SATUKANAL.COM
Permohonan Dispensasi Usia di Kabupaten Kediri
Kasi Bimas Islam Kemenag Kabupaten Kediri Abdul Kholiq Nawawi. (Foto: Isnatul Chasanah)
BERITA HIGHLIGHT ISU PILIHAN

Masih Krisis Nikah Dini, Permohonan Dispensasi Usia di Kabupaten Kediri Sangat Tinggi

SATUKANAL, KEDIRI – Kabupaten Kediri masih mengalami krisis nikah dini. Indikatornya, dari tingginya jumlah permohonan dispensasi usia menikah di wilayah tersebut.

Angka permohonan dispensasi menikah di Kabupaten Kediri terbilang sangat tinggi. Per 31 Januari 2020, ada 82 permohonan dispensasi menikah.

Jumlah tersebut meningkat jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan angka ini, ditengarai akibat pemberlakuan UU nomor 16 tahun 2018 tentang Perkawinan.

Pasal I undang-undang tersebut mengatur usia minimal perkawinan untuk laki-laki maupun perempuan adalah 19 tahun. Artinya, jika umur calon pengantin di bawah batas itu maka terkategori pernikahan dini.

UU tersebut merupakan perubahan dari Pasal 7 UU nomor 1 tahun 1974 yang sebelumnya menetapkan batas usia minimal menikah untuk perempuan adalah 16 tahun dan laki-laki 19 tahun.

Baca Juga :  Imigrasi Kediri Batasi Pelayanan Mulai Hari Ini

Kasi Bimas Islam Kantor Kemenag Kabupaten Kediri Abdul Kholiq Nawawi mengatakan, ada perubahan aturan yang merujuk pada UU tersebut. Yakni, perempuan yang belum berusia 19 tahun dan ingin menikah, wajib mengajukan izin ke Pengadilan Agama.

“Dari 82 pengajuan di bulan Januari 2020, yang dikabulkan 71 pengajuan,” ungkap Kholiq.

Kantor Kemenag melalui Kantor Urusan Agama (KUA) tetap berkewajiban melaksanakan pernikahan, jika calon pengantin sudah memiliki izin menikah di usia kurang dari 19 tahun dari Pengadilan Agama.

Namun demikian, Kholiq menjelaskan, Kemenag melakukan antisipasi dengan meluncurkan Bimbingan Perkawinan Pranikah bagi Pasangan Pengantin.

“Karena, untuk menikah perlu pendewasaan usia. Bimbingan itu untuk pasangan pengantin yang sudah mendaftar di KUA maupun bagi adik-adik remaja,” imbuh pria berkacamata ini.

Baca Juga :  Dikirimi Somasi, Kepala SMPN 1 Kediri: Saya Tidak Menerima

Ia berharap, bimbingan ini bisa mengurangi problem pernikahan bagi pasangan pengantin dengan usia rentan. Tingginya angka pernikahan sebelum usia 19 tahun tersebut, menurut Kholiq, salah satunya karena faktor budaya.

“Wilayah yang secara sosio-budayanya (berpegang pada kebudayaan) klasik, atau Jawa Kuno-nya masih kental. Sehingga dari sisi pendidikan agak ketinggalan,” ungkapnya.

Sebab, kondisi di masyarakat ada yang masih meyakini jika anak usia 16-19 tahun tidak segera menikah, seakan-akan suatu aib. Meski mereka sebenarnya masih usia sekolah, rata-rata secara ekonomi tidak mampu untuk sekolah. Sehingga, pilihan paling akhir adalah menikahkan anak.

Pewarta: Isnatul Chasanah

Redaktur: N Ratri

    Kanal Terkait