Kisah Santri Kalong di Jombang, Saksi Hidup Mbah Hasyim yang Hembuskan Nafas Terakhir - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Kisah Santri Kalong di Jombang, Saksi Hidup Mbah Hasyim yang Hembuskan Nafas Terakhir
Sosok KH Abu Bakar, santri Kalong di Jombang (Foto: Anggit Puji/ Satukanal.com)
BERITA Kanal Straight

Kisah Santri Kalong di Jombang, Saksi Hidup Mbah Hasyim yang Hembuskan Nafas Terakhir

Satukanal.com, Jombang – Kabar duka menyelimuti lingkungan ulama Kabupaten Jombang, pasalnya Santri Kalong KH Hasyim Asy’ari, KH Abu Bakar tutup usia pada Kamis (12/8/2021) sekitar pukul 17.00 WIB.

KH Abu Bakar menghembuskan nafas terakhirnya di usia sekitar 87 tahun. Kabar wafatnya KH Abu Bakar dibenarkan oleh Akhmad Zainuddin yang merupakan santri almarhum. “Beliau guru saya, sudah wafat. Mohon ziyada doanya,” ucapnya saat dikonfimasi pada Jumat (13/8/2021).

Lebih lanjut, Zainuddin menjelaskan, almarhum KH Abu Bakar telah dimakamkan sekitar pukul 20.00 WIB di area pemakaman di Desa Bandung Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang yang merupakan makam umum tempat tinggal KH Abu Bakar.

Lebih jauh mengenal sosok Kiai Abu Bakar, beliau adalah saksi hidup sekaligus santri Hadratussyech KH Hasyim Asy’ari, pahlawan Nasional yang juga salah satu pendiri dan penggerak Nahdlatul Ulama (NU). Belum banyak yang tahu jika Kiai Abu Bakar merupakan salah satu dari santri dari KH Hasyim Asy’ari yang hingga kini masih hidup dengan kondisi yang sangat sehat.

Pria kelahiran tahun 1935 ini masih sering mengajar dan mengaji dengan penuh semangat untuk tetap mensyiarkan agama Islam sesuai gaya mengajar Mbah Hasyim. Meski usianya sudah tak lagi muda, serta intonasi suaranya memulai memudar disertai kulit yang keriput, pria paruh baya ini masih kuat untuk berjalan ke masjid dan mengaji kitab serta membaca Al-Quran.

Pria berusia 85 tahun ini merupakan santri KH Hasyim Asy’ari angkatan tahun 1944. Ia menjadi santri Pesantren Tebuireng Jombang selama 8 tahun. Lebih lanjut dijelaskan bahwa, saat itu bukan termasuk santri mukim, melainkan santri kalong. Artinya, dalam proses menyantri atau menimba ilmu di Ponpes Tebuireng dengan pulang pergi dari rumah ke Ponpes.

Baca Juga :  JIAD Jombang Kutuk Keras Pembakaran Masjid Ahmadiyyah di Sintang Kalimantan Barat

“Karena zaman dulu belum ada kendaraan, bahkan satu desa hanya satu yang mempunyai sepeda ontel, dalam proses nyantri ia menempuh perjalanan dengan jalan kaki sejauh 5,1 Km dari rumahnya di Desa Bandung, Diwek,” ungkapnya.

Sayangnya, Kiai Abu Bakar hanya menjadi saksi hidup KH Hasyim Asy’ari selama 3 tahun. Sebab, setelah itu Mbah Hasyim wafat pada tahun 1947. Saat itu ia masih berusia 12 tahun, sehingga ingatan tentang KH Hasyim Asy’ari masih sedikit.

Ia juga merupakan santri yang takdim kepada Mbah Hasyim, karena masih kecil ketika ia membuat kesalahan hanya diingatkan dengan dicolek oleh Mbah Hasyim. Sampai saat ini, ia terkenal sebagai sosok kiai desa dengan kesabaran dan ketabahannya dalam mengatasi suatu permasalahan.

Karomah KH Hasyim Asy’ari Melawan Penjajah

Selain sebagai seorang pendakwah, KH Hasyim Asy’ari juga merupakan pahlawan Nasional yang tidak dapat diragukan lagi kemampuan dan kontribusinya saat melawan penjajah di bumi Nusantara ini.

Beliau mengajak para santrinya untuk berjuang melawan penjajah. Menurut Mbah Hasyim, berjuang melawan penjajah hukumnya fardlu ‘ain, wajib bagi setiap kaum muslimin Indonesia.

Baca Juga :  Sambut Hari Jadi Polwan, Srikandi Polres Jombang Gelar Donor Darah

“Kalau malam itu, Mbah Hasyim turut melatih tentara perang untuk melawan penjajah. Kalau pagi selalu mengamalkan salat entah salat dhuha atau apa saya tidak tau. Tapi tidak tau kenapa tentara didikan Mbah Hasyim sakti-sakti,” jelasnya.

Menurutnya, banyak amalan-amalan yang dikerjakan Mbah Hasyim. Namun, waktu itu beliau masih sangat kecil. Hanya perilaku beliau yang sabar, ikhlas dan sangat istiqomah dalam menjalankan sesuatu.

Ia juga mengatakan, mengutip ucapan Almarhum Kiai Abu Bakar, KH Hasyim Asy’ari sering melawan para penjajah yang tidak bisa dilogikakan oleh para santrinya. Ilmu batinnya sangat hebat ketika peperangan melawan penjajah.

Pesan KH Hasyim Asy’ari yang Diingat KH Abu Bakar Saat Masih Nyantri

Suatu hari dalam perjalanan Kiai Abu Bakar menimba ilmu di Ponpes Tebuireng, melewati sebuah desa yang terdapat tempat pelacuran. Kemudian, ia merenung bahwa suatu saat ia ingin memusnahkan tempat tersebut.

“Waktu itu saya mendengar pidato Mbah Hasyim ‘Ono jeding resik, mesti ono peceren ne’ (Ada Kamar mandi bersih, pasti ada tempat pembuangan yang kotor),” ujarnya.

Kemudian, ia menyimpulkan sendiri bahwa sesuatu di dunia itu ada sisi baik dan sisi buruknya. “Kita harus bisa memilahnya. Seperti halnya di desa situ yang ada tempat baik dan di Tebuireng ada tempat baik dan saya memilih untuk belajar di Tebuireng,” pungkasnya.

 

 

Pewarta : Anggit Puji
Editor : Adinda

Kanal Terkait