Khawatir Ada Transaksi Jual Beli Uang, Sutiaji Perintahkan Satpol PP Razia - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
BERITA

Khawatir Ada Transaksi Jual Beli Uang, Sutiaji Perintahkan Satpol PP Razia

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, beragam tradisi menyambut kemeriahan hari kemenangan itu  semarak di Indonesia. Salah satunya yakni tradisi salam tempel atau uang saku atau disebut juga angpau Lebaran yang selalu ditunggu di momen ini.

Kebiasaan tersebut tentunya juga membutuhkan persiapan khusus. Misalnya, karena terjadi di hari kemenangan dan identik dengan hal yang baru, maka uang yang dijadikan untuk salam tempel ini juga harus baru.

Namun, proses penukaran uang ini mulai menjadi perbincangan. Hal itu terkait adanya kekhawatiran mengenai jual beli uang dan beredarnya uang palsu.

Wali Kota Malang Sutiaji mengatakan pihaknya telah memerintahkan Satpol PP Pemkot  Malang untuk melakukan razia terhadap lapak jasa penukaran uang yang berada di pinggir jalan. “Ketika ada penukaran uang, rawan menjadi sistem jual beli dan juga uang palsu. Makannya Satpol PP terus melakukan razia untuk jasa penukar uang yang biasanya di pinggir jalan agar tidak disalah gunakan,” ujar dia.

Baca Juga :  Walikota Sutiaji Minta Semua Berproses Bersama Wujudkan Malang Jadi Smart City

Sedangkan terkait sistem jual beli uang,Sutiaji dengan tegas menambahkan jika transaksi seperti itu di Kota Malang tidak ada. Menurut dia, hanya ada proses penukaran uang baru yang dilaksanakan Bank Indonesia bersama bank – bank lainnya dalam pelayanan tersebut.

“Ada salah satu kiiai dari MUI yang menanyakan ke saya, apa benar ada jual beli uang di Kota Malang. Saya katalan tidak ada. Tapi kalau penukaran uang, ada dua kemungkinan. Bisa menjadi haram dan mubah atau boleh,” imbuhnya.

Baca Juga :  Tingkatkan Minat Baca, Walikota Sutiaji Tekankan Perpustakaan Harus jadi Sumber Literasi

Lebih lanjut Sutiaji menjelaskan, ketika ada penukaran uang senilai Rp 1 juta, maka nilai besarannya harus sama. Apabila ada selisih penambahan menjadi Rp 1 juta ditambah Rp 20 ribu, maka itu bisa menjadi kategori haram.

“Artinya ketika selisih penambahan tersebut ditentukan oleh jasa penukar uang, ya menjadi haram. Tetapi, jika yang menukar tersebut ingin memberikannya sebagai rasa terima kasih dan memberi Rp 5 ribu kepada pemilik jasa tersebut secara sukarela, hukumnya mubah atau boleh,” ungkap Sutiaji. 

Kanal Terkait