Kitab KH Hasyim Asy'ari Berusia Satu Abad Lebih Masih Terjaga Baik - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Kitab KH Hasyim Asy'ari Berusia Satu Abad Lebih Masih Terjaga Baik
Kitab karangan Mbah Hasyim yang masih disimpan di perpustakaan Pondok Pesantren Tebuireng (Foto: Anggit Puji/ Satukanal.com)
BERITA Kanal Feature Kanal Highlight

Kitab KH Hasyim Asy’ari Berusia Satu Abad Lebih Masih Terjaga Baik

Satukanal.com, Jombang – Siapa yang menyangka, sebuah kitab yang ditulis menggunakan tangan karya pendiri Nahdatul Ulama (NU) masih terawat dan terjaga sampai saat ini.

Berusia 100 tahun lebih, kitab karangan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari ini masih utuh, tersimpan rapih di perpustakaan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Kecamatan Diwek, Jombang. Bahkan, kerapkali dijadikan bahan penelitian meski peradaban saat ini sudah berkembang.

Kitab yang pembuatannya kala itu masih manual yakni dengan menggunakan tinta dan kertas ini jumlahnya tidak hanya satu. Total, ada tujuh kitab karya Kyai Hasyim Asy’ari yang disimpan dan dirawat oleh pengelola perpustakaan Pondok Pesantren Tebuireng.

Kitab-kitab tersebut diletakkan dalam rak rukuran 2×4 meter di ruang khusus yang terletak di ujung belakang perpustakaan. Muhamad Zainal Arifin, pengelola perpustakaan menyebut kitab-kitab langka tersebut memang tersimpan rapih di rak khusus.

Meskipun, ada beberapa kitab yang kondisi sampulnya berlubang, namun secara keseluruhan masih tetap bisa dibaca. “Beberapa yang disimpan ada kitab-kitab berupa Al-Quran dan beberapa kitab tentang hadist, fiqih, maupun tentang doa-doa,” ucapnya saat dikonfimasi wartawan, Rabu (6/10/2021).

Kitab berusia ratusan abad ini, kata Arifin, merupakan karya asli Kyai Hasyim. Disebutkan olehnya, jika usia kitab-kitab tersebut lebih dari 100 tahun. Sementara itu, Pondok Pesantren Tebuireng pertama kali didirikan pada tahun 1899.

“Waktu itu, KH Hasyim Asy’ari sudah mulai menulis beberapa kitab. Artinya, usia kitab tersebut diperkirakan mencapai 130 tahun,” jelasnya. Ia juga mengatakan bahwa masih banyak lagi kitab karangan KH Hasyim Asy’ari yang ditemukan di tempat lain, meskipun di Pondok Pesantren Tebuireng sendiri sudah ada tujuh kitab.

Menurut Arifin, berdasarkan penelusuran yang ia lakukan. Kitab tulisan tangan KH Hasyim Asy’ari sering ditemukan di kabupaten/kota lain di Indonesia. “Mulai dari Ponorogo, Lamongan dan beberapa daerah lain. Peninggalan kitab mbah Hasyim tercatat ada 400 kitab dan tersebar di seluruh dunia termasuk di Saudi Arabia,” ujarnya.

Baca Juga :  Sempat Kosong, Akhirnya Bupati Jombang Lantik Sekda Baru

Lebih lanjut, tujuh kitab yang tersimpan di perpustakaan A. Wahid Hasyim tersebut, sebagian sudah digandakan. Tujuannya untuk berbagai macam kepentingan. Salah satunya studi dan penelitian.

Setidaknya, ada 17 kitab yang diterbitkan dalam satu jilid berukuran besar. Dalam kitab tersebut, di dalamnya bertuliskan tentang pesan-pesan untuk para umat NU, di antaranya terkait pernikahan, dan kitab-kitab lainnya termasuk fiqih dan hadist.

Menjaga sebuah benda yang berusia lebih 100 tahun, bukanlah hal mudah. Beberapa cara khusus dilakukan supaya benda tersebut tetap terjaga keasliannya. Pengelola perpustakaan menjelaskan, pihaknya merawat dengan cara menggunakan bahan tertentu sebanyak tiga kali dalam setahun supaya kitab-kitab kuno ini tetap lestari dan terjaga dengan baik.

Perawatannya pun cukup sederhana, tidak perlu dilakukan perawatan khusus untuk menjaga kitab-kitab asli tulisan tangan KH Hasyim Asy’ari. Pengelola perpustakaan cukup menabur campuran kapur barus dan bubuk merica pada kitab.

“Selama ini untuk perawatan kitab cukup sederhana, dengan menaburkan campuran kapur barus dan bubuk merica pada kitab yang dilakukan rutin tiga kali dalam setahun. Lalu cukup menempatkan ditempat yang kering dan tidak terlalu lembab dan ditempatkan di private room, tidak bercampur dengan buku-buku di perpustakaan lain,” jelasnya.

Hal tersebut dilakukan karena perawatan pada kitab kuno itu tidak bisa disamakan dengan benda lainnya. Apalagi, dalam kitab tersebut terlihat tulisan tangan asli yang dilakukan secara manual. Tampak dari goresan pena hingga garis tepi pada kitab, tak begitu simetris.

Kondisi kertasnya pun juga terlihat berserat. Hal ini lantaran, bahan yang dipakai KH Hasyim Asy’ari dalam membuat kitab tersebut seperti kertas merang yang terbuat dari tangkai padi maupun kertas yang terbuat dari serat pohon turi.

Baca Juga :  Direktur Link Sebut Pengganti Sekdakab Jombang Harus Punya Track Record Baik

Dijelaskan lagi oleh Arifin, karena masuk dalam kategori benda langka, kitab-kitab dipisahkan dengan buku lainnya di dalam satu ruangan khusus tertutup yang sudah ditebari bubuk merica dan campuran kapur barus. “Untuk mengusir hewan-hewan yang bisa menggerogoti kitab, misalnya kecoa, tikus, kutu maupun klaper dan sejenisnya. Campuran merica dan kapur barus itu juga kita taburi pada pojok-pojok ruangan,’’ bebernya.

Arifin melanjutkan, sekitar tahun 90-an, semua buku dan kitab peninggalan KH Hasyim Asy’ari pernah dilakukan fumigasi oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Saat itu, juga dilakukan pencucian terhadap kitab-kitab yang warnanya sudah kusam. Hasilnya, kini banyak kitab yang terselamatkan dari proses fumigasi tersebut.

Fumigasi tersebut tepatnya dilakukan saat Presiden Suharto (Presiden RI ke-2) masih menjabat. Dilakukan pembersihan selama 7 hari dan hasilnya semua kutu-kutu yang terdapat di dalam kitab mati. “Sejak saat itu, belum pernah dilakukan hal serupa sampai saat ini. Jadi pihak pengelola hanya menggunakan cara tradisional untuk menjaga kitab-kitab tersebut. Yang penting kitabnya tetap terawat dan terjaga,’’ imbuhnya.

Selain menjadi sejarah peninggalan, kitab-kitab karangan KH Hasyim Asy’ari juga kerap dipakai untuk studi dan penelitian oleh beberapa pihak, mulai dari ormas, akademisi, hingga jajaran Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU).

Dari beberapa kitab yang ditulis KH Hasyim Asy’ari sebagian besar memuat tentang pentingnya pendidikan karakter. “Seperti tata krama seorang murid ke guru, akhlak guru dalam mengajar, ada juga nasehat untuk diri sendiri, dan adab sopan santun kepada masyarakat luas,” pungkasnya.

 

 

Pewarta : Anggit Puji
Editor : Adinda

  • -
    -
    Isi kitab Mbah Hasyim.
    Sumber foto by Ngopibareng.id

Kanal Terkait