Kisah Dua Arca di Situs Pandegong, Antara Penjaga Pintu dan Dewa Kematian - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Arca Nandiswara kanan pada foto dan mahakala kiri pada foto.
BERITA Kanal Highlight

Kisah Dua Arca di Situs Pandegong, Antara Penjaga Pintu dan Dewa Kematian

Satukanal.com, Jombang – Tahapan eksvakasi Situs Pandegong yang terletak di Desa Menganto, Kecamatan Mojowarno, Jombang usai. Dalam 10 hari proses penggalian, dua arca mencolok ditemukan tim BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Jawa Timur, yakni arca Mahakala dan Nandiswara.

Dalam prosesnya, arca Nandiswara ditemukan pada hari kedua eksvakasi di sisi barat daya. Arca yang ditemukan memiliki bentuk rupa seorang pria memakai mahkota dan memegang senjata tombak bermata tiga atau trisula.

Arca yang ditemukan tim penggali tersebut tidak utuh. Hanya setengah badan saja dengan kisaran ukuran 31×26 sentimeter. Sedangkan arca kedua yakni Mahakala ditemukan dua hari setelahnya yakni hari keempat. Ditemukan pada bagian sisi utara, setelah dicek, merupakan perwujudan Mahakala.

Dari bentuk arca kedua yang ditemukan, berbeda dengan arca Nandiswara. Perawakan arca Mahakala ini berbentuk seorang pria tanpa mahkota sedang berdiri dan membawa senjata gada ukuran 63x30x12 sentimeter.

Pamong Budaya Ahli Pertama BPCB Jatim, Vidi Susanto menuturkan kedua arca tersebut terbuat dari batu Andesit dan mencerminkan budaya Hindu Siwa. Kedua arca tersebut disebut jadi pakem bangunan suci atau tempat peribadatan kala itu.

“Dua arca ditemukan di waktu berbeda, hari kedua dan keempat. Bangunan yang sudah terlihat, yakni berupa sturktur bata kuno punya luas 64 meter persegi,” ucapnya pada Rabu (24/11/2021).

Lalu dimensi bata sepanjang 37 x 21 x 8 sentimeter. Struktur bangunan yang diduga ada sejak zaman purbakala ini, membentang dari barat daya ke barat laut, dengan panjang mencapai 7,7 meter.

Dua arca tersebut disebutnya saling berkaitan. Karena dua arca tersebut biasanya terpasang pada struktur gerbang masuk bangunan tempat peribadatan.

Baca Juga :  Makam Gus Dur Dibuka Lagi, Waktu Ziarah Dibatasi 20 Menit

Sementara itu, dua arca yang ditemukan, Nandiswara dan Mahakala bukanlah sembarang arca. Terdapat makna yang dalam jika melihat sejarah dari dua bagian sturktur bangunan kuno tersebut.

Nandiswara si Penjaga Pintu

Dalam literasi yang dikutip dari Dictio.id, Nandiswara merupakan salah satu tokoh dalam mitologi Hindu. Di daerah Jawa, tokoh ini dipahatkan di sebelah pintu masuk candi bersifat Siwaistik, bersama pasangannya, Mahakala.

Lebih lanjut, kedua tokoh ini dianggap sebagai emanasi atau pancaran Siwa dan dianggap sebagai tokoh penjaga pintu. Nandiswara sebagai aspek Nandi dalam bentuk anthropomorkfiik (bentuk manusia), bertugas menjaga pintu masuk candi sebelah kanan.

Kemudian, arca dalam posisi berdiri, di belakang terdapat sirascakra. Bertangan dua, tangan kanan ditekuk ke atas depan membawa camara, tangan kiri menjuntai ke bawah di samping pinggang membawa kendi. Di samping kanan terdapat trisula.

lebih jelasnya yang dikutip dalam pustaka Uttarakandha, digambarkan bahwa Nandiswara bersama-sama dengan mahakala sebagai penjaga gunung, dan berjasa dalam mengatasi kesaktian Sang Rahwana. Karena jasanya tersebut, oleh Bhatara Indra, baik Nandiswara maupun Mahakala, diberi anugrah menjadi dewa penjaga pintu (Apit Lawang).

Mahakala dan Literasi Dewa Kematian

Sedangkan, juga dikutip dari Dicito.id, bahwa Mahakala atau dalam bahasa Sansekerta yakni (Mahākāla, Devanagari) adalah dewa yang dikenal pada agama Hinduisme, Buddhisme dan Sikhisme. Menurut Hinduisme, Mahākāla mempunyai permaisuri Dewi Hindu Kali dan Mahakala ini paling menonjol pada sekte Shikisme Kalikula.

Dalam Budha, Mahakala juga muncul sebagai dewa pelindung yang dikenal sebagai Dharmapala dalam Buddhisme Vajrayana, terutama tradisi Tibet, di Tangmi (Buddhisme Esoterik China) dan di Shingon (Buddhisme Esoterik Jepang).

Baca Juga :  Gedung Sekolah di Jombang Ini Tak Layak Pakai, Guru Ikut Was-Was

Dalam Sikhisme, Mahakala disebut sebagai Kal, yang berarti Gubernur Maya. Mahakala dalam bahasa Sanskerta berarti mahā (great) dan kala ( time / death), yang berarti “di luar waktu” atau kematian”

Dalam literasi menurut Tantra Shaktisamgama, Mahakala digambarkan memiliki empat lengan, tiga mata. Dia dihiasi dengan delapan tengkorak, duduk di lima mayat, memegang trisula, drum, pedang dan sabit di tangannya. Dia dihiasi dengan abu dari tanah kremasi dan dikelilingi oleh sejumlah burung pemakan bangkai dan serigala yang berteriak keras.

Baik Mahakala dan Kali/Mahakali merupakan kekuatan destruktif utama Brahman dan mereka tidak dibatasi oleh peraturan apapun. Mereka memiliki kekuatan untuk membubarkan ruang dan waktu, bahkan pembubaran alam semesta.

Mahakala dan Mahakali, bertanggung jawab atas pembubaran alam semesta di akhir Kalpa (Kiamat). Mereka juga bertanggung jawab untuk memusnahkan semua kejahatan dan iblis jahat ketika dewa-dewa lain, bahkan Trimurti gagal melakukannya.

Mahakala dan Kali memusnahkan pria, wanita, anak-anak, hewan, dunia dan seluruh alam semesta tanpa belas kasihan karena mereka merupakan personifikasi dari Kala atau Waktu.
Mahakala biasanya digambarkan berwarna hitam. Hal ini mempunyai makna bahwa semua warna akan diserap oleh warna hitam.

Mahakala sendiri memiliki banyak versi atau variasi. Variasi yang paling menonjol dalam manifestasi dan penggambaran Mahakala ada pada jumlah senjata, namun rincian lainnya juga bisa bervariasi. Mahakala digambarkan mempunyai 6 tangan, 4 tangan atau 2 tangan.

 

Pewarta: Anggit Puji 
Editor: Ubaidhillah

    Kanal Terkait