Mahalnya Cabai, Antara Jeritan Hati Emak-Emak dan Gagal Panen Petani - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Mahalnya Cabai, Antara Jeritan Hati Emak-Emak dan Gagal Panen Petani
HIGHLIGHT LIPUTAN KHUSUS

Mahalnya Cabai, Antara Jeritan Hati Emak-Emak dan Gagal Panen Petani

Meroketnya harga cabai rawit yang merata di Indonesia dikeluhkan oleh sebagian masyarakat. Supply terganggu karena gagal panen petani cabai akibat cuaca ekstrem. Berikut penelusuran satukanal.com terkait mata rantai kenaikan harga cabai di Malang dan Kediri.

SENSASI pedas jadi bagian yang sulit dipisahkan dari lidah Siti. Tiap masakannya selalu bernuansa merah. Tak pernah lepas dari gerusan cabai rawit. Tapi, warga Sumbersekar Dau, Kabupaten Malang ini harus mengorbankan seleranya.

“Saat ini harga cabai naik sampai Rp120 ribu per kilogramnya. Jadi, kalau beli cabai tidak banyak-banyak. Hanya beli secukupnya saja untuk sambal,” kata Siti.

Tuntutan lidah Siti dan keluarganya ini mewakili jutaan masyarakat Indonesia yang demen pedas. Mereka merasa diberatkan oleh meroketnya harga cabe di tingkat pedagang. Cabai memang bukan komoditi pangan yang utama. Tapi, tanpa kehadirannya, serasa ada yang kurang di dapur.

Stoknya mulai langka/foto: Ubaidhillah
Stok cabai mulai langka/foto: Ubaidhillah

Di pasaran Kediri dan Malang, Jawa Timur, harga cabai mengalami kenaikan lebih dari dua kali lipat pada dua bulan terakhir. Pantauan satukanal.com di Pasar Pagu, Kabupaten Kediri, Senin (15/3/2021) harga cabai mencapai Rp120 ribu. Sebuah lonjakan harga yang signifikan mengingat pada Desember 2020, harga cabai masih berkisar Rp50 ribu/kg.

“Lalu, pada bulan Januari mulai naik Rp60 ribu/kilogram. Kalau Rp100 ribu belum lama. Masih sebulanan ini. Naik lagi jadi Rp120 ribu per kilogram sekarang ini,” tutur Ahmad Munif, pedagang di Pasar Pagu.

Setali tiga uang, hal serupa terjadi di Pasar Landungsari Kabupaten Malang. Kenaikan harga cabai rawit ini mengalami puncaknya pada Maret 2021, seiring menipisnya stock cabai pedagang. “Dua minggu masih Rp100 ribu/kg. Tapi sekarang sudah mulai naik lagi jadi 120 ribu. Namun sampai sekarang cabai juga masih langka,” ujar May, salah seorang pedagang.

Sebagian cabai rawit yang May dapat dari pengepul kondisinya juga tidak telalu bagus. Ada yang mulai busuk. Sebagian lagi terkena cacar. “Karena kualitas cabai kurang bagus jadi tidak berani ambil cabai banyak-banyak. Biasahnya perhari saya ambil dari petani atau pengepul itu 20-15 kilogram, tapi sekarang cuma 15 atau 10 kilogram saja,” ujarnya.

Secara umum, kenaikan harga cabai ini menimpa Jawa Timur. Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur rata-rata harga cabai rawit pada 15 Maret 2021 di Jawa Timur adalah Rp111.941,00. Harga cabai tertinggi di Kabupaten Ngawi, Rp128.333/kilogram. Sementara, harga terendah di Probolinggo, Rp85 ribu/kg.

Baca Juga :  Bulog Cabang Kediri Optimalkan Serapan Gabah Beras di Panen Raya 2021

Berikut rincian harga cabai di berbagai kota di Jawa Timur per 15 Maret 2021 yang bersumber dari Sistem Informasi Ketersediaan dan Harga Bahan Pokok di Jawa Timur (siskaperbapo.com):

Terganggunya Supply, Akibat Kelangkaan Stok Cabai

Dari perspektif ekonomi, supply dan demand menjadi mata rantai di balik kenaikan harga cabai rawit belakangan ini. Namun, faktor supply lebih dominan.

“Memang sebenarnya permintaan tidak terlalu berpengaruh signifikan. Yang lebih banyak yaitu faktor supply,” ujar Wildan Syafitri, pengamat Ekonomi dari Universitas Brawijaya Malang.

Tersendatnya supply atau pasokan cabai tak lepas dari faktor cuaca yang berujung gagal panen cabai. “Curah hujan yang tinggi mempengaruhi penurunan produksi di berbagai tempat, misalnya di Kediri. Karena pusat cabai itu kalau di Malang itu asalnya di Kediri,” terang Wildan.

Cuaca Ekstrem Penyebab Kerusakan Cabai

Cabai rusak/foto:Naviska

Memang, meroketnya harga cabai berbanding lurus dengan minimnya stok. Realitasnya, tanaman cabai di beberapa sentra produksi gagal panen. Kondisi yang tak lepas dari cuaca/iklim yang ekstrim disertai curah hujan yang tinggi sejak awal tahun.

Serangan penyakit juga tak bisa ditampik. Seperti daun keriting, buah rontok, serangan lalat buah dan penyakit lainnya.

“Kondisi tersebut mengakibatkan produksi cabai rawit di sentra produksi di Kabupaten Kediri khususnya berdasarkan luas tanam mengalami penurunan sekitar 10 hingga 15 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya,” ungkap Suyono, Ketua Paguyuban Asosiasi Petani Cabe Indonesia Jawa Timur dikutip dari website Kominfo Jawa Timur.

Sengsara dan Berkah Petani Cabai

Di tengah pedihnya sebagian petani gagal panen, kelangkaan cabai juga disambut gembira oleh para petani yang panen. Mereka merasakan kenaikan harga cabai hampir 10 kali lipat dibanding setahun silam. Seperti dialami oleh petani di Kediri, Jawa Timur.

“Tahun lalu harga cabai berada di kisaran Rp9.000,00 hingga Rp10 ribu per kilogram, sekarang saya bisa jual Rp98 ribu/kg, kalau kualitas bagus sampai Rp105 ribu/kg,” ujar Heri Setyawan, petani asal Desa Paron, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri.

Baca Juga :  7.226 Lansia Kota Malang Terima Bantuan Pangan Dengan Skema Baru

Setelah ditampung oleh pengepul, cabai rawit didistribusikan ke pedagang-pedagang di pasar Kota/Kabupaten Kediri dengan harga Rp 110 ribu/kg. Pedagang melepas ke pasaran dengan mengambil keuntungan Rp10 ribu/kg.

Alur Pemasaran Lintasi Beberapa Pengepul

Jika di Kabupaten Kediri harga cabai sudah tinggi dari tingkat petani, sementara di Malang, petani mematok harga cabai dengan lebih rendah yakni Rp80 ribu/kg. Kenapa sampai pasaran Rp120 ribu/kg, semua tak lepas ada beberapa tingkat pengepul.

“Harga cabai yang saya tentukan saat ini adalah Rp 80 ribu. Penyebab harga cabai terus naik karena turun ke beberapa pengepul, sudah naik Rp 10 ribu, lalu ke pengepul lain bisa naik Rp 10 ribu bahkan lebih, lalu ke para pedagang ya seperti sekarang jadi Rp 120 ribu perkilonya,” kata Wahyudi, petani asal Landungsari, Kabupaten Malang.

Begitulah. Kenaikan harga cabai ini mengobati pelipurlara Wahyudi yang sebagian tanamannya gagal panen. Hujan malam hari menyebabkan cabai miliknya mengalami cacar dan kebusukan. Sehingga, tidak dapat dikonsumsi bahkan diperjual belikan. Kendati sebagian gagal panen, Wahyudi masih bernafas lega. Beruntungnya, penjualan tanaman cabai yang bisa diselamatkan menghasilkan rupiah tak sedikit, sehingga dia masih meraup laba.

Sebuah keuntungan sesaat yang harus dinikmati petani. Sebab, harga di atas Rp100 ribu/kilogram bersifat temporal. Naik turunnya harga cabai lazimnya mengikuti musim. Ini menjadi semacam tetenger bagi pedagang, diantaranya May, pedagang di pasar Landungsari Malang.

“Musim hujan pasti cabai mahal, nanti kalau sudah musim panas, harga cabai pasti normal kembali,” ungkap May.

Bahkan, petani harus mewaspadai siklus yang pernah berjalan. Ketika supply and demand justru berbalik. Tatkala stok cabai melimpah, sementara permintaan relatif tetap. Bukan tidak mungkin harga cabai rawit bakal anjlok.

Sejalan dengan keinginan masyarakat agar harga cabai normal kembali, petani juga berharap bisa panen cabai rawit dengan konsisten untuk mencukupi kebutuhan masyarakat. Ini masih menjadi pekerjaan rumah petani dan pemerintah yang belum terselesaikan.

Pewarta: Naviska Rahmadani, Adinda dan Anis Firmansyah
Editor : Danu Sukendro

Kanal Terkait