Hidangan Orem-Orem, Perwujudan Ucapan Syukur Warga Malang - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Hidangan Orem-Orem, Perwujudan Ucapan Syukur Warga Malang
BERITA HIGHLIGHT STRAIGHT NEWS

Hidangan Orem-Orem, Perwujudan Ucapan Syukur Warga Malang

SATUKANAL.com, MALANG– Selain bakso, salah satu kuliner Malang yang patut dicoba yakni orem-orem. Hidangan ini merupakan kuliner asli Malang yang memberikan ruang tersendiri bagi warga daerah itu. Karena keberadaannya, warga Malang bisa lebih menghargai sebuah kehidupan.

Masakan yang hanya ditemui di Malang ini berbahan dasar irisan tempe goreng, ayam, lalu dimasak dengan kuah santan yang kental. Biasanya, orem-orem akan disajikan dengan ketupat, diberi tauge dan kecap manis serta sambal.

Uniknya, makanan dengan cita rasa mirip sayur lodeh ini dimasak menggunakan bahan bakar arang. Hal ini dilakukan untuk membuat aroma bumbu dasar yang telah dibuat tidak berubah. Orem-orem juga menggunakan bumbu-bumbu lokal serta tempe khas Malang.

Sejak 1980-an masakan orem-orem mulai menjamur di Kota Malang dan dapat dibeli di warung tradisional bahkan pedagang kaki lima. Meski begitu, orem-orem bukan hanya menjadi makanan khas Malang, tetapi juga menjadi identitas warga Malang.

Baca Juga :  5 Kegiatan Halu Anak Kelahiran 90 an Waktu SD, Kalian Juga?

Orem-orem hadir secara istimewa sebagai kearifan lokal Malang. Karena, makanan ini dulunya dimasak tidak untuk sekedar dinikmati atau diperjualbelikan. Namun, hanya disajikan dalam acara hajatan seperti pernikahan dan syukuran di masyarakat Kota Malang. Orem-orem merupakan wujud syukur warga malang atas limpahan rezeki yang telah didapatkan.

Arif Budi Wurianto, Dosen Universitas Muhammadiyah Malang dalam artikel peneliannya yang berjudul “Aspek Budaya pada Tradisi Kuliner Tradisional di Kota Malang sebagai Identitas Sosial Budaya” tahun 2008 menyebut bahwa orem-orem tetap dilestarikan dalam banyak tradisi siklus kehidupan. Ia menyebut, beberapa penyuguhan kuliner orem-orem biasa dilakukan pada upacara 3 bulanan (telonan masuk 4 bulan mengandung) dan 7 bulanan atau pitonan masuk usia 8 bulan mengandung.

Arif juga menyebut orem-orem akan disajikan pada peristiwa kelahiran (5 hari setelah lahir), khitanan, upacara adeg terop (mendirikan tenda pernikahan), perkawinan serta upacara kematian atau pemakaman. “Daerah di Malang yang masih menerapkan hal ini yaitu Dusun Pandean, Kelurahan Purwantoro dan Dusun Magetan, Kelurahan jatimulyo,” tulis Arif.

Baca Juga :  'Boso Walikan' Malang, Dari Era Penjajah Hingga Millenial

Orem-orem sendiri mempunyai filosofi tentang makna kehidupan, menurut Arief. “Tidak hanya terus mengejar materi belaka, perwujudan rasa syukur juga harus senantiasa diselipkan dalam sebuah kehidupan agar menciptakan sebuah keseimbangan”, tulis Arief dalam artikelnya.

Apalagi di era modern saat ini, makanan seakan hanya menjadi sebuah unsur yang dibutuhkan manusia. Sulit jika ingin menemukan makanan-makanan yang menjadi manifestasi ucapan rasa sykur seperti orem-orem.

Kini, untuk menikmati sepiring orem-rem lengkap dengan ketupat dan pelengkapnya tak perlu susah payah menunggu hingga ada yang menggelar acara hajatan. Di malang sendiri sudah banyak yang menjajakan  dan menjual kuliner orem-orem tersenut oleh para pedagang kaki lima.

 

 

 

Pewarta: Adinda
Editor: Redaksi Satukanal

 

 

Kanal Terkait