Mengenal Hero Tito, Sang Juara Dunia Pekerja Keras | SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
BERITA

Mengenal Hero Tito, Sang Juara Dunia Pekerja Keras

Satuchannel.com, Kota Malang – Berprestasi di ajang internasional tak membuatnya nama petinju professional bisa hidup mencukupi di luar ring. Ironisnya, tak  sedikit mereka yang harus mencari kerja ekstra untuk mencukupi keseharian. Hal itu juga dialami juara dunia tinju kebanggaan Malang Heru Purwanto, pemuda asal Banjarejo, Pakis, Kabupaten Malang.

Populer dengan nama Hero Tito, pria 30 tahun itu bertugas juga sebagai tenaga bantu Non-ASN di Badan Pelayanan Pajak Daerah (BP2D), Kota Malang selama beberapa bulan ini.

 

Kesan tersebut tentu bertolak belakang dengan aksi garangnya saat menumbangkan petinju Thailand, Thongcai Kunram. Kala itu, berlangsung partai penting di Lospalos Gymnasium, Timor Leste. November tahun lalu.

Berkat kemenangan itulah, kini bapak dua anak itu menyandang status sebagai juara kelas ringan versi World Professional Boxing Federation (WPBF).

Baca Juga :  Dinas Pertanian Jombang Raih Penghargaan Atas Inovasi Barunya

Kendati demikian, tak ada yang berbeda dari keseharian Hero Tito, dia tetap menjalankan tugas sebagai staf di instansi pemerintahan tersebut di sela padatnya intensitas latihan yang harus dijalani.

“Jadi harus pandai mengatur waktu antara kerja sebagai staf dan berlatih. Bahkan saya bisa latihan juga di halaman belakang kantor. Beruntung pimpinan sangat memahami,” tutur Hero ramah.

Tercatat sejak tahun 2010 silam, Hero sudah menyabet gelar juara kelas bulu 57,1 kg versi Komisi Tinju Indonesia (KTI). Di tahun-tahun berikutnya, rentetan prestasi terus mengiringi kiprahnya. Mulai dari partai nasional, sampai tingkat Asia sudah dilakoninya sehingga kemudian mengantarnya ke tangga juara dunia.

Meski kariernya di atas ring terus meroket, namun bayang-bayang ketidakjelasan nasib sempat menghantui suami dari Siti Nurul Itu. Sebagai petinju profesional, bayaran yang diterima Hero setiap kali tanding tak tentu. Sedangkan interval pertandingan juga tak bisa dipastikan.

Baca Juga :  Gelar Acara Bimtek Musrenbang, Wakil Wali Kota Malang : Kinerja Laskar Perencana Harus Optimal

“Kadang dua bulan sekali, bisa juga empat bulan sekali baru kembali naik ring. Sementara gaji sebagai tenaga bantu Non-ASN juga tak lebih dari Rp 2 juta per bulan”, imbuhnya.

Kondisi itulah yang dulu pernah membuatnya berpikir untuk menerima pinangan dari luar negeri. Ayah dari Tasya Azahra itu mengungkapkan pernah ditawari promotor asal Australia untuk hijrah membela sasana di Negeri Kanguru.

“Menggiurkan sih. Tapi, kalau saya berangkat kesana, apa menjamin kehidupan saya lebih baik saat kembali ke Malang nanti,” gumamnya. (GUM)

Kanal Terkait