Mengenang Letusan Gunung Kelud di Film Dokumenter - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Mengenang Letusan Kelud di Film Dokumenter
BERITA HIGHLIGHT

Mengenang Letusan Gunung Kelud di Film Dokumenter

SATUKANAL.com, KEDIRI – Tujuh tahun silam, 13 Februari 2014, Gunung Kelud mengalami erupsi. Suara gemuruh petir, krikil, dan debu vulkanik berdampak ke tiga wilayah Kabupaten Blitar, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Kediri.

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Kediri terdata sebanyak 66.139 jiwa berhasil menyelamatkan diri. Tanpa terdampak adanya korban jiwa, selama terjadinya erupsi gunung Kelud.

Selain penanganan bencana dari Pemda. Perihal tersebut juga tidak terlepas dari edukasi dan media informasi yang dibangun oleh komunitas Jangkar Kelud. Mendirikan media informasi Radio Kelud FM di di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri.

Penyampaian sistem nformasi bencana dikemas secara menarik melalui film dokumenter ‘Frekuensi di Lereng Bencana’. Film dokumenter yang ditayangkan di akun YouTube Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia tersebut diproduseri oleh Abdurrahman juga menyandang sebagai anggota Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI), beserta sutradara Danu Sukendro.

Baca Juga :  PPKM Mikro, Tekan 271 RT Berzona Kuning di Kabupaten Kediri

Pengambilan gambar dilakukan secara langsung dilokasi dari setiap pemberitaan sebagai jurnalistik. “Karena ada stok gambar. Dan sayang sebagai jurnalis, apabila hasil liputan hanya diangkat sebagai berita,” ungkapnya, ke Satukanal.com, Sabtu (13/2/2021).

Seperti kondisi saat masih utuh dengan kawah pada tahun 2007, dilanjutkan kemunculan anak gunung pengambilan gambar tahun 2010.

Hingga pengambilan detik-detik erupsi gunung Kelud. Beberapa pengambilan gambar diikutsertakan dalam penyelenggaraan film dokumenter BNPB tahun 2014.

Dokumenter ‘Frekuensi di Lereng Bencana’, memperlihatkan penyampaian informasi bencana dibangun seacara kearifan lokal oleh komunitas desa Jangkar Kelud. Mereka melakukan edukasi sadar bencana, diharapkan warga lebih siap apabila menghadapi bencana gunung Kelud.

“Jadi suara asli HT diterima dari Pos pantau, lalu dikabarkan melalui Radio Kelud FM, dilanjutkan ke para warga. Sehingga informasi satu arah secara valid,” jelasnya.

Saat proses terjadinya erupsi secara besar, meski di tengah kepanikan, terlihat respon bencana warga berjalan degan tertib. Seluruh anak muda melaju dengan roda dua, sedangkan evakuasi anak-anak, Lansia, dan ibu menyusui dengan roda empat.

Baca Juga :  Densus 88 Lakukan Penangkapan Terduga Teroris di Kabupaten Kediri

“Mereka (Kelud FM) membangun informasi agar tidak terpengaruh info yang salah. nengakibatkan keresahan warga. Yang berakibat keresahan dan sulitnya warga untuk diorganisir evakuasinya,” ucapnya.

Tepatnya ketika bencana erupsi gunung kelud terjadi, warga telah mempersiapkan diri dengan mengemasi barang-barang berharga. Sehingga keberhasilan penyelamatan korban jiwa dihasilkan secara maksimal, dengan penanganan cepat oleh pemerintah daerah.

Setelah 7 tahun diproduksi, Abdurrahman berharap ada hikmah yang dipetik dari film dokumenter ‘Frekuensi di Lereng Bencana’. Sehingga dapat menjadi pelajaran untuk mengantisipasi potensi bencana, dimasa yang akan datang.

“Setidaknya film seperti ini, ada kerjasama dari Masyarakat. Sehingga potensi kebencanaan terkait letusan gunung api dapat ditekan,” pungkasnya.

 

Pewarta: Anis Firmansah
Editor: Redaksi Satukanal

Kanal Terkait