Mengulik Kisah Romantisme Dua Sejoli di balik Pesona Keindahan Gunung Batok - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Mengulik Kisah Romantisme Dua Sejoli di balik Pesona Keindahan Gunung Batok
BERITA HIGHLIGHT STRAIGHT NEWS

Mengulik Kisah Romantisme Dua Sejoli di balik Pesona Keindahan Gunung Batok

Satukanal.com, Malang – Pemandangan di kawasan Gunung Batok yang berada di sebelah Gunung Bromo memang menarik untuk disimak. Bentuk Gunung yang unik karena mengerucut dan lebih tinggi daripada Gunung Bromo, Gunung Batok menjadi daya tarik para wisatawan karena menjadi salah satu latar obyek foto dari puncak Gunung Bromo dan Pura Luhur Poten yang berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Gunung Batok memang tak sepopuler Gunung Bromo. Meskipun begitu, Gunung Batok tetap menyimpan keelokan panoramanya tersendiri. Gunung yang sudah tidak aktif ini memiliki ketinggian 2.440 meter di atas permukaan laut ini biasanya menjadi spot foto para pengunjung kawasan TNBTS.

Meskipun fasilitas penunjang di kawasan Gunung Batok masih belum tersedia. Namun, apabila para wisatawan berminat mengunjungi kawasan tersebut bisa menginap ataupun menyewa kendaraan yang telah disediakan warga setempat di area sekitar kaki Gunung Batok.

Keindahan alam Gunung Batok yang memikat ternyata juga menyimpan sederet legenda yang menyelimuti kawasan tersebut. Warga setempat beranggapan bahwa, nama ‘Batok’ yang berarti tempurung kelapa. Warga meyakini legenda cinta Rara Anteng dan Jaka Seger menjadi awal penamaan Batok.

Legenda dan asal-usul dari Gunung ini ternyata bermula dari kisah cinta Rara Anteng dan Jaka Seger yang terhalang adanya raksasa sakti yang sangat tertarik dengan Rara Anteng bernama Resi Bima. Penduduk sekita juga beranggapan bahwa, Gunung Batok terbentuk dari tempurung kelapa yang ditendang oleh Resi Bima.

Kejadian tersebut bermula dari sebuah wilayah Gunung Bromo yang kala itu masih berada di bawah kekuasaan dari Kerajaan Majapahit. Alkisah terdapat seorang penduduk di wilayah tersebut yang melahirkan bayi perempuan dengan paras yang cantik.

Baca Juga :  Kolak Goblok, Kudapan Istimewa Khas Poncokusumo Malang

Bayi yang lahir tersebut konon dipercayai warga sekitar sebagai titisan dewi. Pada saat bayi tersebut lahir, bayi ini tetap tenang dan tidak menangis sedikitpun saat proses persalinan dilakukan. Sehingga, bayi cantik jelita tersebut dinamakan Rara Anteng.

Namun ada beberapa kisah unik lain, saat Rara Anteng lahir, pada saat bersamaan lahir pula seorang bayi laki-laki tampan di wilayah tersebut. Lahir dengan tangisan yang begitu kencang, sang bayi tampan ini akhirnya diberi nama Jaka Seger.

Saat Rara Anteng dan Jaka Seger sudah tumbuh dewasa menjadi dua sejoli yang cantik dan rupawan. Keduanya pun saling menaruh hati, dan merajut hubungan asmara. Romantisme sepasang kekasih ini pun saling berjanji untuk bersama dan tak ingin dipisahkan oleh siapapun.

Namun, diantara kisah romantis antara Rara Anteng dan Jaka Seger, sebuah ujianpun melanda kisah asmara keduanya. Di wilayah tersebut kedatangan seorang perampok sakti yang tak lain tujuannya adalah ingin meminang Rara Anteng.

Karena pada saat itu Rara Anteng tak berdaya untuk menolaknya, akhirnya ia menerima pinangan tersebut dengan menmyertakan satu syarat. Yakni, sang perampok harus bisa membuat sebuah lautan yang berada tepat di puncak Gunung Bromo hanya dalam satu malam.

Mendengar persyaratan dari Rara Anteng sang perampok pun segera ke puncak Gunung Bromo dan mencari lahan datar untuk dijadikan lautan. Meminta bantuan pada penghuni Gunung Bromo, sang perampok sakti pun berubah menjadi sosok raksasa menakutkan.

Saat itu sosok raksasa mengeruk lahan datar tersebut dengan menggunakan sebuah tempurung kelapa. dan pada saat hampir selesai, tanpa diduga fajarpun mulai menyingsing yang disambut dengan sahutan kokok ayam dan riuhnya bunyi lesung.

Baca Juga :  Kembangkan Skill UMKM Kecantikan, Diskopindag Malang Gelar Pelatihan Make Up

Pada saat itu Rara Anteng meminta bantuan para Biyung Emban (pengasuh) untuk menyalakan api dari ilalang kering di sebelah timur Gunung Bromo agar nampak seperti fajar dibarengi dengan riuhnya bunyi lesung yang merupakan salah satu taktik Rara Anteng untuk menggagalkan usaha sang perampok sakti tersebut.

Terlihat fajar sudah menyingsing, sontak raksasa tersebut berhenti bekerja. Ia kesal dan kecewa karena gagal meminang Rara Anteng. Karena rasa kesalnya, ia pun melempar tempurung kelapa yang digunakannya mengeruk tanah tersebut.

Tempurung itu pun terhempas dan jatuh tengkurap di atas tanah. Tanpa disangka, tempurung itu membesar dan menjelma menjadi sebuah gunung yang kini dikenal dengan nama Gunung Batok. Sedangkan, lautan yang belum selesai dan tak berair itu disebut Segoro Wedi.

Peminangan yang tidak berhasil sontak membuat hati Rara Anteng sangat bahagia akhirnya, ia dan Jaka Seger pun menikah dan membangun tempat tinggal di sebuah desa yang kini dikenal dengan nama desa Tengger.

Penamaan Desa tersebut juga memiliki sebuah kisah yakni, kata “Teng” diambil dari nama Rara Anteng. Sedangkan kata “Ger” diambil dari nama Jaka Seger. Akhirnya dua sejoli tersebut menjadi sepasang suami istri yang memiliki banyak keturunan dan keturunan tersebut diyakini menghuni desa Tengger dan dikenal dengan masyarakat Suku Tengger.

 

 

 

 

Pewarta : Naviska Rahmadani
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait