SATUKANAL.COM
Nanda Gudban saat ditemui di kediamannya (Swandy)
BERITA

Lebih Dekat Bersama Ya’qud Nanda Gudban

Satuchannel.com, Kota Malang – Perempuan di dunia politik selama ini masih dianggap sebagai pelengkap saja. Namun perempuan ini membuktikan dirinya memiliki kemampuan supaya dapat memberikan manfaat melalui parlementer. Dialah Ya’qud Nanda Gudban perempuan kelahiran Kupang, 4 Agustus 1975 ini telah menghiasi parlemen Kota Malang selama 2 periode sejak 2009.

Sejak usia 13 tahun ia sudah ditinggal ibunya meninggal dunia, ia bersama enam saudaranya dibesarkan oleh ayah. Disanalah kemandirian dan keuletannya ditempa.

“Sejak usia 13 tahun ayah yang membesarkan saya dan 5 saudara kami. Kami terdiri dari 3 laki – laki dan 3 perempuan.” Ujarnya saat ditemui di kediaman pribadinya di kawasan Jalan Ijen Kota Malang.

Baca Juga :  Operasi Patuh Semeru 2020 Mulai Digelar Senin Ini

Lulus SMA, Nanda akhirnya merantau ke Kota Malang tahun 1995 kala itu ia mengenyam pendidikan di STIBA (Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa) jurusan Bahasa Inggris. Di sana ia mulai menggapai impiannya sebagai seorang guru, dan benar saja sebelum lulus S1 di STIBA ia sudah mulai mengajar di kampus – kampus D1 dan SMA di Kota Malang.

Berkat jaringan dan pergaulan yang luas sejak lulus S1, ia mulai mengajar di Universitas Merdeka (Unmer) Malang pada tahun 2008. Sempat menjadi dosen luar biasa selama 2 tahun, saat ini ia sudah menjadi dosen tetap di Unmer hingga sekarang.

Baca Juga :  Ditangkap Bareskrim Mabes Polri, Gus Nur Diduga Hina NU
Nanda Gudban saat sidang disertasi sidang (Swandy)

Hari Sabtu lalu Nanda berhasil selesaikan disertasinya di Universitas Brawijaya yang berjudul “Analisis Hubungan Principal-Agent dalam proses penyusunan APBD : Studi Fenomenologi”. Dari disertasi ini ia memberikan saran untuk penyusunan APBD berbasis E-budgeting.

Baginya pendidikan merupakan hal yang penting dan investasi masa depan. Maka saat menjabat sebagai ketua jurusan di Unmer, Nanda sempat menjumpai banyak mahasiswanya yang tidak bisa ikut ujian hanya karena persoalan kesulitan keuangan.

“Dari persoalan tersebut saya jadi ingin belajar dan mengetahui seperti apa pendikan di Kota Malang dan Indonesia ini. Bagi saya pendidikan itu merupakan investasi yang berharga.” ujarnya. (Aris)

Kanal Terkait