Mengingat Kisah Tragis Perempuan di Zaman Belanda di Hari Perempuan Sedunia - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Mengingat Kisah Tragis Perempuan di Zaman Belanda di Hari Perempuan Sedunia
BERITA Kanal Highlight Kanal Straight

Mengingat Kisah Tragis Perempuan di Zaman Belanda di Hari Perempuan Sedunia

SATUKANAL.com, NASIONAL– Hari ini, Senin (08/01/2021) jatuh sebagai Hari Perempuan Sedunia. Kedudukan perempuan yang semakin membaik hingga kini tentu tak lepas dari kisahnya di masa lalu, saat Indonesia berada dalam masa kolonialisme.

Setelah kemerdekaan, nasib buruh perempuan di zaman kemerdekaan semakin membaik. Meski, beberapa kali terjadi kasus penyiksaan, pelecehan serta pembunuhan. Seperti Marsinah dengan kisahnya sangat mengerikan hingga menyisakan luka yang terdalam.

Namun, nasib buruh perempuan jauh lebih mengerikan di zaman penjajahan Belanda. Sebuah laporan, Van den Brand anggota Raad van Justicedi De Milioenen van Deli merupakan segelintir luka tentang nasib buruh perempuan kala iitu.

Disebutkan dalam tulisannya, saat berkunjung ke sebuah perkebunan di Deli, Brand dibuat gentar atas apa yang dilihatnya. Tanpa sengaja, ia melihat peristiwa mengerikan di rumah milik tuan tanah Belanda. Suara erangan seorang perempuan di depan halaman rumah seorang tuan tanah Belanda samar-samar terdengar di telinganya. Ia pun mencari sumber suara tersebut.

Tak disangka, Brand malah menemukan seorang perempuan berusia 16 tahun tanpa diketahui namanya dalam keadaan tersalip tanpa busana sehelaipun. Tak hanya itu, yang lebih mengerikan yakni alat kelamin perempuan itu diolesi cabai Spanyol super pedas.

Saat menemukannya, Brand memperkirakan kondisi itu sudah di alami si perempuan sejak pukul 6 pagi dan Brand menemukannya saat petang, sekitar pukul 6 sore.  Tentu, peristiwa yang sangat tragis dan memilukan.

Kisah yang dituliskan Brand tersebut seakan menggambarkan betapa ngerinya nasib para buruh perempuan pada saat itu. Tuan tanah Belanda banyak yang melakukan penyiksaan. Pada  kisah perempuan yang disalib misalnya, penyiksaan dan pelecehan ia alami karena penolakan yang ia lakukan.

Si gadis lebih memilih mencintai dan memilih pria sesama buruh ketimbang menerima pinangan si tuan tanah Belanda yang ingin menjadikannya nyai. Sehingga, untuk melampiaskan kemarahannya, di gadis harus mengalami kengerian luar biasa tersebut.

Brand pun menuliskan kisah lainnya bahwa para buruh perempuan yang baru akan diperiksa oleh bagian administratur perkebunan dalam sebuah ruangan. Lalu, beberapa yang cantik diantaranya alan dipilih sebagai gundik atau nyai untuk memuaskan nafsu mereka.

Kisah kekerasan dan pelecehan memang marak terjadi di berbagai wilayah kala itu, terutama di perkebunan milik orang Belanda. Mereka pun yang memiliki paras cantik bahkan akan mengalami nasib lebih buruk. Karena biasanya akan dijadikan sebagai pelampias nafsu belaka.

Gambaran tragisnya nasib perempuan di zaman itu juga digambarkan dalam salah satu novel karya Eka Kurniawan yang berjudul Cantik Itu Luka. Pada novel tersebut digambarkan bagaimana kecantikan bukan sesuatu yang diidamkan wanita saat itu. Kecantikan yang mereka miliki justru akan membuat mereka menjadi korban atas ketidakadilan para tuan di Zaman Belanda.

Lebih lanjut, Brand  menyebut jika status perempuan bukanlah persalan penting. Entah itu perawan, bersuami atau janda sekalipun kalau memang dianggap menarik maka menjadi pelampias nafsu mreka. Status Nyai yang dberikan pun, nayatanya juga tak bisa merubah keadaan itu. Kekerasan demi kekerasan akan terus dilakukan pada mereka.

Lebih lanjut, keadaan tersebut mulai memunculkan titik terang saat munculnya pemberontakan dari para buruh di tahun 1923-1925, dilansir dari buku Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda dari Reegie Baay. Ada sekitar 70 an pemberontak dari buruh Deli.

Pemicunya tak lain karena banyak istri buruh yang direbut paksa oleh pegawai Belanda. Tercatat juga, para perempuan yang dijadikan gundik atau nyai pun kerap meralkukan perlawanan secara diam-diam dan mematikan.

Adapun kisah yang dituturkan oleh Bernard Dorleans dari bukunya yang berjudul Orang Indonesia dan Orang Perancis. Buku itu mengisahkan tentang perlawanan para nyai yang dialkukan secara tersembunyi.

Tak sedikit dari mereka  yang juga memiliki keturunan dari hubungan dengan tuan dan bila sang tuan kembali ke negaranya, maka para nyai akan ditinggalkan dan diberikan sebagai kado bagi sejawatnya. Sedangkan anaknya akan dibawa ke negara, tempat dimana sang tuang berasal.

Bahkan diceritakan ada seorang nyai yang menyusun siasat secara diam-diam ketika mengetahui tuannya akan kembali ke asalnya. Ia memberikan lugut bambu yang dicampurkan ke dalam makanan tuannya, sehingga sang tuan mengalami sakit yang parah dan menemui ajalnya sebelum pulang ke negara asalnya.

Kisah-kisah di atas adalah sekelumit cerita yang sempat dituliskan. Di luar itu masih banyak kisah tragis yang dialami perempuan pada masa itu. Walau demikian, perempuan saat ini patut untuk lebih berbahagia dengan keadaan yang semakin membaik.

Apalagi dengan munculnya berbagai undang-undang yang mengatur terhadap kekerasan dan pelecehan yang dialami perempuan. Perempuan diharapkan dapat lebih terlindungi haknya, sehingga bisa ikut serta memajukan negara di hari perempuan sedunia ini.

 

 

 

 

Pewarta: Adinda
Editor: Redaksi Satukanal

 

Kanal Terkait