SATUKANAL.COM
BERITA

Kader IMM Kendari Mati Tertembak, IMM Malang Raya-PMII Demo dan Salat Ghaib di Depan Polres Malang Kota

Sekitarv120 kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Malang Raya bersama 40-an kader Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Malang melakukan salat ghaib di depan Mapolres Malang Kota. Salat itu mereka tujukan kepada salah satu kader IMM Kota Kendari, yakni Immawan La Randi (21) yang meninggal saat melakukan aksi unjuk rasa.

Selain itu, ratusan mahasiswa dari dua organisasi tersebut melakukan doa bersama, membaca kalimat tahlil dengan duduk bersama di tengah jalan tepat di depan Mapolres Malang Kota. Sebelum itu, orator IMM juga sempat menyuarakan rasa keprihatinannya terhadap pihak kepolisian yang dinilai gagal dalam melakukan pengamanan sehingga menimbulkan korban jiwa.

Ketua Umum IMM Malang Raya Irsyad Madjid mengungkapkan, kematian Randi menjadi sejarah kelam dalam demokrasi Indonesia. Tragedi diawali dari ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Kendari yang membawa tuntutan menelaah revisi UU KPK, RUU KUHP serta RUU pertanahan.

Di tubuh mahasiswa Universitas Haluoleo semester 7 ini, ditemukan luka tembak pada bagian dada sebelah kanan selebar 5 cm dengan kedalaman 10 cm. Namun belum bisa diketahui jenis peluru yang menewaskan Randi, apakah peluru tajam atau peluru karet.

“Dalam aturan Perkapolri Nomor 16 Tahun 2006 tentang pengendalian massa, disebutkan jelas jika pihak kepolisian dilarang membawa dan menggunakan senjata atau peluru tajam. Bahkan hal itu berlaku sekalipun situasi dalam kondisi gawat. Namun hal itu berbanding terbalik karena banyak beredar video yang terdengar suara tembakan sebelum akhirnya menjatuhkan korban Randi,” katanya saat berorasi di depan Polres Malang Kota.

Pasca-kejadian tersebut, Karopenmas Mabes Polri Brigjend Pol Dedi Prasetyo menyatakan kasus ini masih dalam tahap penyelidikan. Perlu upaya uji balistik untuk membuktikan atau mengetahui senjata jenis apa yang menyebabkan Randi meninggal dunia. Selain itu, proses otopsi dilakukan untuk mengetahui secara ilmiah penyebab kematian korban.

Terkait hal itu, IMM mengeluarkam lima pernyataan sikap. Pertama memberikan waktu 2 kali 24 jam kepada pihak kepolisian untuk melakukan investigasi dan mencari tahu siapa dalang d ibalik peristiwa tragis ini.

Kedua, melakukan konferensi pers terbuka kepada publik terkait kematian Randi serta mengambil tanggung jawab konstitusional untuk menyelesaikan kasus ini tanpa memberatkan pihak korban.

Ketiga, meminta kepada pimpinan Muhammadiyah untuk membentuk tim investigasi independen untuk melakukan advokasi kasus ini. Dan keempat, pihak kepolisian harus melakukan evaluasi besar-besaran terhadap proses pengendalian massa yang telah memakan banyak korban..

Kelima, jika dalam waktu yang sudah ditentukan tidak diperoleh hasil yang signifikan, maka IMM menuntut kapolri, kapolda Sulawesi Tenggara, kapolres Kota Kendari agar mengundurkan diri dari jabatannya sebagai bentuk pertanggungjawaban.

“Selain itu, dengan aksi damai di depan Polres Malang Kota, kami juga berharap, saat membubarkan massa demonstrasi, kejadian seperti itu tidak terulang lagi atau terjadi di Polres Malang Kota,” ungkap Irsyad kepada kami.

Sementara itu, Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander SIK MH mengatakan pihaknya turut berduka dengan adanya kejadian yang menyebabkan meninggalnya salah satu kader IMM Kota Kendari.

“Saya sampaikan, yakinlah Polri akan melakukan tindakan profesional. Jika nantinya ditemukan indikasi pelakunya adalah Polri, tentu akan ada tindakan tegas. Namun kalau di luar itu, masih dalam tahap investigasi. Dan teman-teman datang ke polres di sini menyampaikan dengan simbol Polri agar Polri profesional dan juga transparan menentukan pelaku, apa modus pelaku, sampai menggungkap tabir penyebab kematian korban,” pungkasnya.

Kanal Terkait