SATUKANAL.COM
Pandemi Covid-19 Dian Mutiara
Women's Crisis Centre sedang memberikan materi terkait KDRT
BERITA HIGHLIGHT LIPUTAN KHUSUS STRAIGHT NEWS

Lawan KDRT, WCC Dian Mutiara Gelar Kampanye Sekolah Paralegal di Masa Pandemi COVID-19

SATUKANAL, MALANG – Pandemi COVID-19 tak menyurutkan langkah Women Crisis Center (WCC) Dian Mutiara untuk berbagi ilmu kepada masyarakat di Desa Ngenep, Kecamatan Karang Ploso, Kabupaten Malang, pada Rabu (09/09/2020). Bekerja sama dengan Komnas Perempuan dan Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa), Ibu-ibu Desa Ngenep untuk pertama kalinya memperoleh sosialisasi tentang sekolah paralegal dalam rangka pemberantasan KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga).

Ibu Sri Wahyuningsih, selaku perwakilan dari WCC Dian Mutiara, menuturkan, “Daerah sini seperti daerah lainnya yang namanya KDRT masih terjadi diantara warganya sehingga perlu diadakan penyuluhan. Akhirnya ini pertama kalinya. Desa lain pun masih menunggu untuk diadakan. Termasuk desa ini juga baru empat RW saja yang terlibat, belum menyeluruh.”

Dengan tetap mematuhi protokol kesehatan selama berlangsungnya acara, para peserta mendapatkan pengenalan tentang KRDT, bentuk-bentuk penanganannya dan seperti apa peran paralegal itu sendiri.

Paralegal sendiri merupakan seseorang yang bukan berasal dari latar belakang profesional, namun diberi pelatihan hukum guna melakukan pendampingan bagi mereka yang mengalami kasus ketidakadilan, seperti KDRT. Peran ini muncul sebagai upaya memperluas pemahaman dan akses masyarakat, terutama kalangan terpinggirkan, dalam memperjuangkan keadilan. Singkatnya, paralegal layaknya garda pertolongan pertama bagi korban.

Baca Juga :  Bek Persik Kediri Andri Ibo Akhirnya Dinyatakan Negatif Corona
Sri Wahyuningsih memberikan sosialisasi
Sri Wahyuningsih selaku perwakilan dari WCC Dian Mutiara di saat memberikan sosialisasi

Seseorang yang ingin menjadi paralegal harus melalui beberapa tahapan dari WCC Dian Mutiara. Tahap pertama, yakni pengenalan kasus, jalur penanganan hingga berbagi pengalaman/kisah dari para penyintas langsung. Kegiatan di Desa Ngenep sendiri merupakan bagian dari tahap pertama ini. Tahap kedua berupa pendalaman pada aspek hukum dan kesehatan, seperti visum et repertum. Tahap ketiga, seorang paralegal sudah bersedia dan siap menjadi tempat curhat bagi warga di sekitarnya. Tahap terakhir, ia sudah mampu melakukan penanganan kasus, seperti melakukan pendampingan di kepolisian atau pengadilan, setelah mendapatkan pengarahan dari WCC Dian Mutiara.

Baca Juga :  Usaha Pemerintah Dalam Menganggulangi Dampak COVID-19 pada Sektor Ekonomi dan Kesehatan

Selama berjalanannya acara warga terlihat antusias dan kooperatif. Terbukti dengan penuhnya kursi peserta dan cukup banyak pertanyaan yang kemudian diajukan. “Saya jadi tahu bagian mana saja dari perempuan yang tidak boleh disentuh seenaknya. Dan jadi sedikit mengerti harus kemana kalau ada permasalahan rumah tangga” ungkap Maysaroh, salah seorang peserta.

Mengutip kumparan.com, dihimpun dari tugumalang.id tercatat kasus KDRT di Kabupaten Malang mengalami peningkatan dari 4 kasus di bulan Januari 2020 menjadi 12 kasus di bulan Mei 2020. Data ini belum termasuk kasus yang tak terungkap atau terlaporkan, mengingat kasus KDRT bagai fenomena gunung es.

Oleh karenanya, mengusung tagline Paralegal Kuat Penyintas Semangat, acara ini diharapkan mendorong warga yang di lingkungannya menemui kasus KDRT mampu melakukan tindak lanjut (apabila diperlukan), tidak hanya berhenti pada ‘sekedar’ wadah curahan hati korban

Editor: Redaksi Satukanal

Kanal Terkait