Mengenal Bantengan, Kesenian Tradisional Asal Kota Batu Yang Kental Akan Unsur Mistisnya - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Mengenal Bantengan, Kesenian Tradisional Asal Kota Batu Yang Kental Akan Unsur Mistisnya
BERITA HIGHLIGHT KOTA BATU STRAIGHT NEWS

Mengenal Bantengan, Kesenian Tradisional Asal Kota Batu Yang Kental Akan Unsur Mistisnya

Satukanal.com, Batu – Bantengan merupakan salah satu kesenian tradisional asal Kota Batu, Jawa Timur yang tak lekang oleh waktu. Bantengan sendiri merupakan salah satu pertunjukan seni yang menggabungkan seni tari, musik, bela diri serta syair/mantra yang sangat kental dengan nuansa mistisnya.

Pada dasarnya tarian bantengan merupakan perkembangan dari gerakan-gerakan pencak silat yang ditarikan sebagai hiburan. Walaupun begitu, saat ini kesenian tersebut telah lepas dari cabang pencak silat dan lebih dekat ke bentuk-bentuk tarian seperti reog, jaran kepang, dan barongsai.

Seni bantengan dalam penyampaiannya dibantu oleh sekelompok orang yang memainkan musik khas bantengan dengan alat musik berupa gong, kendang dan lain-lain. Kesenian ini dimainkan oleh dua orang laki-laki, yang satu dibagian depan sebagai kepalanya, dan satu lagi dibagian belakang sebagai ekornya.

Dahulu, bantengan merupakan salah satu seni yang sangat kental akan nilai mistisnya seperti terdapat beberapa adegan yang mempertunjukan pemain bantengan kesurupan arwah leluruh banteng (Dhanyangan), yang mengakibatkan seseorang kerasukan roh, hingga tidak terkendali sampai melakukan berbagai adegan ekstrim salah satunya memakan dupa.

Namun dalam perkembangannya saat ini, tidak semua kelompok bantengan memasukkan nilai mistis di setiap pertunjukannya. Sehingga, demi menarik minat penonton beberapa lebih menonjolkan gerak dan keindahan yang ditampilkan pada saat pertunjukan di mulai.

Pada kesenian Bantengan sendiri terdapat banyak simbol atau pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat yang menontonnya. Baik itu melalui gerakan-gerakan, kostum yang digunakan, alat-alat yang mengiringi gerakan dan juga tokoh-tokoh yang ikut serta dalam pertunjukan seni Bantengan.

Baca Juga :  Daur Ulang Sampah Jadi Produk Bernilai Ekonomi, Strategi DLH Kota Batu Tekan Volume Sampah Hingga 25 Persen

Pertunjukan Bantengan juga memiliki beberapa aspek yang wajib ada seperti, pemain yang menjadi banteng, harus dilengkapi dengan paling sedikit dua orang yang akan mengendalikan banteng dengan menggunakan tali tambang.

Saat pertunjukan dimulai, harus ada kelompok pemain musik dan seorang sesepuh yang berperan memanggil leluhur banteng untuk datang. Selain pengendali, terdapat juga pamong atau pawang yang mengendalikan banteng serta macanan dan monyetan yang menjadi penganggu banteng.

Di Batu, kesenian Bantengan telah dimulai sejak masa perjuangan. Di masa itu, pemuda disana banyak yang “nyantri” atau belajar ilmu Pencak Silat pada pondok pesantren di daerah Jombang. Saat “nyantri” sudah usai, mereka pun pulang dan mendirikan padepokan Pencak Silat.

Agar banyak yang tertarik mempelajari seni bela diri tersebut, mereka pun membuat sebuah kesenian dengan penokohan hewan banteng melawan macan. Penokohan tersebut bukanlah tanpa makna, hewan banteng yang cenderung hidup berkoloni melambangkan rakyat jelata, sementara macan mewakili penjajah Belanda.

Disamping kedua penokohan tersebut, ada satu lagi yakni penokohan monyet sebagai lambang provokator. Monyetan selalu berusaha memprovokasi banteng dan macan agar keduanya selalu bertarung.

Meski awalnya kesenian ini hanyalah merupakan pelengkap seni bela diri Pencak Silat, namun lambat laut berkembang menjadi kesenian yang berdiri sendiri di luar Padepokan Pencak Silat. Setelah berkembang pesat di Batu, kesenian Bantengan juga menyebar ke wilayah Pacet dan Mojokerto.

Baca Juga :  Kesegaran Buah Apel Rome Beauty, Jadi Oleh-Oleh Wajib Ketika Berkunjung Ke Kota Batu

Kesenian Bantengan di Batu juga memiliki salah satu keunikan lain seperti menampilkan atraksi debus yaitu memecahkan balok yang dipukulkan ke bagian tubuh. Aksi debus tersebut juga turut menjadi perhatian para penonton.

Saat menjelang acara puncak Bantengan, biasahnya terdapat puluhan peserta yang turut mengalami kesurupan. Namun, beberapa peserta yang kesurupan tersebut tidak dibiarkan begitu saja, keistimewaannya para peserta sebelumnya diruwat menggunakan air kembang tujuh rupa sebelum diberangkatkan.

Adanya keunikan serta kentalnya unsur mistis pada kesenian satu ini menyebabkan Bantengan tetap bertahan dan lestari di era moderen seperti saat ini. Prestasi membanggakan juga turut diraih Pemerintah Kota Batu melalui Dinas Pariwisata Kota Batu yang mendapatkan penghargaan langsung dari Gubenur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

Penghargaan yang diterima tersebut berupa Dua Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), bahwa kesenian Jaran Kepang dan kesenian Bantengan merupakan WBTB yang telah dilestarikan masyarakat Kota Batu secara turun menurun. Bahkan dua warisan tersebut, menurutnya sudah berkembang pesat dan sudah menjadi identitas budaya di Kota Batu.

 

 

 

 

Pewarta : Naviska Rahmadani
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait