Mayang Rontek, Tarian Khas Mojokerto Menyiratkan Nilai Filosofis Kehidupan - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Mayang Rontek, Tarian Khas Mojokerto Menyiratkan Nilai Filosofis Kehidupan
STRAIGHT NEWS

Mayang Rontek, Tarian Khas Mojokerto Menyiratkan Nilai Filosofis Kehidupan

SATUKANAL.com, MOJOKERTO– Siapa sangka, daerah yang terletak 50 kilometer dari Kota Surabaya ini memiliki tarian khas. Sama seperti Banyuwangi dengan tarian Gandrung, Ponorogo dengan tari Reog, Mojokerto juga punya tarian khas yang beranam Mayang Rontek.

Mojokerto yang dulunya merupakan wilayah pusat kekuasaan Kerajaan Majapahit, tentunya mewarisi ragam budaya yang berasal dari Kerajaan Majapahit. Jarak antara masa Kerajaan Majapahit di abad ke-13  dan sekarang sudah terpaut cukup jauh, sehingga tidak bisa dipungkiri budaya Majapahit telah bertansformasi menyesuaikan zaman.

Salah satu bentuk budaya Majapahit yang mengalami proses tersebut adalah pengantin Mojoputri yang mengilhami terciptanya sebuah tarian. Pengantin Mojoputri merupakan prosesi adat pernikahan (manten) yang terdapat dalam masyarakat mojokerto.

Dulunya, pengantin Mojoputri menjadi budaya yang tidak pernah ditinggalkan dalam setiap gelaran upacara perkawinan. Mulai dari seserahan hingga tata riasnya, prosesi pengantin Mojoputri memiliki keunikan tersendiri.

Tata rias pengantin Mojoputri merupakan perpaduan antara dandanan gaya majapahit, Islam, Demak-Mataram dan Belanda. Sedangkan jago-jagoan, dol tinuku, bantal, guling dan tikar (kloso) menjadi seserahan wajib dari pengantin Mojoputri.

Dilansir dari Proceeding Sendesunesa 2017, Puspitaning Wulan mengungkapkan jika Bupati Mojokerto era 1990 yaitu Machmoed Zain melihat keistimewaan pengantin Mojoputri. Kemudia, ia mengutus Setu (seorang seniman) untuk menghadirkan tarian sebagai pelengkap prosesi adat.

Sejak awal dekade 90-an, Setu mulai menggarap dan merekontruksinya sehingga lahirlah sebuah atrian yang elok. Tarian ini kemudian dinamakan Mayang Rontek. Nama ini sejatinya berasal dari ubahrampe (segala perlengkapan pengantin).

Baca Juga :  Bernah De Vallei, Berkonsep Ekowisata Cocok Dikunjungi Keluarga

Kata “Mayang” memiliki arti tongkol bunga atau kembang. Lalu, kata “rontek” merupakan hiasan rumbai-rumbai yang berada di atas tombak. Jika digabungkan, arti dari Mayang Rontek adalah sebuah kembang mayang yang merumbai-rumbai berbentuk bunga sebagai bunga persembahan dalam pernikahan.

Pada tahun 1993, tari Mayang Rontek mulai dikenal oleh masyarakat dan dijadikan dalam prosesi pengantin Mojoputri. Tarian ini banyak ditampilkan setelah acara bedhol manten (temu manten) Mojoputri.

Tiga tahun kemudian, tepatnya 1996, Bupati Machmoed Zein menetapkan Mayang Rontek sebagai seni tari khas Kabupaten Mojokerto. Dan sejak saat itu, Tari Mayang Rontek dipentaskan di berbagai tempat.

Mayang Rontek ditarikan oleh remaja putri sebagai simbol manten (mempelai perempuan) dalam pengantin Mojoputri. Tari Mayang Rontek dapat dibawakan tunggal maupun kelompok. Untuk kelompok, biasanya ditarikan minimal lima oraang dan maksimal sembilan orang.

Lebih lanjut, disebutkan bahwa tari Mayang Rontek bercerita mengenai prosesi dari adat Pengantin Mojoputri. Tarian memiliki mengandung makna yang mendalam. Setiap gerakannya menyiratkan nilai filosofis kehidupan.

Dalam Jurnal Greget ISI Surakarta tentang makna filosofis tari Mayang Rontek dapat dikategorikan menjadi tiga bagian yakni pembuka, inti dan penutup. Gerak tari di bagian pembuka cenderung lemah lembut dan irama yang penuh ketenangan. Hal ini menujukkan kepasrahan sebagai manusia untuk berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Baca Juga :  Bernah De Vallei, Berkonsep Ekowisata Cocok Dikunjungi Keluarga

Selanjutnya, bagian inti secara umum menggambarkan perjalanan hidup manusia. Gerakan lebih lugas, patah-patah dan bervariasi yang menyimbolkan lika-liku kehidupan, di mana manusia semasa hidupnya seringkali mendaparkan cobaan dan ujian. Sehingga, manusia diharapkan bis abelajar dan sabar dengan segala situasi yang dialaminya.

Terakhir, bagian penutup mempunyai gerakan yang tegas dan dinamis. Gerakan ini melambangkan penyelesaian manusia dalam menghadapi setiap rintangannya. Maslah yang hadiir di kehidupan manusia senantiasa diberikan jalan keluarnya, karena Tuhan tidak akan memberikan ujian melampaui batasan mahluknya.

Sementara itu, iringan Mayang Rontek yaitu gending Giro Jaten. Gending ini bermakna kesungguhan paraemmpelai dalam menjalani pernikahan. Sebagai bagian dari pengantin Mojoputri, iringan tari Mayang Rontek menambah kesan sakral dalam ssebuah pernikahan yang suci.

Selain itu, kearifan nilai-nilai kehidupan juga dapat ditemukan dalam kostum tari Mayang Rontek. Kostumnya merujuk pada busana pengantin Mojoputri tetapi dengan bentuk yang lebih sederhana. Terdapat kain penutup gelung, wolo (kain bokongan dari satin), sabuk, sampur, kebaya lengan panjang dan jarik.

Uniknya, kebaya Tari Mayang Rontek dominan berwarna pakem kuning. Warna kuning menggambarkan rasa kasih sayang atau cinta kasih. Rasa cinta kasih sangat diperlukan manusia dalam menjalani kehidupan yang damai dan tentram.

 

 

 

 

Pewarta: Adinda
Editor: Redaksi Satukanal

Kanal Terkait