Membangkitkan Awareness Kekerasan Seksual Melalui Film “Penyalin Cahaya" - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Membangkitkan Awareness Kekerasan Seksual Melalui Film “Penyalin Cahaya"
Shena Cinnamon sebagai pemeran utama di Film "Penyalin Cahaya" (Foto: Instagram @penyalincahaya)
BERITA Kanal Artikel

Membangkitkan Awareness Kekerasan Seksual Melalui Film “Penyalin Cahaya”

Satukanal.com, Nasional-  Penanganan isu kekerasan seksual terhadap perempuan di Tanah Air seakan tak ada habisnya. Angka kekerasan seakan tak kunjung melandai. Terlebih, di saat pandemi Covid-19 seperti saat ini yang mengharuskan orang-orang bekerja dari rumah atau work from home (WFH).

Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), ada 419 kasus anak menjadi korban kekerasan seksual pada 2020. Posisi kedua ditempati oleh anak yang mengalami kekerasan fisik, yakni 249 kasus sepanjang tahun lalu. Sebanyak 119 anak menjadi korban kekerasan psikis.

Kemudian, 21 anak mengalami kecelakaan lalu lintas. Anak yang menjadi korban sodomi/pedofilia dan penculikan masing-masing mencapai 20 kasus. Sementara, anak yang menjadi korban pembunuhan dan kepemilikan senjata tajam masing-masing sebanyak 12 kasus.

Hal tersebut seakan juga memperlihatkan bahwa kekerasan seksual terus saja terjadi. Bahkan, sudah dianggap jadi masalah darurat yang harus segera diatasi. Terinspirasi dari realitas ini, sutradara muda berbakat Wregas Bhanuteja pun mengankat isu tentang kekerasan seksual ke dalam film “Penyalin Cahaya”.

Wregas mengatakan bahwa masalah tersebut sudah darurat dan penting untuk disuarakan melalui medium film. Ia melihat kasus kekerasan seksual sering disepelekan oleh masyarakat. Bahkan, para korban atau penyintas sering mendapat stigma negatif dan tidak mendapat dukungan.

Baca Juga :  Wilayah PPKM Level 2 - 3 Boleh Gelar Resepsi Pernikahan

“Kasus ini seringkali membawa hal yang menyakitkan bagi penyintas seperti kesehatan mental, trauma, depresi, itu banyak muncul karena dia tidak dipercaya. Begitu dia bercerita, dia tidak mendapat dukungan, dia disanksikan diragukan, seolah apa yang dialami itu mengada-ada dan bagian dari kewajaran,” ujar Wregas seperti dikutip dari Antara (03/09/2021).

Menurutnya, banyak diantara penyintas kekerasan seksual yang berusaha untuk memadamkan kisahnya karena support lingkungan mereka yang kurang. Kederadaan film ini, katanya, sekaligus untuk membangkitkan awareness akan pentingnya menyuarakan soal kekerasan seksual.

Lebih lanjut, disebutkan olehnya bahwa sebelum memulai pembuatan ceritanya, ia melakukan riset dari berbagai macam berita serta mengumpulkan cerita dari orang-orang di sekitarnya. Terlebih, beberapa waktu lalu ada kisah dari Baiq Nuril yang justru dituntut balik karena melaporkan kasus kekerasan seksual yang menimpanya. Hal ini pulalah yang menajdi salah satu inspirasinya.

Dari hasil risetnya itu, Wregas kemudian merangkumnya dan menjadikan permasalahan inti dari karakter Sur yang diperankan oleh Shenina Cinnamon. Kisah ini kita rangkum dan pilih, kita tajamkan untuk menjadi dasar dari yang dialami Sur. Yang paling kuat tentu saja Sur yang melawan sistem yang tidak mendukung penyintas untuk mengungkap kebenaran,” kata Wregas.

Baca Juga :  6 Rekomendasi Makanan Antikanker yang Sehat Dikonsumsi

Judul Penyalin Cahaya diambil Wregas Bhanuteja karena terinspirasi dari fotokopi. Judul tersebut dianggap cocok dengan isu yang diangkat, yakni mengajak para penonton lain untuk ikut bersuara melawan kekerasan dan pelecehan seksual.

“Di tengah sistem yang corrupt, di tengah sistem yang tidak adil, melawannya adalah dengan semangat kolektif, semangat kebersamaan, dan harapannya semangat itu tersalin, terlipatgandakan,” kata Wregas dikutip dari Kompas.

Film “Penyalin Cahaya” sendiri masuk dalam program kompetisi utama New Currents di ajang Busan International film Festival (BIFF) 2021. Film ini akan melakukan World Premiere di salah satu festival film terbesar di Asia Tersebut.

Keikutsertaan “Penyain Cahaya” dalam festival film Busan juga sebagai tempat untuk penanyangan perdananya. Dengan begitu, isu terkait kekerasan seksual dapat dengan mudah disebarkan kepada masyarakat dunia.

Busan International Film Festival adalah salah satu target untuk menggaungkan suara itu. Apalagi, isu kekerasan seksual menjadi hal yang penting, selain film itu sendiri yakni isu yang bisa diamplifikasi tak cuma di Indonesia tapi dunia.

 

Penulis : Adinda
Editor: Ubaidhillah 

Kanal Terkait