Isu Vaksin Campuran Meroket, Ketua IDI Jombang: Malah Memperkaya Imun Tubuh - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Isu Vaksin Campuran Meroket, Ketua IDI Jombang: Malah Memperkaya Imun Tubuh
Vaksinasi di Pendopo Pemkab Jombang (Foto: Anggit Puji/ Satukanal.com)
BERITA Kanal Artikel Kanal Highlight

Isu Vaksin Campuran Meroket, Ketua IDI Jombang: Malah Memperkaya Imun Tubuh

Satukanal.com, Jombang – Beberapa hari terakhir, ramai perbincangan seputar penggunaan vaksin campuran yang menggabungkan beberapa jenis vaksin. Lalu, seberapa bahayakah jika pencampuran vaksin ini di suntikkan?

Di Indonesia sendiri, vaksin campuran ini nampaknya akan digunakan. Melalui Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dilansir dari Detik.com, mengklaim campuran antara vaksin Covid-19 Sinovac dan Moderna dapat memberikan perlindungan tambahan terhadap varian baru Corona. Dalam hal ini, vaksin Moderna diberikan sebagai dosis ketiga vaksin.

Menkes Budi menyebut, langkah ini telah mendapat persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI). “Saya bisa kirim studinya, ini juga sudah disetujui BPOM dan ITAGI. Mencampur atau combining dua jenis itu (vaksin Covid-19) membuat lebih tahan terhadap kombinasi varian yang ada,” kata Menkes Budi.

Sebelumnya, Menkes Budi menjelaskan rencananya terkait pemberian dosis ketiga vaksin Moderna kepada tenaga kesehatan (nakes), dengan efikasinya yang tinggi. Dirinya berharap vaksin Moderna bisa memberikan perlindungan kepada para nakes dari ancaman virus Corona.

Apabila ada nakes yang belum divaksinasi, Menkes Budi mengimbau untuk segera melakukan vaksinasi dosis pertama dan kedua menggunakan vaksin Sinovac. Kemudian, dosis ketiganya akan diberikan vaksin Moderna.

Adapun alasan yang membuat nakes mendapat prioritas dosis ketiga vaksin Moderna adalah karena jumlahnya yang terbatas. Kemudian, saat ini sudah banyak nakes yang terinfeksi virus Corona meski sudah divaksinasi secara penuh.

Baca Juga :  Angka Kekerasan Terhadap Perempuan di Kota Santri Tinggi

“Karena semua powerful people will ask for this. Yuk, kita beri ke nakes dulu, karena bisa kita lindungi lebih cepat,” ucap Menkes Budi. Ia juga mengatakan, pemberian dosis ketiga vaksin Covid-19 kepada nakes rencananya akan dimulai pada pekan ini.

Menanggapi hal serupa, Ketua IDI (Ikatan Dokter Indonesia) Kabupaten Jombang, dr Iskandar Zulkarnain mengatakan, jika seseorang sudah diberi vaksin dosis 1 dan 2 dari jenis yang sama, maka vaksin ke 3 boleh menggunakan jenis berbeda.

“Rekomendasi WHO setahu saya. Vaksinasi 1 dan 2 dari vaksin yang sama. Vaksinasi ke-3 (misal yang akan diberikan ke nakes) boleh pakai vaksin yang berbeda. Beberapa ahli malah menyarankan vaksinasi ke-3 harus dengan vaksin yang platformnya beda,” ucapnya saat dikonfimasi Satukanal.com.

Disinggung apakah vaksin yang dicampurkan berbahaya? Ia menjawab tidak. Menurutnya, campuran vaksin akan lebih memperkuat imun dalam tubuh. “Menurut WHO dan beberapa ahli malah memperkaya dan memperkuat antibodi yang sudah terbentuk sebelumnya,” ujarnya.

Ia melanjutkan, seperti yang diungkapkan Profesor Matthew Snape, Associate Professor di Paediatrics and Vaccinology di University of Oxford, dan kepala peneliti pada percobaan tersebut yang mengatakan bahwa hasilnya akan terlihat ketika diberikan pada interval 4 minggu.

Baca Juga :  Dari Sentra Kuliner Sampai Pasar Hewan Kota Malang, Kian Merana

“Kedua jadwal campuran menginduksi respon imun yang berada di atas batas normal. Ambang batas yang ditetapkan oleh jadwal standar vaksin Oxford/AstraZeneca,” kutipnya.

Lalu Peter Openshaw, profesor kedokteran eksperimental, Imperial College London juga mengatakan bahwa studi yang dirancang ini telah melaporkan efek samping dari pendekatan ‘campur dan cocokkan’ serta sekarang melaporkan hasil imunologi dari interval dosis satu bulan.

Aspek yang paling menarik adalah bahwa respons antibodi paling baik dengan jadwal Pfizer/BioNTech dua dosis. Sedangkan respons sel terbaik adalah pada mereka yang memiliki AstraZeneca diikuti oleh vaksin Pfizer.

Terkait manakah dari vaksin tersebut yang lebih protektif dalam jangka panjang, masih belum diketahui dan ditentukan. Meski begitu, penelitian ini sementara dapat meyakinkan bahwa menggunakan pendekatan vaksin campuran tidak hanya aman tetapi juga berpotensi memberikan respons imun yang sama baiknya atau lebih baik daripada yang diinduksi oleh rejimen vaksin tunggal.

Selain itu, adanya vaksin campuran ini juga bisa lebih meningkatkan kekebalan imun tubuh serta menambah fleksibilitas dari program vaksinasi yang diadakan. Kemudian, mengenai kumpulan data dari intervasl dosis 12 minggu masih sangat ditunggu hasilnya.

 

 

Pewarta : Anggit Puji
Editor : Adinda

Kanal Terkait