Kampung Cempluk Malang Wujud Pelestarian Budaya Lokal Di Era Moderenisasi - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Kampung Cempluk Malang Wujud Pelestarian Budaya Lokal Di Era Moderenisasi
BERITA HIGHLIGHT STRAIGHT NEWS

Kampung Cempluk Malang Wujud Pelestarian Budaya Lokal Di Era Moderenisasi

Satukanal.com, Malang – Jika Anda mencoba melintasi sebuah kampung bernama Kampung Cempluk yang terletak di Jalan Dieng Atas, RT 4 RW 2, Dusun Sumberejo, Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, sepintas memang seperti kampung-kampung pada umumnya.

Kondisi rumah-rumah  perkampungan yang saling berhimpitan, serta jika siang hari suasana cukup sepi dikarenakan ditinggal pemiliknya bekerja. Namun ketika hari menjelang sore, akan terlihat banyak anak bermain di jalanan. Uniknya sebagian dari mereka melakukan permainan tradisional ataupun bermain bantengan.

Ketika para pria atau bapak-bapak bahkan para pemuda setempat usai bekerja, maka jalan akan semakin ramai dengan berbagai aksi latihan kesenian semacam singo barong, bantengan serta alunan musik patrol.

Di Kampung Cempuk ini, berbagai macam kesenian dikemas secara sederhana dan apik, sehingga terciptannya Kampung Cempluk bernuansa tempo dulu. Penamaan Kampung Cempluk tersebut juga cukup unik karena menyangkut sejarah dan kondisi kampung tersebut pada masa lalu.

Pada tahun 90-an, ketika hampir seluruh wilayah di luar kampung tersebut sudah memperoleh penerangan dan sambungan listrik, hanya wilayah kampung tersebut yang belum menikmatinya. Kondisi tersebut berlangsung selama beberapa waktu hingga akhirnya listrik masuk ke kampung tersebut.

Baca Juga :  Siapkan Anggaran Rp 125 Miliar, Tahun 2022 Pasar Besar Kota Malang Siap Dibangun Dengan Mengusung Nuansa Eropa

Para warga pun menggunakan cempluk atau pelita sebagai alat penerangan. Pada masa itu lah kampung tersebut mendapat julukan sebagai Kampung Cempluk. Meskipun nama tersebut sempat hilang dan dilupakan, namun eksistensi seni dan budaya lokal menyebabkan nama tersebut kembali digunakan sebagai identitas.

Pada masa itu tak banyak seni yang berkembang di Kampung Cempluk, hanya sebuah grup seni pertunjukkan bernama Ande-Ande Lumut dengan cerita panjinya. Lama-kelamaan grup seni tersebut lenyap, tergerus budaya modern.

Namun eksistensi Kampung Cempluk kini kembali bersinar, sehingga Ande-Ande Lumut kembali menggeliat, berdampingan dengan perkumpulan lain seperti Garuda Putih, Barongsai Singa Liar, kelompok orkes musik Melayu, Kelompok Bermain Kampung Cempluk, Jaranan Turonggo Joyo Mulyo, Pencak Silat Panca Manunggal, dan seni Bantengan.

Terdapat beberpa hal lain yang cukup menarik dari Kampung Cempluk, yakni mata pencaharian dari sebagian warga yang merupakan tukang bangunan. Profesi dan keterampilan yang mereka miliki tersebut dimanfaatkan untuk diwujudkan menjadi sebuah karya seni yang mereka gunakan.

Baca Juga :  Wisata Budaya Gunung Kawi, Harmonisasi 5 Agama Serta Sederet Kisah Menarik Lainya

Berbagai karya seni yang telah diciptakan warga setempat salah satunya adalah,  pembuatan kostum dan kepala singo barong atau barongsai, dengan memanfaatkan beberapa barang sisa dari tempat kerja untuk menghemat biaya pembuatan.

Berdirinya kembali Kampung Cempluk ditengah moderenisasi zaman tidak lain agar warga sekitar tidak kehilangan identitas seni dan budaya lokalnya. Melihat kondisi yang terjadi saat ini, hal itu telah cukup berhasil dilakukan dengan banyakanya anak-anak yang melakukan kegiatan kesenian seperti musik patrol, bantengan, singo barong, dan lain sebagainya.

Hingga kini kesenian yang berada dalam Kampung Cempluk tersebut juga dibina secara aktif agar terus tampil dan dikenal para generasi muda. Tidak hanya itu, banyak juga seniman dari luar yang didatangkan untuk saling bertukar pikiran dan melakukan proyek kolaborasi dengan seniman lokal.

 

 

 

 

Pewarta : Naviska
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait