Luas Lahan Kota Batu Yang Menjadi Imbas Fenomena La Lina | SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Luas Lahan Kota Batu Yang Menjadi Imbas Fenomena La Lina
BERITA HIGHLIGHT STRAIGHT NEWS

Luas Lahan Kota Batu Yang Menjadi Imbas Fenomena La Lina

SATUKANAL.com, BATUBadan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu telah menjelaskan beberapa daerah yang rawan bencana tanah longsor, adanya fenomena La Nina menjadi salah satu alasan dilakukannya pemetaan kawasan-kawasan yang rawan akan terjadinya bencana.

Pihak BPBD memprediksi kurang lebih seperempat luas lahan yang akan mengancam Kota Batu pada fenomena kali ini. Penjabaran dari seperempat lahan tersebut mencapai 4.720 hektar (ha) dari luas total 20 hektar. Adanya fenomena La Nina yang nantinya akan terjadi di Samudra Pasifik diperkirakan akan mengakibatkan anomaly cuaca seperti adanya peningkatan curah hujan yang tinggi, khususnya yang ada di Kota Batu.

Fenomena La Nina tersebut diperkirakan akan terjadi pada akhir tahun 2020 hingga awal tahun 2021. Diperkirakan nantinya dari luas tanah 4.720 hektar tersebut berada di wilayah-wilayah yang rawan dan berada pada status zona merah. Wilayah yang ada pada status zona merah tersebut berada di Kecamatan Bumiaji yang ada di Desa Gunungsari, Desa Tulungrejo, dan Desa Sumber Brantas.

Baca Juga :  Wali Kota Batu Tetapkan Darurat Bencana Pada Oktober 2020 Hingga April 2021 di Wilayah Batu

Agung Sedayu selaku Kepada BPBD Kota Batu memberikan penjelasan secara rinci terkait tiga kawasan yang berpotensi bencana, seperti kawasan di Desa Sumber Brantas berpotensi sekitar 1.054 hektar, Desa Gunungsari kurang dari 523 hektar, dan di Desa Tulungrejo berpotensi sekitar 2.793 hektar.

Ia juga menyatakan bahwa ada penambahan titik rawan bencana di 7 kawasan lainya seperti di Desa Punten yang berpotensi 24 hektar, Desa Sumberejo sekitar 22 hektar dan Desa Sumbergondo berpotensi seluas 13 hektar. Lalu di Kelurahan Songgokerto berpotensi 288 hektar. Sedangkan ada titik wilayah yang berpotensi rendah seperti dikawasan Kelurahan Temas yang berpotensi 0,47 hektar, Desa Oro-oro Ombo Berpotensi 0,47 hektar dan Desa Giripurno sekitas 0,06 hektar.

Baca Juga :  3 Rekomendasi Wisata Alam Di Malang Yang Cocok Untuk Piknik Dan Mengisi Akhir Pekan

Data tersebut diambil berdasarkan pengalaman bencana yang pernah terjadi sebelumnya di kawasan tersebut. Pendataan tersebut juga dikaji berdasarkan kejadian bencana tanah longsor yang di lihat selama kurun waktu tiga tahun terakhir.

“Selain mengandalkan alat detector tanah longsor, yang tersebar di sana sebanyak empat titik. Kami juga siaga dengan menyiapkan 10 personel yang tugasnya 24 jam , yang siap siaga jika ada laporan dari warga” tuturnya.

Sedangkan dari pihak BPBD memperkirakan awal musim penghujan yang ada di Kota Batu akan terjadi pada minggu pertama sampai dengan minggu ketiga di bulan November dan pada Februari 2021 akan menjadi puncak musim penghujan.

 

Pewarta : Naviska Rahmadani
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait