Herman Aga, Sosok Dibalik Komunitas Pegiat Sabers Pungli - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Herman Aga, Sosok Dibalik Komunitas Pegiat Sabers Pungli
Herman Aga, bagian dari komunitas pegiat lingkungan Sabers Pungli (Foto: Wildan Agta/ Satukanal.com)
BERITA Kanal Feature Kanal Highlight

Herman Aga, Sosok Dibalik Komunitas Pegiat Sabers Pungli

Sampah kasur hingga bangkai hewan jadi pemandangan biasa kala nyemplung mulai dilakukan oleh para pegiat komunitas Sabers Pungli ini. Seperti yang diungkapkan Herman Aga, bahwa komunitas Sabers Pungli terbentuk dari keprihatinan masyarakat akan luapan sampah sungai.

Satukanal.com, Batu – Wildan Agta

Suasana tenang begitu terasa ketika memasuki gang yang berada di Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu. Nampak sangat jarang warga yang berlalu lalang di jalan sempit itu. Rumah dengan pagar warna coklat terlihat masih tertutup. Kediaman dengan gaya sederhana dan beberapa lukisan indah terpajang di dinding. Beberapa tanaman rapi tertata di rumah yang terdominasi warna putih tersebut.

Seorang pria datang menyambut dengan ramah. “Silahkan mas, saya baru mandi ini tadi,” ucapnya sambil tertawa. Dialah Herman Aga, Koordinator komunitas pegiat lingkungan Sabers Pungli (Sapu Bersih Sampah Nyemplung Kali).

“Awalnya kami melihat permasalahan yang sangat kompleks di sungai kita. Yang hanyut tidak main-main, ada kasur, lemari bahkan bangkai binatang,” terangnya. Itulah ide awal terbentuknya perkumpulan yang sepakat tidak memiliki struktur organisasi ini.

Alasan keputusan tersebut ialah kesetaraan anggota dan masalah yang tidak bertumpu pada individu, namun ke seluruh masyarakat. Pada akhirnya, bertepatan 3 September 2017 terbentuklah Sabers Pungli dengan 9 orang sebagai koordinatornya.

Gerakan utama yang diadakan adalah pembersihan sekitar aliran sungai Brantas setiap minggunya. ”Tanggapan warga sekitar yang kami datangi selalu positif. Mereka terasa terbantu untuk merawat lingkungan sekitar,” kata pria berambut gondrong itu. Hal lain yang dilakukan adalah pemilahan sampah berdasarkan jenis untuk  pemanfaatan.

Baca Juga :  Klenteng Ditutup, Umat Buddha Beribadah Dari Rumah Masing-masing

Kota Batu yang menjadi kota wisata ditengarai memiliki dampak yang positif dan negatif. Dampak positifnya ialah pendapatan warga Batu dapat terbantu dari segi ekonomi. Sedangkan dampak negatif yang didapat adalah banyaknya sampah yang ada di tempat-tempat wisata, jalan maupun sungai sekitar.

Setiap hari tercatat kurang lebih 60 ton sampah per harinya yang dihasilkan dari para wisatawan seperti yang diungkapkan lelaki berbaju hitam saat ditemui ini. Masih banyak pelancong yang membuang sampah dengan mudah dari jendela bis ke sungai. Area destinasi wisata juga kerap di penuhi bungkus bekas makanan.

Kurang sadarnya masyarakat sekitar akan bahaya sampah yang dibuang sembarangan jadi masalah global. Belum lagi prilaku sehari-hari manusia dengan kebiasaan membuang sampah ke sungai. “Karna sudah menjadi kebiasaan umum, mereka jadi tak merasa bersalah” ucapnya.

Acara “nyemplung kali” yang diselenggarakan setiap minggu diharapkan bisa jadi penyadar untuk masyarakat menjaga lingkungan. Banyak desa sudah menerapkan beberapa sistem kebersihan diawali dari datangnya Sabers Pungli.

Ketika kegiatan turun lapangan, paling tidak 10 hingga 250 orang turut serta membantu. Bahkan dari kalangan artis, seniman, komunitas dan Walikota pun pernah merasakan bagaimana mengerikannya sampah sungai aliran Brantas.

Baca Juga :  Terjaring Razia PPKM Dua Kali, Surat Usaha Bakal Ditarik

Tidak hanya sekadar peduli lingkungan sosial, tapi dari komunitas ini kita bisa belajar nilai-nilai yang sudah ditanamkan sejak jaman leluhur. “Waktu di lapangan kita tidak saling mengenal tapi kita bisa gotong royong. Itulah ciri khas bangsa ini sejak lama, jika semua bekerja sama pasti akan mudah,” ungkapnya.

Para relawan yang ada di komunitas ini meliputi seluruh Indonesia bahkan luar negeri. Hal itu bisa dilakukan karena tidak hanya bantuan tenaga yang bisa disumbangkan. Siapapun bisa memberi bantuan lain apabila tidak bisa langsung turun ke sungai seperti yang diungkapkan lelaki kelahiran Batu itu.

Sempat vakum karena larangan berkumpul. Mereka merubah kegiatannya dengan melakukan kegiatan sosial. Salah satu contohnya seperti, bagi-bagi sembako, masker dan hand sanitizer. Rencananya turun lapangan akan dilaksanakan lagi mulai minggu depan.

Harapannya kedepan, yaitu bisa mengembangkan dari hanya sungai Brantas di Kota Batu berlanjut ke Jawa Timur dan seluruh Indonesia. “Patokan keberhasilan kami adalah ketika kami bubar. Karena itu menandakan sungai yang sudah terawat oleh seluruh masyarakat,” tutup lelaki kelahiran 6 Agustus 1973 tersebut.

Pewarta : Wildan Agta
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait