Ini Cerita Dibalik Berdirinya 'Red Army ' Kota Malang - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
BERITA

Ini Cerita Dibalik Berdirinya ‘Red Army ‘ Kota Malang

Satuchannel.com, Kota Malang – Selain mengklarifikasi mengenai polemik yang berkembang terkait Red Army sebelumnya, Peni Suparto juga menceritakan tentang sejarah awal berdirinya komunitas ini, Rabu (5/7). Menurutnya, Latar belakang kemunculan tak bisa dilepaskan dari konflik internal DPC Parta PDIP Malang yang pernah terjadi pada akhir 2012 saat penjaringan Calon Wali Kota jelang pemilihan Wali Kota tahun 2013 lalu.

Peni mengklaim, saat itu dirinya sebagai ketua DPC telah menjalani semua instruksi dari DPP dalam hal penjaringan. Secara aklamasi, suara dari bawah baik dari tingkatan ranting atau cabang telah memilih Bunda Hery Pudjiastuti, yang notabene Istri dari Peni Suparto sendiri, sebagai Calon yang akan diajukan sebagai Wali Kota Malang. Namun dalam perjalanan selanjutnya, secara tiba-tiba rekom dari DPP turun untuk Sri Rahayu.

“DPP memutuskan rekom untuk Sri Rahayu itu tanpa ada demokrasi berjalan. Melihat demokrasi yang tak berjalan di internal PDIP itu secara bersamaaan juga terjadi pemecatan pada ketua, sekretaris dan beberapa pengurus lainya,” ungkap pria yang kerap dipanggi Ebes Inep ini.

Di waktu bersamaan beberapa pengurus DPC dilakukan pemecatan, surat pemecatan juga dilayangkan pada delapan orang anggota yang dianggap menjadi loyalis Peni Suparto sebagai Ketua DPC.

Dari beberapa orang yang dipecat tersebut, ia beranggapan mereka orang – orang yang punya potensi dan mesti memiliki wadah untuk mengembangkan potensi mereka. Pembuatan wadah tersebut juga dianggap penting agar kekuatan yang ada tidak tercerai berai.

“Lalu berdirilah komunitas dengan nama Red Army ini, artinya kelompok merah, dimana maksudnya masih memliki benang merah dengan partai merah yaitu PDI perjuangan. Dan memang orang-orangnya diisi oleh notabene mereja yang dipecat dari PDIP,” jelasnya.

Peni juga menegaskan bila Red Army ini bukanlah sebuah organisasi politik, namun organisasi yang bergerak dibidang kemasyarakatan. Hal itu dibuktikan oleh sejumlah kegiatan yang telah dilakukan seperti bantuan kemanusiaan atau yang lainnya.

“Contoh, waktu Gunung Kelud meletus kami membantu dengan mengirim beras satu truk kesana. Selain itu kami saat ini juga telah membentuk koperasi sendiri yang tujuannya membantu meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujar Pria yang pernah menjabat sebagai Ketua DPC PDIP Malang ini.

Meski demikian, ia mengakui bahwa hingga saat ini status dari komunitas yang akan diganti nama menjadi Garda Pancasila ini memang belum terdaftar sebagai Organisasi Masyarakat (Ormas) yang resmi pada Kementerian Hukum dan HAM. Tapi pihaknya mengaku, setelah launcing yang akan digelar 10 Juni mendatang, komunitas ini akan segera didaftarkan sebagai sebuah Ormas ke Kemenkumham. (Iqb)

Kanal Terkait