Mekanisme Berbeda, Pupuk Subsidi di Kabupaten Malang Disebut Langka - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Mekanisme Berbeda, Pupuk Subsidi di Kabupaten Malang Disebut Langka
BERITA HIGHLIGHT STRAIGHT NEWS

Mekanisme Berbeda, Pupuk Subsidi di Kabupaten Malang Disebut Langka

SATUKANAL.com, MALANG– Mengenai kabar kelangkaan subsidi pupuk bagi petani di Kabupaten Malang, Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang turut memberikan pendapatnya.

Budiar Anwar selaku Kepala DTHP Kabupaten Malang mengkiaskan bahwa pupuk bersubsidi di Kabupaten Malang sebenarnya tidak langka. Terkait ketentuan pupuk bersubsidi juga telah diatur oleh pemerintah pusat.

Menurut Budiar, petani harus benar-benar memahami skema dan tata cara mendapatkan pupuk bersubsidi, apalagi sudah ada kartu tani. “Kartu tani dapat digunakan, untuk menghindari manipulasi dan sebagainya. Meski penerapannya perlu transisi, namun harapannya para petani dapat menggunakannya,” ungkapnya.

Baca Juga :  Pemkab Malang Gandeng PT Telkom Wujudkan Digitalisasi di Sektor Pertanian

Sementara itu, terkait pembagian kartu tani ditugaskan pada pihak perbankan yakni BNI 46. Untuk data petani di Kabupaten Malang didapat melalui e-RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok tani). Sedangkan, distribusi pupuk diberikan pada pupuk Indonesia holding company.

Lebih lanjut, Budiar menyadari jika sejumlah petani di Kabupaten Malang belum memahami mekanisme penyaluran pupuk bersubsidi dengan menggunakan kartu tani. “Hal inilah yang menyebabkan pupuk langka yaitu terkait mekanismenya,” lanjutnya.

Infrastruktur Kartu Tani baru berbenah, kata Budiar. Begitu pula dengan Bank BNI yang berusaha untuk terus mensosialisasikan penggunaan kartu tani dan mekanisme pemberian pupuk, sehingga distribusi belum lancar. Meskipun barangnya sudah ada.

Baca Juga :  Gunakan Inquiry Learning, Hadapi Tantangan Pembelajaran 4.0

Menyikapi kondisi tersebut, sejumlah petani juga memiliki alternatif dalam penggunaan pupuk. Mereka memilih untuk menggunakan pupuk tidak bersubsidi. Budiar menganggap, tindakan rasional petani dalam memilih pupuk tidak bersubsidi memang sewajarnya terjadi.

Apalagi pupuk bersubsidi tidak selamanya akan diberikan. Para petani harus siap beradaptasi di segala kondisi. “Seperti dengan menggunakan pupuk non subsidi atau pupuk organik,” ungkapnya.

 

 

 

Pewarta: Adinda
Editor: Redaksi Satukanal

 

Kanal Terkait