Louis Liang, Dekorator Bunga dengan Segudang Prestasi di Dunia Tarik Suara - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
BERITA Kanal Figur Kanal Highlight

Louis Liang, Dekorator Bunga dengan Segudang Prestasi di Dunia Tarik Suara

Belajar alat musik dan menyanyi secara otodidak, Louis Liang meraih banyak tropi dari ajang festival nasional dan internasional. Tak sekadar tarik suara, talentanya berkembang menjadi MC, dekorator bunga dan Even Organizer.   

Satukanal.com, Batu – Wildan Agta

Cuaca mendung tak menghalangi wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata Batu Love Garden, Selasa (1/6/2021) siang itu. Pelancong yang kompak memakai masker menikmati sejumlah wahana  yang terletak di Jalan Raya Pandanrejo 91, Kota Batu tersebut.

Dari dalam kantor tak jauh dari loket, seorang pria tinggi besar datang menghampiri jurnalis Satukanal.com. “Di mana mas? Kalau di sini ramai. Di dalam kantor saja,” ajaknya ramah.

Pria itu Louis Liang. Lelaki yang menjadi dekorator Batu Love Garden (Baloga) itu sosok fenomenal, karena  memiliki banyak talenta. Selain dekorator dan MC, Louis juga sosok penyanyi dengan segudang prestasi. Bahkan, rak tropinya tak hanya diisi dari ajang festival nasional, juga berbagai even tarik suara dari luar negeri.

Louis memperlihatkan bakatnya di dunia tarik suara. Dimulai dari pengenalan alat musik. Bermula saat sering ditinggal sendirian di rumah. Louis kecil hanya ditemani piano. “Secara otodidak akhirnya bisa menemukan notasi dan kunci-kuncinya,” terangnya.

Seiring berjalannya waktu, dia berjibaku dengan piano dan tarik suara. Dari sekadar hobi, dunia tarik suara membawanya melanglang buana, hingga mancanegara.

Salah satu contoh prestasi yang telah digapainya adalah ketika berhasil menjadi juara favorit Bangkok Asia Pasific Sing Festival 2002, even yang diikuti dua belas negara . Setelah berhasil mengaharumkan nama Indonesia di ajang internasional, Louis ditawari kontrak beberapa studio.

Baca Juga :  Lumbung Stroberi Jadi Potensi Desa Wisata Maju di Kota Batu

Namun, usianya masih sangat muda. Orang tua melarangnya. “Waktu itu, profesi penyanyi dianggap tidak menjanjikan. Saya hormati orang tua dengan keputusan itu,” jelas lelaki yang lahir di Medan 28 November 1984 ini.

Menurut dia, persaingan untuk menjadi penyanyi zaman dulu sangat berbanding jauh dibandingkan sekarang. Kini, banyak sekali kompetisi-kompetisi dalam skala kecil maupun besar. Even yang menjadi ajang pemantauan para pemandu bakat. “Dulu, sangat sulit untuk ditemui, kalaupun ada harus pandai-pandai mengukur diri. Kalau tidak, akan dinilai jelek selamanya,” ujarnya.

Dari pengalaman pahitnya gagal menjadi seorang penyanyi, dia tetap semangat belajar tanpa henti. Banyak sekali hal yang diambilnya dari mengikuti penyelenggaraan event selama belasan tahun. “Saya belajar bagaimana sistem panggung, lighting maupu dekorasi yang ada. Harus saya manfaatkan apapun itu ilmunya,” paparnya.

Dari survive yang dialami sewaktu muda, sekarang Louis berhasil sebagai penyelenggara event sendiri. “Jadi saya punya sendiri entertaining service. Di situ mulai dari dekorasi, menyanyi dan MC, saya lakukan sendiri,” ucap Louis.

Segala pembelajaran berhasil diserapnya, meskipun cita-cita awal yang dia miliki tidak tercapai.
Selain memiliki usaha sendiri, Louis dipercaya beberapa kelas musik sebagai guru vokal. Bahkan, dia menjadi dosen kesenian di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Widya Cipta Husada, Kepanjen. “Saya paham, mungkin Tuhan ingin saya jadi guru untuk bisa berbagi ilmu dan pelajaran hidup,” tuturnya.

Baca Juga :  Rangkul Kaum Millenial, Sawahrojo Art Farming jadi Sawah Modern

Semenjak menjadi guru vokal, banyak muridnya yang berhasil diantar meraih prestasi. Seperti muncul pada ajang The Voice Indonesia ataupun The Voice Kids beberapa waktu lalu. Raihannya tak berhenti di dunia musik. Bahkan prestasi pada ajang drama musikal juga disabetnya. Ajang tersebut diikuti oleh 15 negara dari seluruh penjuru dunia. Diadakan pada tahun 2015 di Jakarta.

“Saya membawakan tema kegiatan pasar yang berlatar belakang pasar Madura. Disitu kami berhasil dinobatkan menjadi yang terfavorit,” katanya.

Menjadi translator juga merupakan pekerjaannya kini. Dia mengaku sangat senang akan kepercayaan beberapa perusahaan padanya.

Batu Love Garden sebagai salah satu destinasi baru di Kota Batu milik Jawa Timur Park (JTP) Group juga menaruh kepercayaan padanya untuk mendekorasi even. Beberapa spot disana adalah berkat dari karyanya. “Bersyukur masih bisa mengajar dan berkontribusi disini. Itu adalah bentuk survive saya,” imbuhnya.

Louis Liang juga berpesan pada generasi muda agar selalu berani mencoba dan pantang putus asa. “Sebelum kamu melakukan apa yang ingin dilakukan jangan bilang tidak bisa. Lakukan terlebih dahulu maka kamu akan mengetahui apakah kamu bisa atau tidak. Itulah yang membuat saya selalu berkata bisa pada setiap tantangan,” tutupnya. (*)

 

Editor : Danu Sukendro

Kanal Terkait