Menguak 3 Teori Penamaan Candi Badut, Apakah Ada Badut di Dalam Candi ? - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Menguak 3 Teori Penamaan Candi Badut, Apakah Ada Badut di Dalam Candi ?
BERITA HIGHLIGHT STRAIGHT NEWS

Menguak 3 Teori Penamaan Candi Badut, Apakah Ada Badut di Dalam Candi ?

Satukanal.com, Malang – Siapa yang tidak mengenal Candi Badut di Malang. Pada artikel kali ini kita akan menguak kenapa bangunan ini bernama Candi Badut. Apakah ada badut di bangunan candi ?

Berlokasi di daerah Karang Besuki, kecamatan Dau, kabupaten Malang bangunan tersebut di perkirakan sebagai salah satu candi tertua yang ada di wilayah Jawa Timur.

Berdasarkan bait keempat Prasasti Dinoyo menjelaskan bahwa, seorang raja beserta pembesar pembesarnya membangun kuil untuk memberantas penyakit yang menghilangkan semangat.

Sehingga, berdasarkan pada prasasti tersebut, bangunan candi ini didirikan pada tahun 682 Saka atau sekitar tahun 760 Masehi.

Sejarawan Malang, Suwardono, dalam diktat kecil karangannya yang tersedia di pos penjagaan Juru Pelihara (Jupel) candi tersebut, berjudul “Candi Badut”, 2008, pada halaman 1-2, menerangkan tiga teori mengenai asal-usul penamaan Candi Badut.

Ketiga teori penamaan Candi Badut tersebut memiliki beberapa dasar anggapan yang menarik untuk dikaji secara mendalam.

Penamaan pertama, Jayadi selaku Juru pelihara cagar budaya menjelaskan bahwa, Pada umumnya penamaan candi-candi di Jawa mengikuti nama tempat atau lokasi di mana bangunan candi tersebut berada.

Baca Juga :  Upaya Atasi Banjir, Pemkot Malang Terbitkan SE Larang Penggunaan Plastik Sekali Pakai

Dikarenakan bangunan Candi ini terletak di sebuah dusun yang dinamakan dengan dusun Badut, Sehingga Candi ini pun dinamakan Candi Badut.

Lalu menurut pendapat dari penduduk setempat nama ‘Badut’ diambil dari nama sejenis pohon yang dahulu banyak tumbuh di lokasi Candi.

Orang sekarang menamakan pohon ‘Badutan’. Pohon ini sekarang masih tersisa satu berada di sebelah tenggara halaman candi, di luar pagar.

Karena di sekitarnya banyak tumbuh pohon ‘Badut’, maka daerah tersebut dinamakan Desa (Dusun atau Dukuh) Badut dan akhirnya bangunan Candi tersebut dinamakan Candi Badut.

Adapun versi kedua atas penamaan Candi Badut yakni diambil dari nama kecil Raja Gajayana, pendiri candi Badut. Pada saat kecil Raja Gajayana memiliki nama Liswa.

Liswa merupakan istilah yang berarti anak komedi (jenaka) dan orang Jawa menyebut istilah tersebut sebagai badut.

Karena yang membangun Candi Badut adalah Raja yang memiliki kegemaran ngebadut (melucu), akhirnya candi ini berikan nama sesuai dengan karakter Sang Raja tersebut.

Baca Juga :  Test GeNose C19 Mulai Berlaku di Stasiun Malang

Sedangkan versi cerita ketiga mengatakan bahwa, Menurut Van der Meulen, nama ‘Badut’ diambil dari nama Resi Agastya, yaitu seorang resi yang diagung-agungkan oleh Raja Gajayana.

Kata badut berasal dari kata ‘Ba’ dan ‘Dyut’. Ba = bintang resi Agastya (Chopus), sedangkan kata Dyut = sinar/cahaya.

Jadi, Badyut = sonar atau cahaya resi Agastya. Van der Meulen membuat perbandingan dengan nama candi ‘Mendut’, yang menurutnya berasal dari kata Men = sorot, dan Dyut = cahaya.”, tulis Suwardono.

Dari ketiga teori penamaan Candi Badut di atas perlu untuk diingat bahwa kebanyakan nama bangunan candi di Jawa mengikuti nama tempat atau daerah di mana candi berada.

Maka kemungkinan sekali penamaan Candi Badut tersebut diadopsi dari nama desa atau daerah yang memiliki pohon Badut dan berdiri suatu bangunan Candi.

Sehingga dari bangunan Candi yang bernama Badut bukan berarti memiliki tokoh Badut didalamnya. Namun, ada tiga historis atau sejarah tersendiri dalam penamaannya.

 

 

 

 

 

 

Pewarta : Naviska Rahmadani
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait