Menelusuri Arah Politik Era Jokowi Jilid 2 | SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
imgonline-com-ua-resize-RFNLZX77xP
Dekan Fisip UMM, Dr. Rinikso Kartono, M.Si di Basement Dome UMM (18/12/2019) (Foto : Sherla Naya)
HIGHLIGHT ISU PILIHAN

Menelusuri Arah Politik Era Jokowi Jilid 2

SATUKANAL, MALANG – Kontestasi pemilihan pemimpin tertinggi NKRI telah usai dengan terpilihnya kembali Joko Widodo (Jokowi). Dalam periode kepemimpinan Jokowi Jilid 2, sejumlah isu terkait pluralisme, politik identitas, hadirnya keterlibatan milenial dalam era sekarang, menjadi sebuah fenomena menarik untuk dikaji.

Hadirnya identitas sebagai simbol yang melekat pada individu ataupun kelompok nampaknya dijadikan sebagai salah satu strategi politik kampanye yang tujuannya adalah meraih suara.

Hal ini tidak menjadi masalah apabila tidak menimbulkan keresahan sosial masyarakat. Namun strategi politik identitas dalam kontestasi elektoral yang berkembang cenderung berkembang ke arah destruktif yaitu keretakan relasi sosial masyarakat.

Sesungguhnya dalam pesta demokrasi seharusnya kontestasi dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih modern. Mengingat Indonesia adalah negara mayoritas muslim terbesar di dunia. Indonesia adalah negara multikultur dan Indonesia menjadi salah satu sorotan dalam percaturan politik dunia.

Dekan Fisip Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Rinikso Kartono mengungkapkan pentingnya akademisi untuk ikut membedah arah politik Jokowi, terutama pakar yang bergerak di ranah politik. Sehingga, masyarakat mengetahui secara persis apa yang dilakukan di pemerintahan Jokowi.

Baca Juga :  Tok! Komisi III DPR Setujui Listyo Sigit Prabowo Sebagai Kapolri

Dia mencontohkan beberapa kebijakan dan isu krusial yang diangkat Jokowi. Misalnya, saat Jokowi fokus membahas terkait permasalahan stunting di Indonesia.

Menurut Rinikso, pemilihan isu stunting perlu disorot ketika banyak permasalahan lain yang tengah dihadapi Indonesia di bidang kesehatan. “Ada banyak masalah, ketika momen bicara tentang kesehatan langsung menjadi momen penting. Kenapa harus stunting yang ditangani, berarti ini kan ada masalah ekonomi,” ujar Rinikso saat ditemui Satukanal.com.

Selain isu perekonomian dan kesehatan, Rinikso juga menyampaikan tentang nasionalisme di Indonesia. “Nasionalisme kita sudah bangkrut, analoginya saya menginginkan barang entah itu dari mana saja, yang penting tersedia dan tersedianya di China, jadi saya tinggal pilih di Alibaba,” ungkapnya.

Atas hal tersebut, Rinikso menilai nasionalisme sudah turun drastis tak mempedulikan produk lokal asli dalam negeri dan lebih memilih dari negara lain. “Pertanyaannya kini sampai kapan bangsa ini terdegradasi nasionalisme. Kemungkinan bila Jokowi dapat membangun peradaban ekonomi yang beradab bagi Indonesia maka hal tersebut bisa berakhir,” bebernya.

Baca Juga :  Presiden Jokowi Ajukan Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo Sebagai Calon Kapolri

Masalah demokrasi juga merupakan tantangan terberat bagi pemerintahan Jokowi. “Demokrasi kita masih criminal democracy, predator democracy. Apa yang terjadi hari ini karena pemimpin harus rutin kolaborasi dengan berbagai pihak. Ini tantangan kepemimpinan Jokowi untuk membawa Indonesia menjadi lebih baik lagi”, pungkasnya.

Problematika di atas adalah secuil persoalan yang muncul dari kompetisi pemilu tahun 2019, meskipun dalam ranah elitis sendiri sudah memberikan contoh dan gambaran terkait pentingnya menjaga kerukunan dan perdamaian. Salah satunya kolaborasi yang terjadi dalam Kabinet Indonesia Maju.

Akan tetapi persoalan tersebut faktanya di tataran sosial masyarakat masih menyisakan gemuruh perseteruan akibat dari faksi-faksi dukungan terhadap salah satu pasangan calon presiden saat itu.

Presiden Joko Widodo sendiri menyatakan 5 visi dalam pemerintahannya di periode kedua ini. Kelima strategi tersebut mencakup infrastruktur, pembangunan SDM, investasi, reformasi birokrasi, dan penggunaan APBN tepat sasaran. Kini masyarakat semakin kritis terhadap permasalahan di Indonesia terkait dengan janji Jokowi.

Pewarta: Sherla Naya
Redaktur: N Ratri

    Kanal Terkait