Bermula dari Tugas Mendekor Aula Arhanud, Keterusan Jadi Eksportir Tanaman Hias - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Bermula dari Tugas Mendekor Aula Arhanud, Keterusan Jadi Eksportir Tanaman Hias
Mayor Arhanud Eko Gestiono, TNI AD Pengekspor Tanaman Hias Hingga Mancanegara (Foto: Agta Wildan/ Satukanal.com)
BERITA Kanal Figur Kanal Highlight

Bermula dari Tugas Mendekor Aula Arhanud, Keterusan Jadi Eksportir Tanaman Hias

Kesan disiplin dan formalitas memang tak bisa lepas dari sosok tentara. Di sisi yang lain, Mayor Arhanud Eko Gestiono mengembangkan estetika dalam dirinya, dengan kecintaannya terhadap tanaman hias. Hobi yang justru menambang pundi dolar.

Satukanal.com, BatuWildan Agta

TENTARA identik dengan senjata dan sistem pertahanan negara. Lalu, bagaimana dengan tentara yang dikelilingi oleh keindahan tanaman?

Mayor Arhanud Eko Gestiono, sosok perwira ini berjibaku dengan tanaman hias. Dari sekadar hobi, tanaman hias menjadi bisnis yang memiliki prospek cerah.  Eko piawai mengintip peluang. Hingga, tanaman hiasnya terbang ke beberapa negara.

Siapa sangka, hobi itu bermula dari sebuah cerita yang tak terduga. Pada 2019, Mayor Eko diberi tugas mendekor aula Dohar di area Pusdik Arhanud Malang. Padahal, dia tak memiliki pengalaman dalam urusan dekorasi.

Namun, tidak ada kata “tidak bisa” dalam kamus prajurit. Bermodal nekat, Eko berbelanja bunga untuk kebutuhan dekor pada petani sekitar Batu. Sekayuh dua tiga pulau terlampaui. Sembari mencari bahan, bapak tiga anak tersebut mulai belajar ilmu tanaman.

Setelah mengetahui beberapa ilmu tentang tanaman, ketertarikannya muncul. Prospek jangka panjang yang dirasa menjanjikan menjadi latar belakangnya.

“Dulu saya ingat pertama kali beli tiga pot anthurium seharga Rp 450 ribu. Ternyata yang saya beli dengan murah itu memiliki kualitas bagus,” ucapnya. Tumbuhannya tersebut hanya bertahan satu hari di kediamannya. Seorang teman yang ikut komunitas tanaman hias membeli tanaman itu dengan harga empat kali lipat.

Eko sempat beralih ke bonsai beberapa tahun. Keunikan dan seni di dalamnya menjadi alasannya. Dia merasa penasaran dengan pembudidaya bonsai. Pembuatannya yang memakan waktu lama dan ketelatenan lebih dianggap mengasyikkan.

Baca Juga :  Pemkot Batu Berikan Bantuan Beras 1.977 KK

Relasi dari komunitas pecinta tanaman hias mendorongnya kembali ke bidang lama. Pria yang tinggal di Kecamatan Batu ini mengungkapkan jika pernah menjadi ketua komunitas pecinta antorium.Namun, perbedaan sudut pandang dan kesulitan dalam mengatur banyak orang. Membuatnya lebih menyukai jalur independen.

Eko mengungkapkan, mindset petani harus diubah. Mereka masih menggunakan konsep “jual habis” tanpa memikirkan prospek jangka panjang. “Menurut saya tanaman hias seperti anthurium memiliki keuntungan jangka panjang. Maka dari itu saya bergerak sendiri. Saya sempat memiliki tujuan untuk membuat anthurium sebagai ikon Kota Batu,” ujarnya.

Pemikiran untuk bisa menjualnya hingga mancanegara pun muncul. Ia belajar secara otodidak dari internet. Didukung relasi pendukung akhirnya dia berhasil menjual tanaman hiasnya ke luar negeri.

Beberapa persyaratan juga dipenuhi. Salah satunya kepemilikan badan usaha. Setelah tuntas, bisnisnya pun mulai melebar. Amerika, Belgia dan Polandi adalah contoh negara langganannya. Dalam sekali kirim, ia bisa mengirim tanaman hias hingga 650 pot.

Harga yang mahal tentu tak jadi masalah bagi para konsumen. Mereka rela merogoh kocek dalam demi tanaman langka. Padahal dulu menurutnya tanaman primadona tersebut seakan-akan tak dihiraukan dan tidak memiliki nilai jual.

Rata-rata anthurium dan philodendron dihargai, mulai Rp10 juta – Rp30 juta per tanaman. Pada tiap bulannya pasti ada saja permintaan dari luar negeri. Bahkan stok yang ada sering kurang untuk mengimbangi permintaan.

Baca Juga :  Tambahan Bunga Tambah Keelokan Baloga

“Itu yang membuat harganya tinggi. Semakin langka barang tentu semakin mahal harga yang dipatok,” beber pria yang lahir di Ambarawa 31 Maret 1966 tersebut. Untuk menyiasati kekurangan barang, ia melakukan kerja sama dengan beberapa petani lokal.

Permintaannya pada beberapa bulan terakhir memang menurun. Sebab, Eropa dilanda musim salju. Akhirnya, pengiriman dipending.

Penurunan tersebut dicerna para petani sebuah kemunduran. Ada sebagian dari mereka memilih beralih ke tanaman lain. Padahal momen ini menurutnya sangat cocok untuk dimanfaatkan. Mengumpulkan bibit sebanyak mungkin. Karena di bulan Maret, Eko memprediksi permintaan mulai kembali naik.

Sedangkan, pengiriman daerah Asia masih stabil. Contohnya negara Filipina dan India. Perjalanannya di dunia tanaman hias dibarengi dengan kesibukan dinas dinilainya tak menjadi masalah.

Dia bisa merawat tanamannya sepulang dinas. Jika lahan yang dimiliki kurang, dia juga bisa menitipkannya ke petani-petani lain. “Hal itulah alasan mengapa usaha ini cukup menjanjikan dan mudah dilakukan. Tidak perlu waktu lama maupun perawatan ribet,” ungkapnya.

Pembelian ataupun penjualan juga bisa dilakukaan lebih mudah. Adanya sosial media sangat berperan didalamnya. Belajar dahulu sebelum terjun untuk menggeluti secara langsung menjadi pesannya. Apalagi kini banyak orang yang hanya menyukai sesuatu karena ikut-ikutan.

“Manfaatkan pekarangan yang terbengkalai. Karena usaha ini sangat menjanjikan dan mudah pemasarannya. Latihan dulu budi daya dari yang murah, jika mahir mulai beralih ke yang sedang tren,” tutupnya.

Editor : Danu Sukendro

Kanal Terkait