Menelisik Sejarah Kampung Topeng Malangan - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Menelisik Sejarah Kampung Topeng Malang
Kampung Topeng Malang (Foto: Chosa Setya/ Satukanal.com)
BERITA Kanal Feature Kanal Highlight

Menelisik Sejarah Kampung Topeng Malangan

Satukanal.com, Malang – Topeng Malangan menjadi satu dari sekian banyak kampung tematik di Kota Malang yang bisa dijadikan pilihan tempat berwisata. Berdirinya Kampung Tematik sendiri menjadi andalan Pemerintah Kota Malang sebagai wisata dalam kota.

Berbagai tema pun diusung masing-masing kampung, seperti Topeng Malangan ini. Diresmikan tahun 2017 yang lalu, seperti apa kisah perjalan Kampung Topeng sendiri?

Menurut Wahyu Setyawan yang merupakan salah seorang pengrajin topeng di Kampung Topeng, Berdirinya kampung ini merupakan sebuah kampung binaan dari Dinas Sosial (Dinsos) Kota Malang.

Awal berdirinya Kampung topeng ini sejak tahun 2016 lalu. Sementara, warga kampung topeng sendiri berasal dari gelandangan dan pengamen (gepeng) yang ada di sekitar Kota Malang.

“Jadi dulu dikumpulkan sama Dinsos untuk diberi tempat tinggal disini. Kemudian kami diberi pelatihan agar kedepannya bisa mengembangkan kampung dan tidak kembali kejalan,” ujar Wahyu

Pembinaan yang diberikan pun tidak hanya membuat topeng saja, namun juga berbagai keterampilan lain yang dapat dimanfaatkan oleh warga kedepannya.

Dari keterangan Wahyu, saat itu ada 10 orang perwakilan warga yang mendapatkan pembinaan secara intensif oleh Dinsos.

Baca Juga :  Bakal Berlangsung September, MFC Naik Kelas

Hingga pada tahun 2017 Kampung Topeng diresmikan oleh Walikota Malang periode 2013-2018 yakni, Mochamad Anton.

Tidak hanya itu, Kampung Topeng juga sempat mendapat penghargaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, saat melakukan kunjungan disana.

Selain itu, Kampung Topeng memiliki dua topeng raksasa yang menjadi ikon utama. Yakni Topeng Raden Panji dan Dewi Sekartaji. Berukuran raksasa, kedua topeng tersebut merupakan karya dari warga setempat.

Topeng yang berbahan dasar fiber, kala itu warga sengaja patungan untuk membuat ikon yang tidak dimiliki kampung tematik lain di wilayah Kota Malang.

Tidak hanya dua topeng ikonik itu saja, Kampung Topeng juga dilengkapi ornamen-ornamen topeng di sepanjang pintu masuk. Mulai dari kumpulan topeng yang dipajang dalam papan besi, maupun topeng yang sengaja di tempel pada lampion-lampion buatan.

Selain itu juga ada area bermain anak serta wisata edukasi topeng. Edukasi topeng sendiri merupakan media pembelajaran bagi pengunjung yang ingin tahu proses pembuatan topeng.

Untuk berkunjung ke Kampung Topeng, masyarakat tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam, karena harga tiket masuk sangat terjangkau hanya 5 ribu rupiah saja. Tidak hanya itu, pengunjung juga akan mendapatkan souvenir khas kampung topeng.

Baca Juga :  Menyelami Sosok Yudit, ASN Kolektor Wayang Khas Malangan

Sayangnya dalam hal pengelolaan, Wahyu mengungkapkan bukan warga kampung yang menjadi pengelola utama. Melainkan masih dibawah naungan Dinsos Kota Malang.

“Jadi kita hanya bantu-bantu kebersihan, jaga tiket dan lain-lain. Untuk pengelolaan semua dipegang Pokdarwis dan Dinsos, kita hanya yang kerja disana ya digaji gitu saja,” terangnya.

Saat kondisi pandemi saat ini tentunya kunjungan ke Kampung Topeng merosot tajam. Jika sebelumnya bisa mencapai 500 pengunjung dalam sehari, kini satu orang pun tidak ada yang datang kesana.

Inilah yang membuat kondisi kampung topeng menjadi memprihatinkan. Ditambah lagi dengan dinas terkait yang kini makin acuh terhadap warga kampung topeng.

“Ya kami berharap dinas bisa membantu untuk sounding agar wisata disini bisa jalan lagi. Karena kan kami juga butuh biaya untuk perawatan. Supaya kita bisa jalan lagi,” pungkas Wahyu

 

 

Pewarta: Chosa Setya Ayu Widodo
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait