonsumsi makanan nabati yang lebih sehat. Tetapi mengurangi separo limbah makanan dan meningkatkan pertanian juga penting.

The UN’s Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), mengatakan bahwa jika tanah digunakan lebih efektif, tanah dapat menyimpan lebih banyak karbon yang dipancarkan oleh manusia. Sampai pertanian yang lebih berkelanjutan dapat dicapai, kita setidaknya harus mencoba mengurangi konsumsi daging.

Pewarta: (Mg) Mochammad Hari Romansyah
Redaktur: N Ratri
Sumber: theaseanpost.com

Kanal Terkait