Kasus Ulat Grayak, POPT Jawa Timur: Faktor Alam Hama Berkembang Biak Lebih Cepat - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
IMG-20210831-WA0016-dafcee3c
Foto: Contoh bawang merah yang terkena hama ulat grayak (Foto: Anis Firmansyah/satukanal.com)
BERITA Kanal Highlight Kanal Straight

Kasus Ulat Grayak, POPT Jawa Timur: Faktor Alam Hama Berkembang Biak Lebih Cepat

Satukanal.com, Kediri – Tim Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan POPT Provinsi Jawa Timur (Jatim) menyebutkan faktor alam menjadi penyebab serangan ulat gerayak di wilayah Kabupaten Kediri.

Peralihan cuaca alam pada kemarau ini mendukung perkembangbiakan ulat gerayak, khususnya tanaman bawang merah. Selain itu, penggunaan produk kimia dilahan pertanian juga dapat menjadi faktor penyebabnya.

“Ini disebabkan karena cuaca mendukung perkembangbiakan ulat, dan juga karena sudah resisten atau kebal penggunaan produk kimia,” ungkap Karim, Tim Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan POPT wilayah Kecamatan Ngasem dan Gurah, Kabupaten Kediri, Rabu (1/9/2021).

Baca Juga :  Hindari Calo SKD, CASN Kediri Wajib Lewati Teknologi Face Recognition

Dia menyampaikan, secara fisik dampak Ulat gerayak ini menyerang  memakan di bagian daun tanaman bawang merah. Hama ulat tersebut menyerap kandungan daun yang seharusnya turun ke bagian umbi tanaman. Akibatnya ukuran umbi atau buah menyusut ketika saat dipanen.

Disebutkan beberapa petani sudah melakukan penanganan serangan ulat gerayak ini, namun sampai saat ini masih belum maksimal.

“Ada (petani) yang pakai cara lampu perangkap dan mekanisme yang aman, cuma ya harus tetap menggunakan pengamatan pendukung lainnya,” jelasnya.

Baca Juga :  Dugaan Pelecehan Seksual, Dosen IAIN Kediri Diganjar Tiga Sanksi

Seperti halnya yang menimpa Syaumal Abidin (46), salah satu petani bawang merah Desa Paron Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri, merugi karena serangan ulat gerayak.

Dia mengungkapkan hasil panen yang harusnya berjumlah 2 Ton, kini hanya mampu dipanen 7,17 Kwintal. Akibatnya dia merugi jutaan rupiah di luasan tanah sebesar 1400 meter persegi.

“Produksi normal satu petak dapat luasan 1400 meter persegi biasanya mencapai 2 ton. Namun sekarang hanya 7,17 Kwintal, turunnya luar biasa,” pungkasnya.

Pewarta: Anis Firmansyah 
Editor: Ubaidhillah 

    Kanal Terkait