Hari Pahlawan 10 November 2020, 6 Tokoh Indonesia Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional | SATUKANAL.COM
SATUKANAL.COM
Pahlawan Nasional
BERITA HIGHLIGHT STRAIGHT NEWS

Hari Pahlawan 10 November 2020, 6 Tokoh Indonesia Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

SATUKANAL.com, NASIONAL– Gelar Pahlawan Nasional Indonesia diberikan oleh pemerintah Republik Indonesia atas tindakan yang dianggap heroik yang didefinisikan sebagai perbuatan nyata untuk dapat dikenang serta diteladani sepanjang masa bagi warga masyarakat lainnya. Gelar ini juga akan diberikan kepada mereka yang dianggap berjasa sangat luar biasa bagi kepentingan bangsa dan negara.

Pahlawan nasional juga merupakan penghargaan tertinggi di Indonesia yang diberikan oleh Pemerintah RI. Sehingga untuk dapat memperolehnya, seseorang harus berjasa bagi kepentingan bangsa dan negara.

Untuk menjadi Pahlawan Nasional, terdapat persyaratan yang diatur dalam UU No. 20 Tahun 2009 tentang gelar, tanda jasa dan tanda kehormatan. Persyaratan tersebut meliputi persyaratan umum dan khusus yang terkait pemberian gelar.

Sama halnya dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini hari pahlawanan Indonesia di peringati pada tanggal 10 November yaitu hari pahlawan ke 75. Peringatan Hari Pahlawan sendiri ditetapkan oleh pemerintah melalui keputusan tanggal 31 oktober 1946 No.9/UM.

Dilansir dari website Kemensos RI, pada 10 November 2020 ada enam tokoh negara yang mendapatkan gelar Pahlawan Nasional pada peringatan Hari Pahlawan 2020. Penganugerahan dan pemilihan calon pahlawan nasional ini telah melalui pertimbangan dari Kementerian Sosial dan Dewan Gelar, Tanda jasa juga Tanda Kehormatan.

Dua diantaranya merupakan tokoh pahlawan nasional pertama dari dua provinsi di Indonesia Timur yaitu Papua Barat dan dan Maluku Utara.

Berikut daftar nama tokoh yang mendapatkan gelar pahlawan nasional tersebut, antara lain:

  1. Sultan Baabullah (Provinsi Maluku Utara)

Sultan Baabullah merupakan Sultan ketujuh dari Kesultanan Ternate yang memerintah dari tahun 1570-1583. Sultan Baabullah mengalahkan tentara Portugis serta membawa Maluku ke puncak Kejayaannya melalui perdagangan rempah dan produk hutan pada akhir abad ke-16.

  1. Machmud Singgerei Rumagesan (Provinsi Papua Barat)

Machmud Singgerei Rumagesan merupakan Raja dari wilayah yang saat ini menjadi Kabupaten Fakfak. Beliau

Mendirikan Gerakan Tjendrawasih Revolusi Irian Barat untuk melawan kolonial Belanda. Gerakan ini meminta pemerintah Indonesia untuk membentuk pemerintah lokal di Papua yang dipimpin oleh penduduk asli Papua.

Gerakan ini sebagai perlawanan kepada Belanda yang ingin menduduki wilayah tersebut setelah Indonesia merdeka 1945.

  1. Jenderal Polisi (Purn) Raden Said Soekanto

Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo pernah menjadi Kepala Polisi Republik Indonesia pada tahun 1945-1959. Beliau mendapat mandat dari Presiden Soekarno untuk membentuk institusi kepolisian.

Presiden Soekarno pernah menganugerahkan Bintang Mahaputra kepada beliau atas jasa serta pengabdiannya pada tahun 1963.

  1. Arnold Mononutu (Provinsi Sulawesi Utara)

Arnold mononutu adalah tokoh pergerakan yang pernah menjadi Menteri Penerangan RI pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Beliau juga sempat menjadi Duta Besar Indonesia yang pertama untuk Tiongkok pada tahun 1953.

Pada masa pasca kemerdekaan, beliau ikut mendukung penyatuan Negara Indonesia Timur yang dibentuk oleh Belanda ke dalam satu negara yaitu Indonesia.

  1. Sultan Mohammad Amin Nasution (Provinsi Sumatera Utara)

Sultan Mohammad Amin Nasution atau SM Amin memiliki profesi sebagai pengacara yang kerap membantu pahlawan kemerdekaan saat tertangkap oleh Pmerintah Hindia Belanda.

Beliau juga terlibat dalam Sumpah Pemuda sebagai salah satu panitia kongres. SM Amin juga pernah menjadi Gubernur Sumatera dan kemudian juga menjadi Gubernur pertama di Provinsi Riau.

  1. Raden Mattaher Bin Pangeran Kusen Bin Adi (Provinsi Jambi)

Beliau merupakan sosok panglima perang yang berperan penting dalam penumpasan kolonial Belanda di jambi pada abad ke 19.

Tahun 1885, beliau emnenggelamkan kapal perang Belanda di sungai Kumpeh Muaro Jambi bersama dengan paman buyutnya. Kemudian, namanya diabadikan menjadi nama rumah sakit di Kecamatan Telanaipura, Provinsi Jambi.

 

Pewarta: Adinda A.I.U
Editor: Redaksi Satukanal

Kanal Terkait