Hari Peduli Autisme Sedunia : Pentingnya Pendampingan dan Stop Bullying! - SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Hari Peduli Autisme Sedunia : Pentingnya Pendampingan dan Stop Bullying!
Kanal Straight

Hari Peduli Autisme Sedunia : Pentingnya Pendampingan dan Stop Bullying!

Satukanal.com, Nasional – Apakah dari kalian sudah mengetahui bahwa setiap tanggal 2 April diperingati sebagai Hari Peduli Autisme Sedunia?

Autisme sendiri merupakan gangguan perilaku yang dialami seseorang terkait dalam tiga domain utama, yaitu sosial, komunikasi, dan tingkah laku yang berulang.

Oleh sebab itu, Perlu kita ketahui bahwa autisme dapat terjadi pada siapa saja. Penyandang autisme juga tidak mengenal adanya perbedaan latar belakang sosial, ekonomi, budaya dan etnis.

Merujuk pada Incidence dan Prevalence ASD (Autism Spectrum Disorder), terdapat 2 kasus baru per 1000 penduduk per tahun serta 10 kasus per 1000 penduduk.

Sedangkan jumlah penduduk Indonesia sekitar 271.3 juta, dengan laju pertumbuhan penduduk 1,14%. Maka diperkirakan penyandang ASD di Indonesia yaitu 2,4 juta orang dengan pertambahan penyandang baru 500 orang/tahun.

Untuk mengenal lebih jauh tentang autisme, berikut adalah beberapa penjelasan yang telah dirangkum Satukanal.com.

Gejala Autisme

Apabila dari kalian memiliki anak yang belum mencapai usia 3 tahun, Namun secara aktif menghindari kontak mata, bahkan oleh Orang tuanya sekalipun.

Seperti, Menghindari kontak fisik, dengan membengkokkan punggungnya atau tidak bereaksi saat digendong,  hal tersebut merupakan salah satu ciri umum gejala autisme pada anak.

Para penyandang autisme sebagian kecil sempat berkembang dengan normal, namun sebelum mencapai umur 3 tahun perkembangannya terhenti, kemudian timbul kemunduran secara bertahap, ada yang pada usia 18 bulan dan baru memperlihatkan gejala-gejala autisme.

Beberapa gejala autisme akan tampak makin jelas setelah anak mencapai usia 3 tahun, yakni berupa :

  • Gangguan komunikasi verbal maupun non-verbal (terlambat bicara, banyak meniru)
  • Gangguan dalam berperilaku (Pada anak autistik terlihat adanya perilaku yang berlebihan dan kekurangan secara motorik)
  • Gangguan dalam interaksi sosial (tidak menengok jika dipanggil, menjauh jika diajak main dan justru asyik main sendiri)
  • Gangguan dalam Persepsi Sensoris ( Mencium atau menjilat benda apa saja, tidak menyukai rabaan, bila mendengar suara keras langsung menutup telinga)
  • Gangguan dalam Emosi (kurangnya rasa empati, tertawa sendiri, sering mengamuk)
Baca Juga :  Piala Sudirman 2021, Rusia Lawan Pertama Indonesia

Sementara itu, terdapat satu ciri yang umum pada anak penyandang autisme yaitu, kegigihannya terhadap hal yang sama secara terus–menerus yang jika berubah sedikit saja akan menyebabkan mereka bingung, bahkan mengamuk.

Hal ini disebabkan karena ketidakmampuan mereka untuk memahami atau mengatasi situasi yang baru. Sekitar 40% penyandang autisme tidak suka pada suara-suara atau frekuensi tertentu, sehingga seringkali mengalami ledakan emosi ketika mendengar suara tangisan bayi atau sepeda motor.

Sebaliknya, beberapa anak penyandang autisme seperti tampak tuli karena tidak berespons terhadap berbagai suara. Hal tersebut dikarenakan sebagian anak penyandang autisme mengalami gangguan terhadap satu atau beberapa inderanya.

Ketika anak memiliki gejala autisme, yang harus orang tua lakukan adalah menerima dulu kondisi bahwa sang anak menyandang autisme dan butuh perhatian ekstra dari orangtuanya.

Dukungan dan perhatian orang tua, masyarakat dan lingkungan terdekat anak sangat diperlukan karena biasanya anak penyandang autisme sering dianggap anak aneh, ada pula yang dianggap anak nakal. Sehingga mereka mudah sekali mendapatkan bullying atau diskriminasi lainnya di lingkungannya.

Baca Juga :  Jaenal Aripin Didiskualifikasi di Ajang Paralimpiade Tokyo 2020

Gangguan-gangguan berupa cemoohan, pelecehan fisik, sampai stigmatisasi yang menghambat mereka mengakses beragam kesempatan bukanlah hal baru yang terjadi dalam kehidupannya.

Terkait dengan persoalan tersebut, Kementerian Kesehatan melakukan beberapa upaya untuk mencegah dan mengendalikan Gangguan Spektrum Autisme (GSA) adalah di antaranya :

  1. Melakukan upaya promotif dan preventif melalui media Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE), sosialisasi, penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat agar dapat melakukan deteksi dini Gangguan Spektrum Autisme.
  2. Melaksanakan pelatihan keterampilan kecakapan hidup bagi guru dan remaja serta pelatihan pola asuh bagi kader dan orang tua
  3. Memberdayakan peran keluarga, guru dan masyarakat untuk mencegah dan mendeteksi dini tanda-tanda Gangguan Spektrum Autisme untuk dapat segera ditindaklanjuti.

Perlu diketahui bahwa perlakuan bullying yang dialami siapapun bahkan dialami oleh penyandang autisme dapat berdampak buruk hingga menimbulkan trauma berkepanjangan. Cara mengatasi trauma pun juga tidak gampang, karena butuh waktu lama untuk terbebas dari trauma tersebut.

Tujuan penetapan peringatan Hari Peduli Autisme oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, salah satunya untuk mengingatkan perlunya kesadaran dan dukungan dari masyarakat sekitar atas hak orang dengan autisme.

Agar para penyandang autisme mampu untuk menentukan arah perkembangan dirinya sendiri, mandiri dan otonomi, mengakses pendidikan dan pekerjaan dengan berdasar kesetaraan.

 

 

 

 

 

Pewarta : Naviska
Editor : Redaksi Satukanal

Kanal Terkait