SATUKANAL.COM
BERITA HIGHLIGHT RISET

Industri Perhotelan dan Masuknya Indonesia dalam 4 Negara Produsen Sampah Plastik di ASEAN

SATUKANAL – Industri perhotelan memiliki peran besar dalam produksi sampah plastik. Terlebih di lokasi-lokasi populer tujuan wisata, seperti beberapa kawasan di Indonesia.

Ocean Conservancy menerbitkan sebuah laporan pada 2017 lalu yang menyebutkan empat negara ASEAN masuk jajaran pencemar sampah plastik teraatas di dunia. Empat negara tersebut yakni Indonesia, Thailand, Vietnam dan Filipina.

Usai munculnya kajian itu, keempat negara tersebut telah mengambil upaya untuk mengatasi masalah ini. Namun, tingkat keberhasilannya berbeda-beda. Beberapa negara memiliki progres lebih cepat daripada yang lain.

Terutama, Thailand yang telah secara efektif menegakkan kebijakan baru dengan melarang tiga jenis plastik sekali pakai sejak 2019 lalu. Pemerintah Thailand juga membuat kebijakan Plastic Waste Management Road Map 2018-2030.

Peta jalan pengelolaan sampah plastik itu disusun untuk mengakhiri penggunaan plastik sekali pakai dan sampah plastik bekas sebagai sumber bahan bakar.

Komitmen yang kuat ini dapat dikaitkan dengan serangkaian insiden di Thailand Selatan yang telah menyebabkan negara yang dulu “kecanduan plastik” sekarang menjadi contoh bagi negara-negara ASEAN lainnya.

Pada bulan Februari 2018, sepetak sampah plastik yang panjangnya hampir 10 kilometer terlihat mengambang di lepas pantai Teluk Thailand di sisi selatan Provinsi Chumpon.

Tiga bulan berselang, peristiwa lain yang membuka mata terjadi di Provinsi Songkhla bagian selatan. Di sana, seekor paus mati ditemukan menelan 80 kantong plastik. Insiden-insiden ini membuat orang Thailand lebih peduli.

Sementara untuk Indonesia, pemerintah telah mengumumkan larangan nasional penggunaan plastik sekali pakai. Kebijakan ini dinilai positif, meskipun masih jauh dalam merealisasikan pengurangan sampah plastik.

Pencemaran akibat sampah plastik makin mengkhawatirkan dalam satu dekade terakhir. Misalnya di Great Pacific, ada kumpulan sampah plastik dan mengambang dengan dua tumpukan besar sampah yang terus tumbuh.

Jumlah plastik diperkirakan 100 kilogram per kilometer persegi. Tumpukan tersebut saat ini mencakup luasan sekitar 1,6 juta meter persegi. The United Nations Environment Program (UNEP) mencatat, sekitar 10 persen sampah plastik berakhir di lautan dunia.

Negara-negara ASEAN tidak boleh hanya bergantung pada kebijakan pemerintah untuk menyelesaikan krisis plastik. Sektor perusahaan juga harus bertanggung jawab dan mengambil tindakan aktif melawan pencemaran lingkungan.

Perusahaan-perusahaan itu bisa membantu pemerintah dengan membuat kebijakan keuangan. Misalnya menyediakan alokasi untuk upaya pembersihan atau kampanye kesadaran penggunaan plastik.

Dibandingkan kebijakan pemerintah, tren yang dilakukan sektor swasta umumnya memiliki kapasitas jangkauan lebih luas serta membuat dampak positif yang lebih besar.

Salah satu contohnya adalah sektor perhotelan. Tahun lalu, tujuan wisata populer, Bali harus menyatakan “darurat sampah” karena sejumlah besar plastik tercemar di bentangan pantai sepanjang 6 kilometer.

Akibatnya, sekarang ada upaya global untuk secara drastis mengurangi limbah plastik di hotel. International Tourism Advisory Group, EarthCheck memperkenalkan skema sertifikasi untuk hotel yang memenuhi syarat ramah lingkungan.

Pada 2017, hotel The Banyan Tree Samui melaporkan bahwa 213.314 botol plastik dibagikan kepada para tamu, 42.150 kantong plastik digunakan untuk mengangkut sampah dan 176.880 meter bungkus plastik digunakan untuk mengemas produk makanan.

Sektor perhotelan di ASEAN memiliki peluang untuk perpindahan menuju layanan bebas plastik sebelum kebijakan pemerintah memaksa mereka untuk mencari alternatif.

Dengan semakin banyak orang yang memilih layanan yang ramah lingkungan, juga merupakan kepentingan bisnis untuk bertindak atas ancaman ini.

Pewarta: (Mg) Mochamad Hari Romansyah
Redaktur: N Ratri
Sumber: theaseanpost.com

Kanal Terkait