Menelisik Sejarah Ringin Contong Jombang, tatkala Brawijaya V Cetuskan 'Yo Ambang' - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
BERITA Kanal Feature Kanal Highlight

Menelisik Sejarah Ringin Contong Jombang, tatkala Brawijaya V Cetuskan ‘Yo Ambang’

Bangunan ikonik Kabupaten Jombang yang sarat dengan sejarah. Pernah menjadi persinggahan Raja Majapahit Brawijaya V yang sabdanya konon menginspirasi nama ”Jombang”. 

Anggit Puji – Jombang

Ringin Contong. Nama ini tak lepas dari dua wujud di lokasi tersebut. ‘Ringin” adalah pohon beringin besar. Lalu, ‘contong’ merupakan bangunan tandon air yang menjulang.

Terletak di persimpangan jalan protokol KH Wahid Hasyim, Jombang, Ringin Contong menjadi landmark Jombang. Rangkaian monumen dan pohon menjulang itu kini sudah bersolek. Kerap menjadi spot foto pengunjung yang melintas di kota beriman ini.  Eksistensinya sebagai ikon diperkuat keberadaan Taman ASEAN yang menjadi simbol perdamaian.

Nasrul Ilah,  sejarawan Jombang mengatakan, Ringin Contong ada sejak Mataram Kuno (Medang Kamulan) pada abad ke-7. Seperti pada umumnya pohon, ringin ini tumbuh subur di persimpangan jalan penghubung wilayah barat-timur dan utara-selatan. Karena akarnya, akhirnya menjadi penahan dan penyimpan air (sumber).

“Kerindangan pohon dan adanya sumber air menjadikan tempat istirahat para musafir atau orang dalam perjalanan,” ucap pria yang akrab disapa Cak Nas ini.

Baca Juga :  Pindah Tugas ke Provinsi, Kursi Sekda  Jombang Sementara Kosong

Lokasinya strategis. Dilintasi jalan lintas provinsi. Karena banyaknya orang yang singgah, agar air tidak melebar dan meluber, dibuatlah penahan dengan tujuan lebih bisa dimanfaatkan seperti di contong.

“Setelah itu ada yang menyebut dengan air di contong dekat ringin yang kemudian disebut Ringin Contong hingga saat ini,” jelasnya.

Semakin lama yang singgah makin banyak. Kalau semula hanya sebagai persinggaham musafir, akhirnya menjadi tempat interaksi bahkan transformasi pengalaman dan ilmu.

Ada kisah bersejarah yang mengaitkan Ringin Contong dan kerajaan Majapahit. Pada tahun 1478 M, ketika Brawijaya V mengunjungi putranya R. Patah yang menjadi Sultan Demak, beliau mampir ke Ringin Contong dalam perjalanannya ke barat. Di situ beliau banyak memberi wejangan, ilmu olah kanuragan dan jaya-kawijayan. Menurut sejarawan Imam Ghozali, Brawijaya V didatangi pimpinan padepokan yang sakti untuk ditantang adu kesaktian, karena muridnya banyak yag berguru ke Brawijaya V.

Baca Juga :  Peringati Gestok dengan Kirim Doa Pahlawan Revolusi untuk Hapus Sial Bangsa

“Ayo, ojo sok paling dung-deng. Tal lep Ringin Contong iki (ayo jangan merasa paling sakti. Saya tenggelamkan di Ringin Contong ini). Kemudian menjawab ‘Gak popo, yo ambang (tidak apa-apa, ya ambang),” ungkap Imam Ghozali menirukan percakapan tersebut. Kemudian kata ‘yo ambang‘ ini ada yang menyebut sebagai asal kata Jombang.

Menurut cerita rakyat, ikon menara dibangun semasa zaman penjajahan kolonial Belanda. “Masa Kolonial Belanda, sumber air itu dibuatkan kaptering air/tower, sebagai cadangan air kota Jombang,” jelas Cak Nas.

Bangunan yang terletak di Jl. KH Wachid Hasyim ini sering juga dianggap sebagai simbol kerukunan dan kesejahteraan oleh masyarakat Jombang. Ringin Contong juga dijadikan lambang semangat gotong royong dan saling tolong menolong.

Hingga kemudian, kini dekat Ringin Contong juga dibangun Taman ASEAN yang ada berdiri tegak bendera-bendera angota ASEAN disana. Ditemukan angka 1929 pada bangunan menara berwarna kuning hijau tersebut yang menunjukkan tanda selesainya pembangunan.

Editor : Danu Sukendro

 

Kanal Terkait