SATUKANAL.COM
Informasi Covid-19
BERITA HIGHLIGHT RISET

Infodemi, Banjir Informasi Covid-19 yang Bisa Bahayakan Masyarakat

SATUKANAL, MALANG – Banjir Informasi Covid-19 yang Bisa Bahayakan Masyarakat. Perhatian masyarakat masih terus tercurah pada pandemi Covid-19. Termasuk dari sajian pemberitaan, masih pula didominasi topik Covid-19 selama tiga bulan terakhir.

Indonesia sendiri mengumumkan kasus pertama Covid-19 setelah 61 hari dari awal merebaknya penyakit tersebut di Wuhan, China.

Sebelum itu, gelombang informasi terkait Covid-19 sudah mulai mengalir.

Aliran itu semakin deras, bahkan menjadi banjir di periode awal kasus positif Covid-19 di Idonesia.

Sayangnya, yang beredar di masyarakat bukan hanya informasi resmi dari pemerintah maupun media.

Informasi-informasi yang sumbernya antah berantah pun turut menyebar luas, mulai dari penangkal Covid-19 dan lain-lain.

Pengamat Komunikasi Bencana Universitas Brawijaya (UB) Malang, Tamitiadini menyebut, saat ini masyarakat tengah menghadapi infodemi.

Infodemi adalah situasi persebaran informasi yang terus menerus tentang suatu topik, dalam hal ini yakni pandemi Covid-19.

Tamitiadini mengungkapkan soal bahaya infodemi ini bagi masyarakat.

“Infodemi menyulitkan masyarakat mengambil keputusan. Banyaknya informasi membuat adanya pembauran antara informasi yang benar dan yang tidak benar,” tuturnya.

Perempuan yang akrab disapa Dian ini menambahkan, pandemi global Covid-19 berakibat pada peningkatan aktivitas pencarian informasi secara daring.

Terlebih di Indonesia dan juga negara-negara lain ada kebijakan untuk melakukan aktivitas di rumah saja, mulai dari bekerja, belajar, hingga beribadah.

Banyaknya waktu di rumah, lanjutnya, secara otomatis membuat kesempatan dan penggunaan media sosial juga ikut meningkat tajam.

“Dari sini, muncul dua sisi yakni masyarakat tidak hanya menerima informasi, namun juga aktif menyebar informasi,” ujarnya.

Baca Juga :  Satu Pedagang Positif Covid-19, Pasar Setono Betek Blok D Ditutup Sementara

Informasi yang tersebar itu, ada yang terbukti secara ilmiah. Tetapi tidak jarang justru informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

“Inilah yang mengakibatkan sulitnya seseorang dalam mengambil keputusan,” paparnya.

Dia bahkan menyebut bahwa infodemi menyebar lebih cepat daripada persebaran Covid-19.

Ditambah lagi, terkadang infodemi juga melibatkan kepentingan-kepentingan tertentu dari pembuat berita atau informasi.

“Adanya ketidakseimbangan informasi yang dibutuhkan dan yang disajikan ini, mendorong infodemi untuk tumbuh subur dalam kasus persebaran Covid-19 di Indonesia,” sorotnya.

Tak hanya berbahaya pada tekanan psikis masyarakat, infodemi juga bisa berakibat fatal pada kesehatan.

Dia mencontohkan, soal munculnya pesan berantai yang menyebut bawang putih dapat mengobati Covid-19.

Yang dia sayangkan, pendekatan pesan yang sifatnya anti-sains seperti ini tidak hanya diproduksi oleh masyarakat awam. Melainkan juga oleh pemerintah dan para pejabat publik.

“Ini bisa dilihat dari pernyataan dan respons yang diberikan oleh pemerintah pada awal konfirmasi kasus Covid-19, terkesan cenderung mengabaikan pendekatan science communication,” urainya.

Lebih lanjut, Dian menyebut adanya infodemi ini menjadi tantangan bagi masyarakat untuk secara mandiri mengumpulkan pengetahuan tentang Covid-19.

“Masyarakat terbiasa mengonsumsi informasi berdasarkan kesepakatan social mereka, apalagi jika tidak disertai kemampuan yang mumpuni untuk memahami pesan,” sebutnya.

Menurut Dian, masyarakat memaknai aspek risiko dengan cara yang berbeda dan menciptakan standar pengetahuan berdasarkan informasi dan pengalaman yang mereka peroleh.

Baca Juga :  Polres Kediri Bentuk Tim Pemburu Pelanggar Protokol Kesehatan

Dalam konteks inilah, infodemi menyebar lebih cepat dari pandemi itu sendiri.

Dian pun juga menguraikan sejumlah upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah infodemi berkembang lebih lanjut.

Pertama, yakni penguatan aspek kepercayaan terhadap pemerintah.

Hal ini menjadi penting untuk menangani Covid-19, karena dengan informasi yang terbuka dan aktual dari lembaga yang kredibel bisa membuat masyarakat terliterasi.

Kedua, konsistensi dalam penyampaian informasi, baik verbal maupun non verbal.

“Gesture yang konsisten menjadi penting untuk mencegah keraguan masyarakat,” tegasnya.

Ketiga, koordinasi antarpeneliti, akademisi, komunitas, industri, hingga figur publik yang juga penting untuk penyampaian informasi yang bertanggung jawab.

“Sedangkan untuk warga masyarakat, dibutuhkan kendali dalam bijak bermedia sosial,” tambahnya.

Dian menekankan, dengan mengkonsumsi informasi secara sadar, diharapkan masyarakat tidak mudah menyebar informasi sebelum memahami dengan benar apa yang disampaikan.

“Ini juga penting disadari, tidak perlu menjadi yang pertama menerima dan menyebar informasi,” tukasnya.

Selama ini, Dian menyoroti fenomena infodemi tidak hanya muncul saat wabah Covid-19.

Namun, pada peristiwa ataupun kasus krisis dan kebencanaan lain baik di masa lalu atau masa yang akan datang masih akan sangat memungkinkan.

Hal ini dia pandang sebagai konsekuensi majunya teknologi komunikasi.

“Kembali lagi, untuk menghadapi infodemi ini sangat dibutuhkan kebijaksanaan dan kemampuan memanfaatkan gawai, serta menyaring informasi yang diterima dan disebarkan,” tutup dosen progam studi Ilmu Komunikasi UB Malang ini.

Redaktur: N Ratri

Kanal Terkait